Opini

Dahsyatnya Silaturahim

Oleh: Drs. D. Rusyono, M.Si.
Anggota Juken & Mengajar pada UBHI Kuningan

Manusia secara kodrati/sunatullah memiliki dua potensi, yaitu bisa benar dan salah, kemudian berinteraksi dengan sesamanya guna memenuhi kebutuhannya baik secara habluminallah maupun habluminanas, karena dengan silaturahim selain salah satu perbuatan yang disukai Allah juga dapat memperoleh berbagai kebaikan bahkan termasuk salah satu amalan/ibadah yang mulia bagi yang melakukannya, oleh karenanya wajib dijaga/dijalin karena bernilai manfaat yang luar biasa diantaranya dapat mempererat persaudaran, mendatangkan keberkahan rejeki dan memanjangkan umur, harmonisasi sosial serta tindakan yang diridhoi Allah, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits yang cukup populer yang berbunyi “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahim”. (HR Bukhari & Muslim). Sekaligus ditegaskan pula kebalikannya bahwa “Tidak akan masuk surga bagi orang yang memutuskan silaturahim” (HR. Bukhari & Muslim).

Merujuk kepada hadits di atas, lebih rinci dijelaskan tentang hikmah/manfaat silaturahim secara Islam meliputi menumbuhkan cinta dan kasih sayang, menghapus dosa dan meningkatkan pahala, menguatkan ukhuwah Islamiyah, membentuk kepribadian, rendah hati, menumbuhkan keberkahan keluarga, wujud syukur kepada Allah dan jalan menuju surga.
Arti silaturahim sendiri adalah secara etimologi berasal dari bahasa Arab yaitu Shilah dan Rahim. Shilah berasal dari kata washola-yashilu-shilatan yang bermakna menjalin atau menghubungkan/menyambung. Sedangkan Rahim berasal dari kata Rahima yang bermakna kasih sayang/menyayangi. Persaudaraan. Jadi Silaturahim adalah sebagai proses/tindakan menyambung tali persaudaraan, persahabatan, termasuk menjalin/menyambung kembali kekerabatan yang sempat putus. Sedangkan pengertian lain menurut kaidah bahasa Indonesia disebut dengan Silaturahmi yaitu sebagai proses/tindakan mempererat persahabatan dan persaudaraan baik dengan kalangan keluarga maupun kerabat lain. (KBBI, 2022). Jadi baik silaturahim maupun silaturahmi secara prinsip tidak ada perbedaan baik secara substantif/esensi karena merupakan sama-sama bernilai kebaikan dalam bentuk “berhubungan baik dengan keluarga/kerabat dan orang-orang terdekat baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui sarana/media), sehingga ikatan yang kuat dalam hubungan kekeluargaan/kekerabatan tetap terjaga” (Aqua Dwipayana, 2016).
Dalam hal Komponen Silaturahim menyangkut seluruh anggota tubuh, apabila dianalogikan dengan sebuah Satuan Tugas (Satgas) dengan mekanisme sebagai berikut:
Hati walaupun hanya segumpal daging tetapi berperan sebagai Komandan yg memegang kunci/penentu secara keseluruhan akan memberi warna/kesan kepada seluruh anggota tubuh tentang keberadaan manusia yang biasa dikenal dengan karakter/sikap (attitude), kemudian otak adalah Koordinator Lapangan yang siap merealisasikan kebijakan dari hati dalam bentuk perilaku (behavior) yang ditransformasikan kepada organ tubuh lain dalam bentuk gerak operasional (action).
Selanjutnya karena silaturahim merupakan ibadah yang aplikatif, maka dalam tataran implementasi/operasionalnya harus mengacu kepada aspek sbb ; Dasari dengan niat/tekad yang kuat, lalu lakukan dengan rasa ikhlas/tulus hanya karena Allah (tanpa tekanan/tanpa beban/tanpa nilai kepentingan tertentu) kemudian barengi dengan berpikiran positif (positif thinking) dan percaya diri yang wajar (self confidance), malah akan lebih mulia dibarengi pula dengan jiwa memaafkan sebelum diminta. Allah saja Maha Pemaaf dan selalu berprasangka baik kepada hamba-Nya, hanya kitanya saja terkadang tidak tahu diri, sebagaimana dalam nukilan hadits sebagai berikut “Aku (ALLAH) sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila dia memohon kepada-Ku”(Hadits Nabi Muhammad SAW diriwayatkan oleh Imam Muslim). Kemudian di keterangan lain ditegaskan bahwa Allah sendiri yang menjamin “Setelah kesulitan selalu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah : 5-6), serta dalam surat yang lain disebutkan pula “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepamu” (Adh-Dhuha : 3).
Adapun Keberhasilan Silaturahim terletak pada aspek personality yaitu meliputi aspek niat dan kesempatan, yang secara managerial tercakup dalam formulasi Tahu, Mampu dan Mau yang secara rinci meliputi ; TAHU, dengan berbekal kapabilitas yang dimiliki orang akan tahu bahwa silaturahim itu adalah penting dan harus dilakukan guna mencapai suatu tujuan, terlebih dalam wujud habluminanas dan habluminallah. Kemudian MAMPU, setiap insan yakin dan pasti mampu untuk melakukan silaturahim dengan berbagai cara/metoda secara ruang dan waktu, terlebih lebih indah dengan bingkai asah, asih, asuh. (wawasan/keterampilan, peduli/berbagi serta saling mendukung/penguatan/pemberdayaan). Sedangkan MAU, biasanya ini yang jadi persoalan, mau atau tidak bisa menjadi penentu (kata kunci), karena meskipun dua aspek Tahu dan Mampu terpenuhi tetapi tanpa kemauan, maka tdk mungkin akan terwujud. Oleh karenanya Hati yang baik harus hadir tampil di depan.
Kemudian dampak/feedback dari Silaturahim akan muncul diantaranya dalam bentuk banyak kawan/relasi, Jalan menuju sukses, bertambah ilmu dan pengalaman, Memanjangkan umur, mendapat keberkahan (lahir-batin) serta memperkuat jejaring/komunitas.
Dengan memperhatikan uraian di atas, terlebih dengan momentum Ramadan 2026/1447 H sampai tiba dihari kemenagnan Idul Fitri, maka tidaklah berlebihan bahwa manusia butuh akan silaturahim, karena dengan silaturahim terdapat banyak kebaikan yang terkandung didalamnya diantaranya dapat mempererat jalinan kekeluargaan, persahabatan/pertemanan, saling menolong/membantu dan hal-hal lain yang bersifat positif. Oleh karena itu jalinlah silaturahim sebagaimana mestinya sesuai dengan tuntunan syar’i, melalui interaksi sosial yang dibingkai dengan asah, asih, asuh. Lakukan pula interaksi/komunikasi dengan Allah melalui pola takwa yakni menjalankan segala yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya, sebagaimana tujuan puasa Ramadan adalah taqwa.

