Hikmah Isra Miraj, Salat 5 Waktu sebagai Pengingat yang Abadi
Hikmah Isra Miraj, Salat 5 Waktu sebagai Pengingat yang Abadi
Oleh: Drs. D. Rusyono, M.Si
Anggota DKM Miftahussalam Puri Asri 1 Kuningan
Dalam Agama Islam banyak dikenal dengan momentum penting atau hari-hari besar Islam (PHBI), satu di antaranya adalah Isra Mi’raj yang di kalangan umat Islam sangat populer, malah konon lebih akrab dan sering disebut dengan Rajaban, karena memang jatuhnya pada bulan Rajab tahun Hijriyah dan selalu diperingati oleh umat Islam di mana-mana. Hal ini wajar saja karena Rajab merupakan salah satu Bulan Haram dalam Islam (Asyhurul Hurum) di samping tiga bulan lainnya yaitu Muharram sebagai pembuka tahun Hijriah, Dzulqa’dah di mana Ihram haji sah bersama syawal dan Dzulhijjah. Dzulhijjah itu sendiri merupakan bulan terakhir Hijriah dengan 10 hari pertama yang penuh keutamaan waktu haji dan Idul Adha. Sedangkan Rajab sendiri adalah terjadinya momentum tauhid yang luar biasa di mana Allah memperjalankan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram hingga ke Sidratul Muntaha hanya dalam waktu kurang dari satu malam karena waktu subuh pun Nabi Muhammad sudah kembali berada di bumi. Masya Allah sungguh peristiwa yang penuh makna hanya bisa dijangkau dengan rasa iman dan takwa yang dalam.
Hal di atas diabadikan melalui firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang artinya sebagai berikut : “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidlharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagai tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat”. (Q S Al-Isra’ : 1).
Sebagaimana di atas bahwa Isra Mi’raj secara kilas pandang adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dalam semalam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa (sebagai Isra), kemudian naik ke langit hingga Sidratul Muntaha (sebagai Mi’raj), untuk menerima perintah Salat lima waktu yang menjadi simbol keimanan, keteguhan dan bukti kebesaran Allah SWT dalam mengajarkan umat Islam tentang pentingnya salat, sebagai ketakwaan dan ketaatan di balik kesulitan.
Peristiwanya sendiri terjadi pada malam 27 Rajab (menurut kalender Hijriyah), sehingga menjadi momen penguatan iman dan wujud kasih sayang Allah SWT yang mengajarkan bahwa salat adalah proses hubungan yang langsung dengan Allah.
Secara dimensi ruang dan waktu dapat dinyatakan sebagai berikut : Isra (perjalanan malam), adalah Nabi Muhammad SAW yang diperjalankan oleh Allah (dengan diantar oleh Malaikat Jibril) dari Mekkah ke Jerusalem (Masjidil Aqsa), menggunakan kendaraan bernama Buraq dalam waktu yang singkat. Kemudian Mi’raj (kenaikan) adalah dari Masjidil Aqsa Nabi Muhammad naik ke langit melewati lapisan-lapisan langit, hingga mencapai tempat di sisi Allah SWT di Sidratul Muntaha, di mana beliau menerima perintah salat lima waktu langsung dari Allah (dari semula 50 waktu hingga diringankan menjadi 5 waktu).
Adapun hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik adalah pertama kewajiban salat dengan ditetapkan lima waktu dalam sehari semalam sebagai ibadah utama yang langsung diterima Nabi Muhammad Rasulullah SAW untuk senantiasa selalu mengingat Allah, selanjutnya yang kedua sebagai penguat iman dalam meneguhkan keyakinan akan kebesaran Allah dan kebenaran risalah Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Lalu yang ke tiga adalah sebagai kekuatan dalam kesulitan, di mana ditanamkan pemahaman bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan dan pertolongan Allah sebagaimana diperkuat dengan Surat Al-Insyirah atau Asy-Syarh (atau sering juga disebut Alam Nasyroh) yang menerangkan tentang kelapangan dada Nabi Muhammad Rasulullah SAW dan janji kemudahan setelah kesulitan, yang arti selengkapnya sebagai berikut “Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu, dan kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan (sampai diulang dua kali), maka apabila kamu telah selesai (dari satu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Q.S Al-Insyirah : 1-8) bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Selanjutnya yang ke empat (4) Selalu berada pada jalan yang benar/lurus, dimana Nabi Muhammad memilih susu (lambang kesucian) dari pilihan yang ditawarkan, sehingga menjadi simbol umat Islam akan senantiasa berada di jalan yang benar/yang lurus. Dan yang ke lima menunjukkan kedekatan dengan Allah, dimaksudkan bahwa ketinggian derajat seorang hamba diukur dari kedekatan hati dan ketundukan/ketaatan jiwanya kepada Allah bukan kepada yang bersifat duniawi atau yang lainnya.
Demikian dahsyatnya peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad Rasulullah SAW, dan tanpa mengecilkan arti/nilai ibadah yang lainnya, maka begitu pentingnya dan istimewanya salat lima waktu karena diperintahkan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW secara bertemu langsung tanpa diwahyukan lagi melalui Malaikat Jibril.
Oleh karena itu jangan main-main dengan salat lima waktu, manfaatkan dengan sebaik-baiknya sebagai wahana untuk berkomunikasi langsung dengan Allah, Insyaallah kalau dilakukan secara baik dan benar (benar waktu dan caranya) maka Insyaallah Allah akan memperhatikan dan memberikan pahala yang banyak dari setiap gerakan dan lantunan do’a yang terkandung di dalamnya, serta mengabulkan-Nya, karena salat pada dasarnya rangkaian do’a yang disenandungkan dengan lemah lembut dan penuh harap, oleh karena itu ada yang mengistilahkan bahwa do’a adalah sebagai senandung harapan, harapan dari umat kepada Pencipta-Nya.
Akhirnya muncul pertanyaan bagaimana sikap kita selaku umat Islam dalam menyikapi peristiwa tauhid yang religius itu yang sangat dahsyat itu, agar mendapat keberkahan dan kebahagiaan dunia-akhirat ? maka kiranya tidaklah berlebihan apabila kita memposisikan/memerankan diri untuk lebih menguatkan iman paling tidak melalui sebagai berikut, pertama jaga salat kita dengan konsisten dan konsekuen misalnya dari segi waktu dan caranya yang sesuai dengan tuntunan, lalu kedua mentadaburi Al-Qur’an dengan membacanya, mempelajarinya, menghayatinya dan mengamalkannya, lalu yang ketiga bersodakoh sesuai kemampuan dan potensi yang ada, kemudian yang keempat berbaik-baiklah dengan tetangga dan sesama, karena tidak jarang ini yang dapat mendatangkan/menghabiskan pahala, dan satu lagi bergaullah dengan orang-orang soleh termasuk di dalamnya menghadiri majelis ilmu dan saling mendo’akan, dan semua itu apabila dilakukan dengan ikhlas hanya mengharap ridho Allah insyaallah kita selamat dunia-akhirat. Tetapi jangan lupa juga tentunya disertai dengan kehati-hatian/waspada terhadap ; urusan duniawi karena suka melalaikan, terhadap hawa nafsu karena suka menjerumuskan, dan terhadap godaan syaiton karena suka menyesatkan.
Demikian untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, dengan hikmah Isra Mi’raj semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang lebih baik dalam meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT secara istiqomah, Barakallah, Aamiin Ya Mujibasailin!***





