Semangat “Back to School” Tak Semudah Kampanye di Medsos
kacenews.id-KUNINGAN-Momentum masuk sekolah pascalibur kembali menjadi sorotan setelah maraknya kampanye “Back to School” di media sosial yang dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi nyata yang dihadapi siswa, orangtua, dan guru di lapangan.
Tokoh masyarakat Kuningan, Agus Mauludin, menilai setiap awal tahun ajaran kerap memunculkan kesenjangan antara semangat yang ditampilkan di ruang publik dengan realitas yang dirasakan di lingkungan pendidikan. Fenomena tersebut, menurutnya, terjadi berulang hampir setiap tahun.
Ia mengamati, masa transisi dari libur menuju kegiatan belajar mengajar idealnya menjadi fase yang menyenangkan bagi siswa. Namun dalam praktiknya, banyak sekolah langsung menerapkan ritme belajar yang padat tanpa masa adaptasi yang memadai.
“Kita sering lupa, anak-anak bukanlah mesin yang bisa langsung dipacu dengan kecepatan penuh setelah mesinnya diistirahatkan selama liburan,” ucap Agus Mauludin, yang juga mantan guru, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, siswa kerap dihadapkan pada tuntutan akademik berupa target nilai, tugas, dan materi pembelajaran sejak hari-hari awal masuk sekolah. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kelelahan mental, terutama ketika tidak dibarengi dengan pendekatan pembelajaran yang lebih humanis.
Agus juga menyoroti tantangan yang dihadapi orangtua pada masa awal masuk sekolah. Ia menyebut kebutuhan pendidikan seperti seragam, buku paket, dan perlengkapan lainnya sering muncul secara bersamaan, sementara kondisi ekonomi setiap keluarga tidaklah sama.
Di sisi lain, para guru pun menghadapi tekanan tersendiri. Waktu awal tahun ajaran yang seharusnya dimanfaatkan untuk membangun kedekatan dengan peserta didik, menurutnya, justru banyak tersita oleh beban administrasi dan kewajiban birokrasi.
Ia menilai, akumulasi tuntutan terhadap siswa, orangtua, dan guru tersebut berpotensi menurunkan kualitas proses pembelajaran apabila tidak dikelola secara proporsional. Karena itu, Agus mendorong adanya penyesuaian dalam memaknai momentum kembali ke sekolah.
Ia menekankan perlunya kebijakan pendidikan yang memberi ruang adaptasi, baik secara akademik maupun emosional, khususnya pada masa awal masuk sekolah. Beban tugas yang terukur serta pengurangan tekanan administratif bagi guru dinilai dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif.
“Pendidikan pada hakikatnya adalah tentang memanusiakan manusia sejak hari pertama belajar-mengajar. Jika semangat itu tidak benar-benar turun ke lapangan, maka sekolah akan kehilangan maknanya sebagai tempat menumbuhkan rasa ingin tahu,” tuturnya.
Agus berharap semangat positif yang ditampilkan dalam kampanye “Back to School” tidak berhenti pada simbol dan visual semata, tetapi dapat dirasakan secara nyata oleh seluruh unsur pendidikan. “Mari pastikan, semangat yang tertulis pamplet medsos benar-benar mengalir hingga ke kelas, ke meja makan di rumah dan ke lubuk hati setiap insan pendidikan,” pungkasnya.(Ya)



