Ayumajakuning

Jemaah Haji Kuningan Bakal Dibekali Bahasa Dan Budaya Arab Saudi

kacenews.id-KUNINGAN-Sebaiknya calon jemaah haji Kabupaten Kuningan diupayakan
memahami serta mengenali bahasa maupun budaya masyarakat Arab
Saudi agar dalam pelaksanaan ibadah haji mampu mengatasi kesulitan
komunikasi dengan menggunakan bahasa setempat.
“Apabila kita mampu berbahasa asing (termasuk Bahasa Arab), maka
akan lebih memudahkan dalam berkumunikasi, baik saat melaksanaan
kegiatan ibadah haji maupun interaksi lainnya dengan masyarakat di
sana. Sabab bahasa itu sebagai kunci pembuka cakrawala dunia
sebagai alat komunikasi untuk saling mengenali diantara kita,” ungkap
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kuningan, KH Dodo
Syarif Hidayatullah, setelah menerima banyak keluhan dari jemaah haji
akibat terkendala dengan penggunaan Bahasa Arab itu, Sabtu
(3/1/2026).
Ditambahkannya, jemaah haji yang akan diberangkat pada musim haji
tahun sekarang (2026), idealnya tidak hanya memahami bahasa, namun
termasuk mempelajari budaya Arab Saudi, yang terbeda dengan adat
istiadat atau budaya Indonesia. Alangkah lebih baik apabila memahamai
Bahasa Arab, juga menganali budayanya. Sudah barang tentu untuk
menguasai bahasa tersebut bagi jemaah haji mungkin agak kesulitan
untuk mempelajari dalam relatif singkat disamping dalam kondisi
berusia tua.
“Paling tidak kita memahami penggunaan bahasa tersebut yang penting-
petingnya saja untuk memudahkan komunikasi. Misalnya bahasa untuk
memperkanalkan diri, bertanya apabila kita akan ke toilet atau mencari
tempat wudlu maupun bertanya tentang alama. Termasuk dalam
penggunaan apabila kita ingin berbelanja, menukarkan uang rupiah
dengan real dan lain-lain sesuai kebutuhan,” tutur KH Dodo.
Selain belajar keterampilan berbahasa, tidak kalah penting kita
mengenali budaya yang ada di sana. Umpamanya saja, apabila kita
ingin menyebrang jalan raya, agar mobil yang sedang melaju kencang
bisa mengurangi kecamapat atau berhenti, apabila kuncup jari kita
dengan posisi diacungkan ke atas. Maka kendaraan yang tadinya
kencang akan mendadak perlahan sehingga kita dengan mudah
melintas jalan tersebut secara aman.

“Kita jangan sekali-kali saat menyebrang jalan dengan cara menyetop
melalui dilambaian tangan ke atas, itu bukan budaya di sana. Tapi
dengan kuncup jari posisi diacungkan ke atas itu baru disebut etika
dalam menyebrangi jalan raya agar kendaraan yang lewat mengurangi
kecepatannya,” tutur KH Dodo.

Menurutnya, pembekalan keterampilan berbahasa dan materi
pemberlajaran budaya di sana sempat disampakan langsung di salah
satu KBIH yang ada di Kuningan. Ternyata cukup responsip dan
disambut baik oleh para jemaah dimaksud atas pembelajaran bahasa
dan budaya Arab tersebut.
Kiai yang satu ini tergolong mahir dalam
percakapan bahasa tersebut karena ia sebagai dosen Bahasa Arab
disebuah perguruan tinggi maupun di pondok pesantren.
Bahasa Lokal dan Bahasa Fasih
Menurut keterangan, pembelajaran Bahasa Arab bisa menggunakan
bahasa lokal maupun bahasa fasih. Penggunaan bahasa lokal berisipat
bahasa umum yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sedagkan bahasa fasih menggunakan tatabahasa dan ilmu alat dapat
dipergunakan untuk mempelajari Bahasa Alquran. Dalam mempelajari
kitab suci (Alquran) tidak bisa menggunakan bahasa lokal, namun
disertai dengan ilmu alat nahu sorof.

“Insya Allah, saya siap memberikan pembekalan Bahasa Arab,
khususnya bagi jemaah haji yang akan diberangkatkan pada musim haji
tahun sekarang. Baik dalam penggunaan bahasa fasih maupun bahasa
lokal Arab,” pungkas KH Dodo.(Sul)

Related Articles

Back to top button