Ekonomi & Bisnis

Capai Keberkahan dan Tanaman Terhindar Hama Perusak, Warga Leuwunghapit Gelar Ritual Tamba Sawah

kacenews.id-MAJALENGKA-Di saat banjir hingga ketinggian dada dan bahkan hingga sebatas leher, aparat Desa Leuweunghapit, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka justru menerobos banjir tersebut berkeliling perbatasan areal sawah yang ada di wilayahnya untuk melakuan ritual “tamba sawah”.

Ritual tamba sawah ini Upaya spiritual yang dilakukan pemerintah desa agar sawah mereka di musim tanam pertama ini bisa mendapatkan hasil panen yang maksimal dan hasilnya membawa berkah bagi petani dan keluarganya serta semua Masyarakat desa.

Menurut keterangan Kepala Desa Leuweunghapit Didi Suryadi, Jumat (20/2/2026) tamba sawah atau nambaan sawah jika diartikan adalah obat atau mengobati sawah agar sawah milik semua petani tidak diserang hama sehingga hasilnyapun bisa maksimal.

Ritualnya dilakukan dengan cara semua aparat desa mulai tingkat RT hingga Kepala Desa bereliling areal sawah yang ada disemua perbatasan antara Desa Leuweunghapit dengan desa terangga sambil menyipratkan air yang sudah diberi doa ke tanaman padi milik semua petani didesanya. Menyipratkan airnya menggunakan tangkai padi bekas panen sebelumnya.

“Air doa yang kami bawa kemarin berasal dari Gunungjati, kami menerobos bajir hingga seleher karena tamba padi ini dilakukan diusia tanaman 50 hari,” ungkap Didi.

Disampaikan Didi, acara tamba sawah dilakukan oleh sekitar 35 orang pamong desa mulai dari kepengrusan RT hingga kepala desa. Karena arealnya luas dan menerobos banjir acara tamba sawah inipun memakan waktu cukup lama hingga kurang lebih 4 jaman.

“Ini kami lakukan setiap tahun dimusim tanam rendeng, dikisaran usia tanaman padi 50 harian,” kata Didi.

Pesimis panen

Disi lain Didi menyebutkan dirinya cukup prihatin dengan kondisi tanaman padi musim rendeng sekarang, dan pesimis bisa panen dengan hasil yang maksimal karena tanaman tiga kali terkena banjir dengan rendaman setiap banjir hingga berlangsung dua harian.

Terlebih sekarang ini banjir mertendam disaat kondisi tanaman padi tengah bunting dan bahkan sebagian sudah keluar bunga. Disaat keluar bunga harusnya kerkena sinar matahari ini justru sebaliknya terendam air hingga berhari – hari.

“Sekarang agak pesimis bisa panen banyak,” kata Didi.

Dia mengestimasi panen rendeng sekarang pali bisa panen sekitar 2 tonan saja dari setiap hektarenya, hal ini karena tanaman padi yang sedang berbunga terus terendam, ketika baru ditanam juga sempat terendam.

“Mudah – mudahan curah hujan kedepan tidak sebesar sebelumnya agar air sungai Cikamangi tidak meluap ,” ungkap Didi.(Ta)

Related Articles

Back to top button