DPRD Kabupaten Cirebon Soroti Efektivitas Penggunaan Anggaran Pendidikan, Ruang Fiskal untuk Program Pengembangan Masih Terbatas
kacenews.id-CIREBON- Besarnya alokasi anggaran pendidikan belum sepenuhnya menjamin optimalnya kualitas sumber daya manusia (SDM).
Hal ini mengemuka dalam rapat kerja antara DPRD Kabupaten Cirebon melalui Komisi IV bersama Dinas Pendidikan (Disdik), dalam pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Tahun Anggaran 2025, belum lama ini.
Ketua Komisi IV, Muchyidin, menegaskan bahwa sektor pendidikan tetap menjadi kunci utama pembangunan daerah. Namun, ia mengingatkan bahwa kualitas output pendidikan harus sejalan dengan besarnya investasi anggaran.
“Pendidikan ini bukan sekadar program rutin, tapi investasi jangka panjang. Kita butuh SDM yang tidak hanya cerdas, tapi juga berkarakter dan berdaya saing,”katanya.
Sorotan juga datang dari anggota Komisi IV, Nurholis, yang menilai sejumlah kebijakan sudah berada di jalur yang tepat, khususnya penguatan pendidikan keagamaan sejak dini. Ia menyebut langkah tersebut relevan di tengah tantangan sosial dan perkembangan teknologi yang kian cepat.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kebijakan tetap harus mempertimbangkan ekosistem pendidikan yang sudah berjalan, termasuk keberadaan Madrasah Diniyah (MD). Karena itu, keputusan untuk menunda penerapan sekolah lima hari dinilai sebagai langkah yang bijak.
“Kita harus menjaga keseimbangan. Pendidikan formal berjalan, tapi pendidikan keagamaan juga tetap hidup,” katanya.
Di sisi lain, perhatian utama DPRD justru tertuju pada efektivitas penggunaan anggaran. Dari total APBD Rp 4,2 triliun, Disdik menerima sekitar Rp 1,5 triliun, namun sebagian besar terserap untuk belanja pegawai.
Kepala Disdik Kabupaten Cirebon, Ronianto, mengakui ruang fiskal untuk program pengembangan masih terbatas. Meski begitu, pihaknya tetap berupaya menjalankan berbagai program prioritas, mulai dari perbaikan sarana-prasarana hingga peningkatan kualitas guru dan prestasi siswa.
Salah satu program yang kini didorong adalah “Sholdadu” (shalat dhuha dan zuhur), yang difokuskan pada pembentukan karakter religius siswa sejak sekolah dasar.
Menurutnya, di era digital ini, anak-anak butuh penguatan karakter. Sehingga dengan pembiasaan sederhana tersebut diharapkan bisa menjadi fondasi moral mereka.(Is)





