Medsos Jadi News Maker, Wartawan Jadi Flower?
Oleh : Jejep Falahul Alam
(Mantan Ketua PWI Majalengka)
Kehadiran media sosial (medsos) hari ini bukan lagi sekadar pelengkap ekosistem arus informasi. Namun mulai menjelma menjadi kekuatan dominan di era digital, yang secara perlahan menggeser peran media arus utama.
Perubahan ini bukan soal peralihan platform, melainkan bisa dikatakan kudeta halus dalam pengendalian arus informasi dan pembentukan opini publik.
Fenomena podcast di YouTube, misalnya, secara tidak langsung menggoyahkan eksistensi jurnalisme televisi.
Ruang redaksi yang panjang dan berlapis, dengan standar etik dan verifikasi ketat, kini dapat “ditandingi” oleh tim kecil yang memproduksi konten bergaya media arus utama.
Popularitas tak lagi ditentukan oleh kedalaman liputan, melainkan pada daya tarik personal, emosi, dan kemampuan memancing atensi.
Pada saat bersamaan, media online dipaksa bersaing dengan TikTok, Instagram, Facebook, WhatsApp, hingga X yang menyajikan informasi secara instan, cepat, visual, dan viral.
Paling terdampak di dalam situasi ini, media cetak. Karena berada di posisi paling rentan, terdesak oleh perubahan perilaku konsumsi informasi yang semakin singkat dan serba cepat.
Masalahnya bukan sekadar perubahan medium. Media sosial kini tak lagi berperan sebagai sumber awal yang diverifikasi, melainkan telah berubah menjadi pembuat berita itu sendiri (news maker).
Isu, konflik, bahkan tudingan serius kerap lahir dari unggahan viral-video pendek, potongan percakapan, atau tangkapan layar-jauh sebelum media arus utama bekerja.
Akibatnya, tidak sedikit wartawan terjebak dalam posisi reaktif. Alih-alih menemukan fakta di lapangan dan membentuk agenda pemberitaan, wartawan justru mengikuti arus viral yang telah terbentuk di medsos.
Bahkan unggahan itu kini dijadikan sumber bahan berita media mainstream. Meski hadir belakangan, hanya untuk sekadar menambahkan kutipan, klarifikasi, atau pernyataan resmi.
Posisi ini wartawan berisiko tereduksi menjadi flower atau penghias narasi, bukan lagi penentu arah berita, apalagi pembentuk opini publik.
Fenomena tersebut tak lepas dari adanya disrupsi media perubahan fundamental dalam industri pers akibat internet dan teknologi digital. Industri media bahkan mengalami dua gelombang disrupsi sekaligus, internet dan kecerdasan buatan (AI).
Dampaknya nyata antara lain model bisnis telah bergeser, posisi media konvensional melemah, hoaks kian menjamur, dan media arus utama dipaksa beradaptasi agar tetap relevan dan hidup.
Ekosistem informasi pun berubah secara mendasar. Kerja jurnalistik yang berjenjang, mulai dari peliputan, verifikasi, penyuntingan, hingga penayangan, kian terdesak oleh logika algoritma.
Ironisnya lagi, publik kini tak sepenuhnya lagi bergantung pada media arus utama, melainkan pada Google, YouTube, dan linimasa medsos. Kebenaran kerap dinilai dari apa yang muncul di layar, bukan dari proses di meja redaksi seperti pada masa lalu.
Kehadiran konten kreator semakin memengaruhi persepsi publik tentang siapa yang berhak memproduksi informasi. Tanpa kewajiban etik jurnalistik, mereka mampu menjangkau jutaan orang dalam hitungan menit.
Di titik inilah algoritma menggantikan peran gatekeeper, menentukan apa yang layak ditonton, disukai, dibagikan, dan dipercaya, berdasarkan interaksi, bukan kepentingan publik.
Solusi dari situasi ini bukan dengan memusuhi media sosial atau menolak teknologi. Jalan keluarnya adalah merebut kembali peran inti jurnalistik.
Media dan wartawan perlu berhenti berlomba pada kecepatan semata, lalu membangun ulang kekuatan utama, verifikasi, kedalaman, konteks, dan berani melawan arus viral.
Ke depan, pers harus menempuh langkah yang lebih tegas dan strategis, bukan menyaingi kecepatan medsos, melainkan memperkuat diferensiasi melalui liputan investigatif, jurnalisme data, jurnalisme solusi, dan feature yang memberi makna.
Media mainstream harus memosisikan diri pembentuk opini publik, bukan sekadar pengikut algoritma atau peramaian linimasa.
Pada akhirnya, media arus utama pun mau tak mau juga harus membuat atas nama media mainstream itu sendiri. Tujuannya bukan untuk larut dalam kegaduhan, melainkan sebagai pelapis informasi, buka tujuan utama.
Kesimpulannya, di tengah banjir informasi, hanya jurnalisme yang berpegang teguh pada kode etik dan tampil beda yang akan kembali dicari dan dibutuhkan publik.***





