Ekonomi & Bisnis

Jaga Harga Gabah di Tingkat Petani, Pemkab Kuningan Perkuat Kerja Sama dengan Perum Gulog

kacenews.id-KUNINGAN-Menghadapi musim panen pada tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Kuningan mengambil langkah strategis dengan mempererat kolaborasi bersama Perum BULOG. Fokus utamanya adalah mengamankan penyerapan Gabah Kering Panen (GKP) agar harga di tingkat petani tetap stabil dan terhindar dari permainan para spekulan pasar.
Langkah tersebut dimatangkan dalam agenda Sosialisasi dan Optimalisasi Penyerapan GKP yang digelar di Aula Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan. Pada pertemuan tersebut, pemerintah daerah (Pemda) tidak akan membiarkan petani berjuang sendirian di tengah dinamika pasar yang seringkali tidak menentu. Masalah klasik yang sering menghantui petani saat musim panen raya adalah anjloknya harga gabah. Melimpahnya stok di lapangan seringkali dimanfaatkan oleh oknum tengkulak untuk menekan harga serendah mungkin, jauh di bawah modal produksi yang telah dikeluarkan petani. Kondisi inilah yang ingin diputus.
Kepala Diskatan Kuningan, Wahyu Hidayah menekankan penguatan penyerapan gabah oleh BULOG adalah instrumen perlindungan negara yang paling efektif. Kepastian harga merupakan hak dasar petani yang harus dipenuhi. Dengan adanya jalur penyerapan resmi, petani memiliki pilihan yang lebih aman dan menguntungkan daripada harus bergantung pada perantara yang tidak transparan. Pemda Kuningan menyadari, tanpa intervensi yang kuat, kesejahteraan petani akan terus tergerus sehingga koordinasi di lapangan diperketat. Tujuannya untuk memastikan setiap butir gabah yang dihasilkan petani Kuningan dihargai sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang berlaku. Dalam skema pengamanan harga tersebut, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) ditempatkan sebagai garda terdepan. Mereka tidak lagi hanya bertugas memberikan pendampingan teknis terkait cara menanam atau membasmi hama namun juga berperan sebagai manajer ekonomi bagi kelompok tani. Mereka bertugas memantau pergerakan harga di tiap kecamatan dan menjadi penghubung langsung antara petani dengan pihak BULOG. Peran PPL sangat penting dalam mengawal proses panen. Mereka membantu petani menentukan waktu panen yang tepat agar kualitas gabah memenuhi standar serapan nasional. Selain itu, mereka bertindak sebagai pengawas agar tidak ada praktik-praktik transaksi yang merugikan petani di area persawahan. Dengan pengawalan ketat tersebut, petani diharapkan merasa lebih tenang dan terlindungi secara finansial. Kerja sama dengan BULOG membawa konsekuensi pada standar kualitas. Penyerapan gabah secara masif oleh pemerintah hanya bisa dilakukan jika komoditas tersebut memenuhi kriteria tertentu untuk disimpan dalam jangka panjang. Perwakilan BULOG Wilayah Kuningan, Windu Guntara, menjelaskan, kualitas adalah kunci utama agar gabah memiliki rendemen yang tinggi dan harga yang kompetitif. Maka, petani diimbau untuk lebih teliti dalam menentukan masa panen. Gabah yang dipanen terlalu dini cenderung memiliki butir hijau yang tinggi dan kadar air yang tidak stabil sehingga mudah rusak saat disimpan. Begitu pula dengan gabah yang terpapar kelembapan tinggi atau terendam air saat musim hujan karena kondisi tersebut dapat menyebabkan gabah menghitam atau berkecambah yang otomatis akan menurunkan nilai jualnya. BULOG memberikan edukasi, waktu ideal untuk memanen adalah saat tanaman padi mencapai umur sekitar sebulan setelah berbunga dengan indikator fisik kematangan bulir mencapai lebih dari 95 persen. Dengan memperhatikan detail-detail kecil tersebut, petani tidak hanya membantu pemerintah dalam menjaga stok pangan berkualitas tetapi juga memastikan kantong mereka tetap tebal karena gabah dihargai secara maksimal. Salah satu tantangan terbesar yang sering dikeluhkan petani adalah masalah transportasi. Terkadang, jarak yang jauh antara sawah dengan gudang BULOG membuat petani lebih memilih menjual ke tengkulak yang datang langsung ke sawah, meski dengan harga yang lebih murah. Menjawab tantangan tersebut, BULOG Kuningan memperkenalkan inovasi layanan jemput bola. Melalui sistem koordinasi berbasis WhatsApp (WA), kelompok tani kini bisa melaporkan jadwal panen mereka secara daring. Layanan tersebut terhubung langsung dengan pusat pengadaan BULOG. Begitu laporan masuk, jadwal penjemputan akan diatur secara sistematis. Dalam prosesnya, aparat kewilayahan seperti Babinsa juga turut dilibatkan untuk memastikan kelancaran distribusi dari lahan pertanian hingga ke gudang penyimpanan atau mitra penggilingan.(Ya)

Related Articles

Back to top button