Kematian Ikan Dewa di Balong Cigugur Kabupaten Kuningan Capai 300 Ekor Lebih
kacenews.id-KUNINGAN-Kematian Ikan Dewa di Balong Cigugur Kabupaten Kuningan dalam sepekan terus bertambah hingga total 300 ekor lebih. Kondisi ini mengundang perhatian banyak pihak hingga akhirnya terjun langsung ke lokasi, Rabu (4/2/2026).
Di sudut-sudut kolam berukuran besar tampak Ikan Kancra Bodas mengambang dan tidak sedikit yang tenggelam di dasar kolam. Matinya ikan yang dijuluki Ikan Dewa ini menjadi catatan sejarah mengingat sejak 30 tahun Obyek Wisata Kolam Cigugur berdiri. Baru kali ini kematian ikan tersebut terjadi secara mendadak dalam jumlah besar.
Atas laporan dari berbagai komponen, Bupati Kuningan, H. Dian Rahmat turun langsung ke lokasi dan mengumpulkan para pihak terkait untuk melakukan penanganan dan penyelamat jenis ikan langka tersebut. Penanganan kematian massal ikan di Balong Keramat Cigugur dilakukan secara terukur, berbasis data, dan segera ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas perangkat daerah.
Sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah maupun lembaga lainnya dihadirkan, antara lain Sekda, Dinas
Perikanan dan Peternakan (Diskanak), Asda Wawan Setriawan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUPR, PDAM, PDAU, TNGC, dan tenaga ahli dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Barat, Hedi. Selain itu, Camat Cigugur Yono Rahmansah, Ketua LPM Cigugur, Aang beserta Wakilnya, Yudi beserta lurah setempat, serta sejumlah tokoh masyarakat.
“Fenomena ini harus ditangani secara serius, strategis, komprehensif, dan terukur. Kita bertindak berdasarkan data yang akurat, bukan asumsi maupu kata orang. Pertemuan hari ini harus menghasilkan tindakan nyata. Setiap laporan dan aspirasi masyarakat, akan kami lebih lanjut oleh perangkat daerah teknis sesuai kewenangan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan,” tegas Bupati Dian.
Ia menimnta seluruh perangkat daerah terkait segera menyusun dan mengeksekusi langkah lanjutan, diantaranya penyediaan kolam karantina, evaluasi serta normalisasi sirkulasi air masuk dan keluar, serta kajian teknis kemungkinan pengurasan kolam dan pemulihan ekosistem Balong Keramat.
Sementara, Kepala Diskanak Kabupaten Kuningan, H. Asep Taufik Rohman, melaporkan kematian ikan mulai terpantau
sejak 29 Januari 2026 dan terus meningkat hingga hari ketujuh. Hasil pengamatan di lapangan mencatat jumlah ikan mati mencapai sekitar 305 ekor. Adapun gejala klinis yang ditemukan antara lain ikan tampak lemas dan pasif, terdapat luka kemerahan pada tubuh, insang pucat hingga memutih, serta sisik mudah terlepas. Pemeriksaan lapangan
juga menemukan adanya infestasi cacing jangkar pada kulit, insang, dan rongga mulut ikan.
Sebagai langkah penanganan awal, Tim Teknis Diskanak bersama pihak terkait lalinnya telah melakukan pengangkatan
dan pemusnahan ikan mati secara aman, isolasi ikan yang menunjukkan gejala sakit, stabilisasi kualitas air melalui pergantian air bertahap dan penyesuaian pH, pemberian garam krosok dan tumbuhan daun kipahit serta pompanisasi untuk membantu sirkulasi air.
“Rekomendasi lanjutan meliputi pengurasan dan pengeringan kolam untuk memperbaiki kualitas air tercemar, perbaikan sumber air masuk (inlet) dan air keluar (outlet) guna menjaga stabilitas debit air sekaligus sirkulasi alami kolam, pengelolaan kualitas air secara berkelanjutan melalui pengecekan rutin parameter air, serta pembangunan kolam karantina di sekitar Balong Girang Cigugur,” ujarnya.
Perwakilan Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Barat, Hari, menyebutkan, kondisi ini perlu diposisikan sebagai situasi gawat darurat. Pengobatan di kolam utama yang luas berpotensi tidak efektif, sehingga diperlukan kolam instalasi darurat untuk isolasi ikan.
Pertolongan bisa dilakukan dengan cara menabur garam krosos, namun jumlah sangat banyak hingga mencapai 5 ton untuk luas Kolam Cigugur. “Sampel ikan telah diambil untuk pemeriksaan laboratorium dengan waktu maksimal tiga hari. Harapan kami hasilnya negatif dari penyakit karantina. Namun masih ada harapan, ikan ini masih memiliki napsu makan akanlebih mudah untuk dilakukan penanganan dengan cara pemberian makanan ikan yang berkualitas,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua LPM Kelurahan Cigugur, Aang, menyampaikan dugaan kematian ikan berkaitan dengan terganggunya ekosistem kolam akibat pendangkalan, tertutupnya sirkulasi air, serta tertimbunnya sumur alami yang selama ini menjadi sumber oksigen dan area berkembang biak ikan. “Masyarakat berharap Balong Cigugur dikembalikan ke fungsi alamnya dan pemulihan dilakukan dengan melibatkan warga,” ujar Aang.(Sul)



