Harga Plastik Naik, Pedagang Mulai Terbebani
kacenews.id-CIREBON-Kenaikan harga plastik kemasan mulai terasa di Pasar Sumber, Kabupaten Cirebon, memasuki April 2026. Kondisi ini perlahan memberi tekanan tambahan bagi pedagang, di tengah aktivitas pasar yang belum sepenuhnya pulih.
Plastik yang sebelumnya dianggap sebagai kebutuhan pelengkap, kini justru menjadi komponen biaya yang ikut memengaruhi perputaran usaha. Dalam beberapa waktu terakhir, harganya mengalami kenaikan yang cukup cepat dan dirasakan langsung di lapangan.
Asri, pedagang di Toko Plastik Kembar, menuturkan harga berbagai jenis plastik, mulai dari kantong belanja hingga kemasan makanan mengalami penyesuaian.
“Kenaikannya terasa dalam waktu dekat. Hampir semua jenis plastik ikut naik,” ujarnya saat ditemui KC di Pasar Sumber, Selasa (7/4/2026).
Ia menyebut, perubahan harga terjadi berulang di tingkat distribusi, sehingga pedagang perlu menyesuaikan harga jual secara bertahap.
“Pembeli tetap ada, tapi kami juga harus menyesuaikan. Karena kalau tidak, biaya yang ditanggung jadi lebih besar,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, plastik tetap menjadi kebutuhan yang sulit digantikan dalam aktivitas jual beli sehari-hari. Pedagang maupun pembeli masih bergantung pada kemasan tersebut untuk menunjang transaksi.
Kenaikan ini turut dipengaruhi oleh harga bahan baku plastik yang berasal dari turunan minyak bumi, yang mengalami fluktuasi di pasar global. Situasi tersebut berdampak pada rantai pasok hingga ke tingkat pedagang.
Menanggapi perkembangan itu, Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menyampaikan pemerintah tengah menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas harga.
“Kami sedang membuka peluang kerja sama dengan pemasok lain, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, agar harga bisa lebih stabil,” ujarnya, dikutip dari PikiranRakyat.com.
Ia menambahkan, upaya tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus mendukung kelangsungan usaha para pedagang.
“Kami berupaya menjaga distribusi tetap lancar dan harga bisa dikendalikan, sehingga pedagang tetap bisa bertahan,” lanjut Budi.
Langkah ini diharapkan dapat membantu meredam tekanan harga di pasar, sehingga aktivitas perdagangan tetap berjalan dan pelaku usaha dapat menyesuaikan diri secara bertahap.
Di sisi lain, kondisi ini menjadi pengingat jika dinamika harga tidak hanya terjadi pada bahan pangan, tetapi juga pada kebutuhan pendukung yang selama ini kerap luput dari perhatian.(Sylviani)





