Ekonomi & Bisnis

Harga Naik, Inflasi Cirebon Tetap Terkendali di Awal 2026

kacenews.id-CIREBON-Aktivitas ekonomi di Kota Cirebon pada awal tahun 2026 berjalan dengan dinamika yang cukup terasa. Sejumlah harga kebutuhan mulai merangkak naik, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran. Meski demikian, laju inflasi masih berada dalam batas aman.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon mencatat, inflasi tahunan (year-on-year/y-o-y) pada Maret 2026 mencapai 3,54%. Kenaikan ini terlihat dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang bergerak dari 105,64 pada Maret 2025 menjadi 109,38 pada Maret 2026.

Kepala BPS Kota Cirebon, Samiran, menggambarkan kondisi tersebut sebagai bagian dari tren kenaikan harga yang terjadi di sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat.

“Perkembangan harga berbagai komoditas pada Maret 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan, yang sebagian besar berasal dari kelompok pengeluaran,” ujarnya pada, Rabu (1/4/2026).

Tidak hanya secara tahunan, pergerakan harga juga tampak pada skala bulanan. Pada Maret 2026, inflasi month-to-month (m-to-m) tercatat sebesar 0,68%. Sementara secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date/y-to-d), inflasi mencapai 1,03%.

Meski angka tahunan terlihat cukup tinggi, gambaran yang lebih utuh justru terlihat dari pergerakan bulan ke bulan. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Renggani, menilai kondisi inflasi di Kota Cirebon masih relatif stabil.

“Secara year-on-year memang terlihat lebih tinggi, namun ini dipengaruhi oleh base line tahun 2025 saat ada diskon tarif listrik. Ketika efek tersebut tidak lagi muncul, angka inflasi tampak meningkat,” tuturnya saat kegiatan Ngopi Bareng Media, belum lama ini.

Ia menjelaskan, jika melihat pergerakan dari Januari – Maret, kondisi inflasi justru cukup terkendali.

“Januari sempat terjadi deflasi, kemudian Februari sekitar 0,8%, dan Maret di momen Lebaran berada di kisaran 0,6%. Ini menunjukkan pergerakan yang relatif stabil,” lanjut Wihujeng Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon.

Menurutnya, stabilitas tersebut tidak terjadi begitu saja. Ada kerja bersama dari berbagai pihak yang terus menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.

“Ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bulog, serta pihak lainnya dalam Tim Pengendali Inflasi. Kami fokus pada 4 hal utama, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi efektif kepada masyarakat,” tegas Wihujeng.

Upaya komunikasi juga dinilai penting untuk menjaga perilaku konsumsi masyarakat tetap rasional, terutama di tengah momen-momen tertentu seperti hari besar keagamaan.

Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Fickry Widya Nugraha, menambahkan, tekanan inflasi pada Maret masih bisa diredam berkat stabilnya harga sejumlah komoditas utama.

“Komoditas seperti beras, daging ayam, telur, dan jeruk relatif stabil, sehingga tekanan inflasi tetap terjaga,” ujarnya.

Ia menyebut, inflasi bulanan pada Maret berada di kisaran 0,63%, mencerminkan kondisi pasar yang masih cukup terkendali meski permintaan meningkat.

Dengan tren yang ada, inflasi di Kota Cirebon tidak hanya mencerminkan kenaikan harga, tetapi juga menunjukkan bagaimana upaya pengendalian terus berjalan agar daya beli masyarakat tetap terjaga.(Sylviani)

Related Articles

Back to top button