Ragam

Gemulung Tonggoh Siaga Bencana, Pergerakan Tanah Dua Rumah Longsor

PERGERAKAN tanah yang menimbulkan kekhawatiran akan potensi bencana. Tim BPBD Kabupaten Cirebon langsung diterjunkan ke lokasi untuk memastikan penyebab dan tingkat risiko. Hasil pengamatan sementara menunjukkan peristiwa lebih mengarah pada longsor akibat curah hujan tinggi, bukan tanah bergerak.

Dua rumah terdampak, bangunan yang berada dekat tebing dan aliran sungai menjadi faktor risiko utama, terutama saat hujan deras. Pemerintah masih menunggu hasil kajian teknis final sebelum menentukan langkah mitigasi, termasuk kemungkinan relokasi warga.

kacenews.id-CIREBON-Kekhawatiran menyelimuti warga Desa Gumulung Tonggoh, Kecamatan Greged, setelah muncul dugaan tanah bergerak yang memicu longsor dan mengancam dua rumah di tepi tebing dan aliran sungai.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon pun bergerak cepat melakukan asesmen, di tengah musim hujan yang meningkatkan risiko bencana.

Tim diterjunkan ke lokasi untuk memastikan kondisi sebenarnya, menyusul kekhawatiran warga akan potensi bencana. Fenomena ini mencuat di tengah meningkatnya kasus pergerakan tanah di sejumlah daerah. Namun, hasil pengamatan awal di lapangan menunjukkan indikasi berbeda. BPBD menduga peristiwa tersebut lebih mengarah pada longsor yang dipicu curah hujan tinggi, bukan tanah bergerak seperti yang terjadi di wilayah lain.

Kepala BPBD Kabupaten Cirebon, Ikin Asikin mengatakan, asesmen masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

“Kami menerima laporan dari masyarakat terkait dugaan pergerakan tanah. Tim sudah melakukan pengecekan di lokasi dan saat ini hasilnya masih dalam kajian,” ujar Ikin, Kamis (12/2/2026).

Dari pantauan sementara, dua rumah dilaporkan terdampak. Posisi bangunan yang berada di dekat tebing dan aliran sungai menjadi faktor risiko yang cukup signifikan, terutama saat intensitas hujan meningkat.

“Secara kasat mata, ini lebih mengarah pada longsor akibat hujan deras. Letak rumah yang dekat tebing dan sungai juga memengaruhi kondisi tanah di sekitarnya. Namun, kami masih menunggu hasil kajian teknis final,” jelasnya.

Terkait klaim warga mengenai penurunan tanah hingga 30 sentimeter per tahun, BPBD menyebut informasi tersebut masih dalam tahap verifikasi. Kajian teknis diperlukan untuk memastikan apakah terjadi penurunan tanah secara bertahap atau dampak erosi di sekitar bantaran sungai.

Hingga kini belum ada keputusan mengenai relokasi warga. Pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat untuk menentukan langkah mitigasi yang tepat.

BPBD pun mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan. Pembangunan rumah di area rawan seperti tebing dan bantaran sungai dinilai memperbesar potensi risiko bencana.

“Kewaspadaan harus ditingkatkan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi. Jika ada retakan tanah atau tanda-tanda longsor, segera laporkan,” tegas Ikin.

Pemerintah daerah memastikan situasi terus dipantau sembari menunggu hasil asesmen final guna menentukan langkah penanganan selanjutnya.(Mail)

Related Articles

Back to top button