Kemudian wabil khusus di gerbang kemenangan Ramadan yaitu Idul Fitri, silaturahIm menjadi simbol dan momen penting untuk saling bermaaf maaf-an agar jiwa raga bersih/suci kembali untuk melanjutkan perjuangan di sisa umur yang ada, karena belumlah disebut kemenangan apabila tanpa dihiasa/dibingkai dengan silaturahim dengan segala aspek pendukungnya, karena kemenangan yang hakiki adalah kemenangan yang diridhoi Allah SWT.

Dan juga setiap produk yang dilakukan oleh manusia baik dalam sikap, bahasa dan perilaku termasuk dalam silaturahim itu sendiri senantiasa akan berdampak risiko/konsekuensi dalam bentuk sebab dan akibat (kausalitas), oleh karenanya kita senantiasa harus berhati-hati dan bijak dalam menjaga diri, setiap langkah tidak akan menghianati hasil, stiap yang ditebar berupa kebaikan, maka insya Allah akan menuai kebaikan pula, serta berlaku sebaliknya. Jadi apapun yang kita hadapi sikap yang harus dikedepankan adalah bersyukur, ikhlas, berpikir positif dan selalu berbaik sangka itulah hakekat silaturahim.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati mari kita selalu menjaga/menjalin silaturahim, karena dengan silaturahim apapun akan menjadi indah. Selamat “Idul Fitri 1447 H, Mohon maaf lahir dan batin, taqoballahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum ya karim”, dan semoga kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bertemu kembali dengan Ramadhan/Idul Fitri yang akan datang. Aamiin ya Rabbal Alaamiin !***

Related Articles

Back to top button