Pemkab Cirebon Kebut Perbaikan Jalan, Rp 205,6 Miliar Digelontorkan 80 Persen Betonisasi
Pemkab Cirebon mengalokasikan anggaran lebih dari Rp205,6 miliar untuk pembangunan dan perbaikan jalan. Fokus utama program adalah percepatan betonisasi jalan hingga 80 persen pada tahun 2026.
Kondisi jalan kabupaten masih terdapat sekitar 189,20 km belum mantap, termasuk 152,96 km rusak berat. Infrastruktur jalan dinilai menjadi penghambat utama distribusi dan sektor ekonomi lokal, terutama pertanian dan UMKM.
Betonisasi dipilih karena lebih tahan lama, kuat terhadap beban berat, dan efisien biaya perawatan jangka panjang. Perbaikan jalan diharapkan berdampak pada kelancaran distribusi, penurunan biaya logistik, dan peningkatan ekonomi masyarakat.
kacenews.id-CIREBON-Pembangunan jalan di Kabupaten Cirebon kini tak lagi sekadar proyek infrastruktur, tetapi mulai diposisikan sebagai “mesin penggerak” ekonomi daerah. Melalui percepatan betonisasi, Pemerintah Kabupaten Cirebon berupaya memangkas hambatan distribusi sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru bagi masyarakat.
Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Cirebon menegaskan bahwa strategi pembangunan jalan saat ini difokuskan pada dampak ekonomi jangka panjang.
Kepala Dinas PUTR, Sunanto, menyebut jalan yang layak akan mempercepat pergerakan barang, jasa, dan manusia, tiga elemen penting dalam roda ekonomi. “Jalan yang baik membuat aktivitas ekonomi lebih efisien. Distribusi lancar, biaya turun, dan waktu tempuh lebih singkat,” ujarnya.
Data hingga April 2025 mencatat, total panjang jalan kabupaten mencapai 1.240,30 kilometer. Namun, sekitar 189,20 kilometer masih dalam kondisi tidak mantap, dengan 152,96 kilometer di antaranya rusak berat. Kondisi ini menjadi salah satu penghambat utama, terutama bagi sektor pertanian dan pelaku usaha lokal.
Biaya logistik yang tinggi serta keterlambatan distribusi hasil panen kerap menekan daya saing produk masyarakat. Karena itu, percepatan perbaikan jalan dinilai mendesak.
Sebagai solusi, Pemkab Cirebon mendorong penggunaan betonisasi secara masif. Pada 2026, sekitar 80 persen proyek peningkatan jalan ditargetkan menggunakan metode ini, sementara 20 persen sisanya tetap memakai aspal hotmix.
Betonisasi dipilih bukan tanpa alasan. Selain lebih tahan terhadap beban berat, metode ini juga memiliki umur pakai lebih panjang dan biaya perawatan yang lebih rendah. Artinya, efisiensi tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga dalam jangka panjang.
Dampaknya mulai terlihat dari sisi ekonomi. Petani kini berpotensi lebih cepat membawa hasil panen ke pasar, sementara pelaku UMKM mendapat akses distribusi yang lebih luas dan stabil. Aktivitas perdagangan pun diprediksi meningkat seiring membaiknya konektivitas antarwilayah.
“Efeknya berantai. Dari distribusi lancar, perdagangan naik, hingga terbukanya lapangan kerja,” kata Sunanto.
Tak hanya itu, proyek pembangunan jalan juga menyerap tenaga kerja lokal, memberikan tambahan pemasukan langsung bagi masyarakat sekitar.
Untuk mendukung program ini, Pemkab Cirebon mengalokasikan anggaran lebih dari Rp205,6 miliar. Dukungan juga datang dari pemerintah pusat melalui program Inpres Jalan Daerah serta bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Sejumlah ruas strategis yang telah tersentuh program ini di antaranya Arjawinangun–Suranenggala, Sindanglaut–Pabuaran, hingga Cilengkrang–Tonjong dan Tonjong–Leuwiasem.
Secara bertahap, perbaikan infrastruktur jalan ditargetkan rampung hingga 2030, selaras dengan program pemerintah provinsi. PUTR memastikan seluruh proyek dijalankan dengan standar kualitas tinggi, mulai dari material hingga pengawasan lapangan.
Di tengah proses yang masih berjalan, masyarakat juga diminta turut mendukung dengan mematuhi arahan petugas dan menggunakan jalur alternatif demi keselamatan bersama.(Mail)





