Finansial

Harga Kedelai dan Plastik Naik Signifikan, Perajin Tempe Tahu Terancam Hentikan Produksi

kacenews.id-MAJALENGKA-Pengrajin tahu dan tempe di Desa Cisambeng Kecamatan Palasah Kabupaten Majalengka, mengeluhkan naiknya harga kedelaui dan meroketnya harga plastik sehingga berdampak pada minimnya penghasilna mereka.

Para perajin tahu dan tempe menuding hal tersebut adalah imbas perang Iran melawan Israel dan Amerika karena bahan baku tempe serta kedelai sepenuhnya mengandalkan kedelai impor asal Amerika, karena kedelai loka tidak bisa memenuhi kebutihan disamping hasilnya yang nilai kurang baik.

Para pertajin di pentra pengrajin tempe dan tahu di Desa Cisambeng mensiasati jualan dengan mmperkecil ukuran agar tetap bisa bertahan.

Uha Suha salah seorang perajin tahu mengaku sejak ada kenaikan harga bahan baku kacang kedelai dan naiknya harga plastik, hampir membuat usahanya goyah antara melanjutkan usaha atau berhenti.

“Awalnya bingung, kalau berhenti saya harus mencari usaha lain, kalau lanjut harga semua naik dan dikhawatirkan kalau perang terus berlanjut kedelai juga pasti harganya akan terus naik, sementara penjualan lesu, pelanggan yang ada juga menurunkan permintaan,” ungkap Uha.

Ia menyebut sementara ini memilih melanjutkan usaha untuk memenuhi permintaan pelanggan walaupun omsetnya tidak sebanyak sebelumnya.

Kenaikan bahan baku kacang kedelai ini mulai naik saat terjadi perang antara Iran dengan Israel dan, dari semula harga kedelai di kisaran Rp 8.500 perkilogramnaik menjadi Rp 10.500 per kilogram.

Walaupun harga kedelai naik, Uha belum bisa menaikan harga jual tempe. Dia masih tetap menjual seharga Rp 32 000 perkantong untuk bahan tempe, dan hingga sekarang tidak mengurangi ukuran dan bentuk tempe.

“Kalau harga tahu sudah mengalami kenaikan seribu rupiah per papannya , dari segarga Rp 37 000 per papan naik menjadi Rp 38 000 per papannya,” ungkap Uha.

Eri pedagang tahu lainnya mengatakan, yang paling terasa dari jualan tahu selain harga bahan baku kedelai yang mengalami kebaikan juga harga plastik pembungkus naik signifikan hampir 100%.

“Harga serba mahal omset terus berkurang, saya petnah menghitung seminggu jualan sempat rugi Rp 2.000.000 karena modal besar penjualan menurun,” kata Eri.

Dadan pedagang keliling tahu tempe mengeluhkan turunnya omset yang cukup tinggi, yang biasanya mampu menjual tahu hingga lima sampai tujuh papan, sekarang hanya bisa menjual separohnya, sehaingga keuntungan per hari yang biasa diperoleh hingga Rp 100.000 , sekarang hanya diperoleh Rp 60.000 saja hingga Rp 70.000.

“Keuntungan sebesar itu keliling hampir seharian, itu belum dikurangi makan. karena kadang makan bawa bekal dan air minum dari rumah supaya tidak jajan,” katanya.

Para perajin dan pedagang tahu dan tempe berharap perang bisa segera berakhir agar harga kedelai dan palstik bisa kembali turun.(Ta)

Related Articles

Back to top button