Opini

Menghidupkan Isra Mikraj Dalam Setiap Salat

Oleh: Asep Firmansyah
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang

Isra Mikraj merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah umat Islam. Peristiwa ini bukan sekadar kisah spektakuler tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW melintasi jarak dan dimensi yang melampaui batas nalar manusia, tetapi juga peristiwa spiritual yang mengandung pesan mendalam tentang hakikat iman, penghambaan, dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Setiap kali Isra Mikraj diperingati, sejatinya kita tidak sedang mengenang peristiwa menakjubkan pada masa lalu semata, tetapi diajak untuk menengok kembali fondasi keimanan kita, orientasi hidup kita, serta kekuatan ikatan ruhani kita dengan Allah Swt., Rabb semesta alam, di tengah hiruk-pikuk dunia.

Peristiwa Isra Mikraj memiliki sejumlah hikmah penting yang patut direnungkan bersama. Pertama, kemahakuasaan Allah SWT. Isra Mikraj menegaskan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha dalam satu malam berada sepenuhnya di luar jangkauan logika manusia. Hal ini menyatakan bahwa jika Allah yang menggenggam dan mengendalikan seluruh alam semesta telah berkehendak, maka tidak ada satu pun yang mampu menghalangi kehendak-Nya, sekalipun bertentangan dengan hukum alam atau melampaui batas-batas rasionalitas manusia. Sejarah kenabian sarat dengan bukti kemahakuasaan tersebut. Nabi Ibrahim a.s. diselamatkan dari api yang menjadi dingin dan tidak membakar, Nabi Musa AS. membelah lautan dengan izin Allah, Nabi Isa AS menghidupkan orang mati atas kehendak-Nya, dan Nabi Sulaiman AS dianugerahi kekuasaan besar hingga manusia, hewan, dan jin tunduk kepadanya. Begitu pun dengan para kekasih-Nya yang diberikan keistimewaan. Semua itu menegaskan bahwa kejadian menakjubkan tersebut bukanlah pelanggaran hukum alam, melainkan peneguhan bahwa hukum alam itu sendiri berada sepenuhnya dalam genggaman Allah SWT.

Kedua, Nabi Muhammad SAW adalah hamba yang memiliki martabat tinggi dan mulia di sisi Allah. Al-Qur’an menyebut nabi sebagai ‘abdihi (hamba-Nya), bukan dengan gelar kenabian atau kerasulan. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan tertinggi nabi justru terletak pada kualitas penghambaan total kepada Allah. Isra Mikraj mengajarkan bahwa derajat seseorang di sisi Allah ditentukan oleh ketulusan ibadah dan kedekatan spiritual, bukan oleh status duniawi.

Ketiga, ujian keimanan bagi orang beriman. Ketika peristiwa Isra Mikraj disampaikan kepada masyarakat Quraisy, banyak yang meragukan bahkan mengejek. Namun orang-orang beriman, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, menerimanya dengan penuh keyakinan. Dari sini kita belajar bahwa iman sejati adalah percaya kepada kebenaran Allah dan Rasul-Nya, meskipun akal tidak mampu untuk menjangkaunya.

Keempat, penghiburan dan penguatan jiwa setelah masa sulit. Isra Mikraj terjadi setelah Nabi saw. mengalami tahun kesedihan (‘âm al-huzn), wafatnya Khadijah dan Abu Thalib serta penolakan di Thaif. Peristiwa ini menjadi bentuk penguatan dan penghiburan langsung dari Allah, bahwa setelah kesulitan selalu ada kemuliaan dan pertolongan.

Kelima, pentingnya kesiapan batin dan keluhuran adab sebelum mengalami perjumpaan spiritual dengan Allah SWT. Sebelum Mikraj, Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa pembelahan dada dan penyucian hati (meskipun hati Nabi Muhammad saw. telah disucikan dan dimuliakan oleh Allah). Ini memberi pelajaran bahwa untuk menerima limpahan rahmat dan kedekatan dengan Allah, hati perlu dibersihkan dari sifat-sifat tercela. Ibadah yang tinggi nilainya selalu didahului oleh kesungguhan menjaga kebersihan hati dan adab.

Keenam, keseimbangan antara spiritualitas dan realitas kehidupan. Setelah mencapai puncak kedekatan dengan Allah, Nabi Muhammad SAW tidak tinggal di langit, tetapi kembali ke bumi untuk menjalankan misi kemanusiaan. Ini mengajarkan bahwa pengalaman spiritual sejati harus melahirkan tanggung jawab sosial, akhlak mulia, dan pengabdian kepada sesama.

Ketujuh, teladan rendah hati meski mencapai derajat tertinggi. Walaupun Nabi Muhammad SAW mencapai makam spiritual yang tidak pernah diraih manusia lain, beliau tetap rendah hati dan tidak meninggikan diri. Hal ini mengajarkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, seharusnya semakin besar kerendahan hatinya di hadapan manusia.
Kedelapan, pengakuan lintas kenabian dan kesinambungan risalah. Nabi Muhammad saw. menjadi imam salat para nabi di Masjidil Aqsa. Ini menegaskan bahwa semua nabi membawa misi tauhid yang sama dan Islam hadir sebagai penyempurna risalah sebelumnya, bukan pemutus mata rantai sejarah kenabian.

