Atap Kelas SD Budaya Kota Cirebon Ambruk, KBM Terganggu
kacenews.id-CIREBON-Atap ruang kelas di Sekolah Dasar (SD) Budaya yang berlokasi di Jalan Kutagara Selatan, Kelurahan Jagasatru, Kecamatan Pekalipan, ambruk.
Peristiwa robohnya sebagian atap tersebut diduga terjadi karena tidak mampu menahan derasnya air hujan yang mengguyur wilayah Kota Cirebon beberapa waktu lalu.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka, kejadian ini mengakibatkan terganggunya kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa SD di sekolah yang masih satu atap dengan SMP Budaya di bawah naungan Yayasan Pendidikan Budaya Kota Cirebon.
“Kelas tersebut berada di lantai satu yang sebelumnya digunakan untuk siswa kelas IV atau V SD, sedangkan siswa SMP menempati lantai dua,” ujar Ketua Yayasan Pendidikan Budaya Kota Cirebon, Agus Sukmawanto, saat ditemui di sekolah tersebut, Rabu (8/4/2026).
Untuk saat ini, perbaikkan ruang kelas menggunakan dana pribadi Agus. Sementara, siswa SD yang sebelumnya menempati ruangan tersebut, kini harus bergabung dengan kelas lain dalam satu ruangan yang hanya dipisahkan oleh sekat sederhana.
“Belum ada bantuan. Saya sampai memperbaiki atap tersebut dengan meminjam uang di Bank Mekar. Perbaikan dilakukan bertahap karena masih kekurangan bahan,” kata Agus.
Selain ruang kelas tersebut, Agus menyebutkan sejumlah bagian atap gedung sekolah lainnya, seperti lorong dan ruang guru, juga mengalami kerusakan serupa.
“Banyak yang rusak, genteng banyak yang pecah. Atap ruang musala juga ambruk dan sampai saat ini belum bisa digunakan. Kami sudah melapor ke pihak terkait, tetapi belum ada perbaikan hingga sekarang,” tuturnya.
Gedung SD yang berdiri sejak 1962 dan SMP sejak 1988 itu sempat mendapatkan bantuan perbaikan dari pemerintah pada 2022–2023, namun atap ruang kelas tidak ikut diganti.
“Belum lama ini juga sempat dilakukan pengukuran, tetapi tidak mendapat bantuan. Saya berharap ada perhatian dari Gubernur, Kang Dedi Mulyadi (KDM),” ucap Agus.
Menjelang dibukanya penerimaan murid baru tahun ajaran 2026/2027, Agus menilai kondisi tersebut dapat berdampak pada citra sekolah.
“Jumlah siswa SD saat ini sekitar 50 orang, sedangkan SMP 20 orang. Dulu jumlahnya mencapai ratusan. Saya juga mengajar dan peduli dengan pendidikan. Saya berharap pihak terkait melakukan sidak ke sekolah swasta, tidak hanya ke sekolah besar,” pungkasnya.(Jak)





