Ragam

Puasa Aktif Bekerja Vs Banyak Tidur, Bagaimana Pahalanya?

Puasa, Aktif ,Bekerja , Pahala,
Tidur,

Ahmad Rifqi, M.Pd

BANYAK orang bertanya-tanya, bagaimana nilai puasa bagi mereka yang harus membanting
tulang di bawah terik matahari atau memeras otak di depan layar hingga larut malam?

Apakah rasa lelah yang menghimpit raga itu akan melunturkan kualitas pahala, atau justru menjadi nilai tambah di mata Tuhan? Jawabannya jelas; dalam pandangan agama, bekerja mencari nafkah yang halal bukanlah penghalang ibadah, melainkan ibadah itu sendiri. Setiap tetes keringat seorang pekerja adalah bentuk pengabdian yang nyata.

Secara ilmiah dalam kaidah fiqh, terdapat prinsip Al-Ajru Bi Qodrit Ta’abi yang berarti pahala itu berbanding lurus dengan tingkat kesulitan yang dihadapi. Artinya, seorang buruh yang bekerja keras atau kurir yang menembus kemacetan jalanan sambil berpuasa, secara logis memiliki nilai
perjuangan yang lebih besar dibandingkan mereka yang berpuasa dalam kenyamanan ruangan berpendingin udara atau bahkan lebih banyak tidur. Lelahnya fisik bagi para pekerja ini adalah saksi autentik akan keteguhan iman mereka.

Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Ath-Thabrani memberikan apresiasi besar bagi para pejuang nafkah. Beliau bersabda bahwa siapa pun yang di sore hari merasa lelah karena bekerja dengan tangannya sendiri, maka pada saat itu pula ia mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

Jika ampunan ini datang di bulan Ramadan yang penuh ampunan, maka bayangkan betapa
istimewanya posisi seorang pekerja yang tetap jujur dan amanah di tengah rasa haus dan lapar.

Bekerja di bulan suci adalah bentuk sinergi antara kewajiban kepada Tuhan dan tanggung jawab kepada sesama manusia. Kita perlu ingat bahwa menghidupi keluarga adalah perintah wajib yang kedudukannya sangat mulia. Nabi Muhammad bahkan pernah menegaskan bahwa langkah
kaki seseorang yang keluar rumah untuk mencari nafkah demi menjaga kehormatan diri dan keluarganya adalah langkah di jalan Allah atau fi sabilillah. Jadi, Ramadan bukan alasan untuk menurunkan produktivitas.

Di sela kesibukan kerja, bulan Ramadan juga menawarkan keberkahan melalui ibadah sunah
yang memiliki landasan ilmiah dan spiritual, seperti sahur. Secara medis, sahur adalah suplai energi, namun secara syariat, Nabi menekankan adanya keberkahan di dalamnya.

Mengakhirkan waktu sahur bukan hanya soal strategi fisik agar tidak cepat lapar, melainkan bentuk ketaatan yang memberikan kekuatan mental bagi pekerja untuk menghadapi beban tugas di siang hari.
Begitu pula dengan sunah menyegerakan berbuka.

Bagi pekerja yang mungkin masih berada di
jalan atau masih menyelesaikan laporan saat azan berkumandang, menyegerakan berbuka meski hanya dengan segelas air adalah tanda ketaatan. Hal ini mengajarkan kedisiplinan dan rasa syukur.

Kita diajarkan untuk tahu kapan harus bekerja keras dan kapan harus berhenti sejenak untuk memenuhi hak tubuh sesuai aturan agama.

Peluang amal lain bagi para pekerja adalah menyediakan makanan untuk orang berbuka
(ith’amuth tho’am). Di tengah kesibukan profesi, menyisihkan sedikit rezeki untuk takjil rekan kantor atau mereka yang membutuhkan adalah investasi akhirat yang cerdas.

Rasulullah menjanjikan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. Ini adalah cara melipatgandakan pahala di tengah keterbatasan waktu kita bekerja.

Namun, puasa bagi pekerja juga menuntut disiplin akhlak yang kuat. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi juga menjaga lisan dari keluhan dan menjaga emosi di lingkungan kerja.

Nabi mengingatkan bahwa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan
haus karena tidak mampu menjaga perilaku. Profesionalitas yang dibarengi dengan kesabaran adalah wajah takwa yang paling nyata dalam dunia kerja.

Janganlah menganggap rasa lelah saat bekerja sebagai beban yang menyiksa, melainkan sebagai proses pembersihan diri. Setiap detik yang kita lalui dengan sabar saat melayani pelanggan atau menyelesaikan tanggung jawab profesional, tercatat sebagai amal saleh.

Ramadan adalah sekolah untuk membentuk mentalitas pejuang, bukan musim untuk bermalas-malasan dengan dalih sedang menjalankan ibadah.

Sebagai penutup, mari kita jadikan aktivitas profesi kita sebagai bagian dari pengabdian kepada Sang Pencipta. Pintu surga Ar-Rayyan telah dipersiapkan bagi mereka yang mampu memadukan ketaatan ibadah dengan tanggung jawab sosial.

Semoga setiap lelah kita menjadi lillah dan
membuahkan keberkahan bagi kehidupan kita dan keluarga. Selamat bekerja dan menjalankan ibadah dengan penuh integritas. Wallahu a’lam bish-shawab.

Related Articles

Back to top button