Ketika Nabi Muhammad SAW diisramikrajkan oleh Allah SWT dengan didampingi Malaikat Jibril, beliau menyaksikan dan mengalami berbagai peristiwa yang sarat dengan pesan keimanan dan pelajaran kehidupan. Dari seluruh rangkaian peristiwa tersebut, hal yang paling esensial adalah penetapan kewajiban salat lima waktu yang diterima Nabi Muhammad SAW. secara langsung dari Allah SWT. Perintah ini tidak disampaikan melalui perantara Malaikat Jibril di bumi sebagaimana syariat-syariat lainnya, melainkan diterima di hadirat Ilahi. Keadaan ini menegaskan bahwa salat memiliki keistimewaan tersendiri sekaligus menunjukkan kedudukannya yang sentral dalam ajaran Islam. Melalui ibadah salat inilah, Allah SWT. menetapkan ruang perjumpaan ruhani antara hamba dan Tuhannya yang terjalin secara rutin di setiap waktu. Setelah menerima perintah salat, Nabi Muhammad SAW kembali ke bumi dengan membawa amanah agung tersebut bagi seluruh umatnya.

Salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan bukti konkret pengakuan manusia atas hakikat dirinya sebagai hamba Allah. Dalam salat, manusia meletakkan dahi ke tanah (bagian tubuh yang paling mulia diletakkan pada posisi paling rendah) sebagai simbol ketundukan total dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Zat Yang Maha Kuasa. Pada momen itu, manusia mengakui keterbatasan, kelemahan, dan ketidakberdayaannya tanpa adanya kekuatan yang Allah SWT. berikan, sehingga keakuan runtuh dan kesombongan yang kerap lahir dari pencapaian duniawi pun tertanggalkan. Manusia harus sepenuhnya menyadari bahwa semua makhluk bergantung dan membutuhkan Allah. Dia-lah yang menciptakan, memelihara, dan mencukupkan seluruh kebutuhan makhluk-Nya, serta kelak Dia pulalah yang akan mematikannya bahkan hingga menghidupkannya kembali. Selain itu, orang yang benar-benar mendirikan salat, akan tercermin dalam sikap hidupnya. Salat yang benar akan melahirkan kesalehan sosial seperti kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, menghormati hak orang lain, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Al-Qur’an menegaskan bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Artinya, salat bukan hanya urusan vertikal, tetapi juga berimplikasi horizontal. Krisis moral yang kerap muncul di tengah kehidupan modern sekarang ini seperti korupsi, ketidakadilan, intoleransi, perundungan, penindasan, penganiayaan pada dasarnya menunjukkan kegagalan dalam menghadirkan nilai salat dalam perilaku sosial. Isra Mikraj mengandung pesan simbolik tentang perjalanan spiritual manusia. Isra melambangkan gerak horizontal (relasi sosial dan kemanusiaan) sementara Mikraj merepresentasikan gerak vertikal (relasi dengan Tuhan).

Akhirnya, marilah kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh perintah salat yang agung ini. Semoga momentum peringatan Isra Mikraj tahun ini menjadi ruang refleksi bagi kita semua, sehingga kita terdorong untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas salat—bukan hanya dari sisi gerakan dan bacaan, tetapi juga dari kehadiran hati, kekhusyukan, serta kesadaran akan makna perjumpaan kita dengan Allah SWT. Ada kekliruan yang kerap terjadi di masyarakat yaitu anggapan bahwa salat harus menunggu datangnya “nikmat” atau perasaan nyaman. Padahal, salat justru merupakan jalan menuju kenikmatan itu sendiri. Teruslah menunaikan salat meskipun hati terasa kering, pikiran melayang, atau kekhusyukan belum hadir sepenuhnya. Meninggalkan salat hanya karena belum merasakan kenikmatan sama halnya dengan menolak undangan Allah Swt. hanya karena belum memahami maksud-Nya. Sikap semacam ini berbahaya bagi kelangsungan iman dan bisa melemahkan ikatan ruhani manusia dengan Tuhannya. Ada suatu pernyataan yang menarik dari Prof. Quraish Shihab. Beliau memberikan ilustrasi yang sangat indah tentang salat. Menurut beliau, salat adalah undangan Tuhan kepada hamba-Nya untuk menghadap. Undangan itu seperti undangan menghadiri pameran lukisan. Ada beragam cara orang menyikapinya. Ada yang berkata, “Ah, tidak perlu hadir,” lalu ia pun tidak datang. Ada yang berkata, “Saya tidak mengerti lukisan, tapi tidak enak kalau tidak hadir,” maka ia datang meski tanpa antusiasme. Ada yang berkata, “Saya ingin belajar tentang lukisan,” lalu ia datang dengan penuh rasa ingin tahu. Ada pula yang memang mencintai seni, datang dengan gembira, dan tenggelam dalam keindahan lukisan hingga lupa dengan sekelilingnya. Begitu pula dengan salat. Jangan sampai kita menjadi orang yang diundang tetapi tidak datang. Jika belum mampu menjadi orang yang menikmati salat sepenuh hati, maka paling tidak jadilah orang yang tetap hadir. Hadir dengan kesadaran, meski belum merasakan kenikmatan. Sebab, seiring berjalannya waktu terus melaksanakan dan didukung dengan bertambahnya ilmu, dengan izin Allah, kehadiran itu akan menumbuhkan pemahaman, lalu kecintaan, hingga akhirnya kenikmatan dalam salat. Pada fase inilah seseorang bisa lupa segalanya karena tenggelam dalam cinta kepada Allah Swt.***

Related Articles

Back to top button