Pendidikan

Jumlah Siswa Terus Menyusut, Sekolah Swasta di Kota Cirebon Semakin Terpuruk

 

kacenews.id-CIREBON-Yayasan Pendidikan Budaya yang menaungi SD dan SMP Budaya di Kota Cirebon meminta kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait agar lebih memperhatikan sekolah-sekolah swasta kecil yang saat ini dinilai semakin terpuruk

Hal ini berkaca pada  SMP Widya Utama (Widut) Kota Cirebon yang belum lama ini sudah dinyatakan tidak beroperasi (tutup). Sehingga legalitas ijazahnya kini menjadi kewenangan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cirebon.

Ketiadaan siswa menjadi salah satu faktor sudah tidak adanya kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah swasta yang berdiri sekitar  1985 tersebut.

Kondisi  itu pun menimbulkan kekhawatiran sejumlah pengelola sekolah swasta di wilayah Kota Cirebon yang hingga saat ini kondisinya semakin terpuruk.

Terlebih menjelang Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027, sekolah swasta saat ini tengah berjuang untuk mendapatkan jumlah siswa yang diinginkan.

Ketua Yayasan Pendidikan Budaya Kota Cirebon, Agus Sukmawanto mengungkapkan, berbeda dengan negeri, sekolah swasta sudah mulai membuka pendaftaran siswa baru.

“Tolonglah pemerintah itu hapus PPDB atau SPMB karena merugikan sekolah swasta. Saya merasakan sekolah Budaya, Cokro, atau 27 kan itu sekolah-sekolah lama di Kota Cirebon. Kalau bisa jangan dibinasakan, dibantu mencari solusinya yang terbaik. (Sistem) Zonasi itu merusak (mutu) pendidikan,”tuturnya.

Menurutnya, jika SDM ingin bagus, maka per kelas setidaknya diisi oleh 25 siswa saja, dengan melihat dari jumlah penduduk berapa yang wajib belajar atau yang masuk sekolah di kota maupun di daerah.

“Saya seorang yang peduli dengan pendidikan, anak yang mau sekolah itu harus mencari sumber daya yang bagus, bukan sekelas isinya 30 atau 40 siswa. Makanya pendidikan di Indonesia banyak terjadi bullying di sekolah-sekolah yang siswanya banyak,” katanya.

Ia mengemukakan, dengan kondisi sekolah-sekolah swasta yang kecil, sudah selayaknya pemerintah pusat hingga daerah melakukan inspeksi mendadak  (sidak), sehingga bukan laporan data atau statistik saja.

“Harus datangi sekolah-sekolah yang kecil, berapa siswa di sekolah swasta?, berapa sekolah swasta?, mana sekolah yang rusak atau kondisi sekolahnya bagaimana?. Tidak semua sekolah swasta memungut, di Budaya ini tidak ada uang gedung,” katanya.

Ia menyebutkan, sebelum adanya dana BOS, jumlah siswa lebih dari 400. Namun saat ini, jumlah total siswa SD Budaya sekitar 50 dan SMP Budaya hanya sekitar 20 siswa.

“Saya berharap adanya bantuan dan pembinaan ke sekolah-sekolah swasta yang kecil,” ucapnya.(Jak) 

 

 

Related Articles

Back to top button