Opini

Jangan Buang Sampah Sembarangan

Oleh: Angga Putra Mahardika
Penulis Buku

Pernahkah Anda menemukan sampah di halaman rumah, kemudian menyapu; mengumpulkannya menjadi satu dan membinasakan mereka dengan api. Kalau Anda pernah melakukan itu, kecerdasan sudah menetap di kepala. Karena dari banyak cara untuk mengurai sampah, Anda memilih membakarnya, membumihanguskan dengan cepat, tanpa biaya; hanya modal korek api saja, sampah domestik sudah hilang.
Anda tak perlu memikirkan cuaca, pernapasan orang lain, perubahan iklim, apalagi hal rumit seperti kadar ozon di atmosfer. Yang penting rumah Anda rapi, beres, tak ada lagi yang perlu dirisaukan, bukan?
Namun, jika Anda ini adalah orang yang cerdas nan bijaksana. Pastilah Anda akan mendengar saran-saran orang lain, tidak mungkin tak peduli, kan Anda orang cerdas.
Tujuan Esai ini adalah saran untuk orang-orang cerdas yang suka membakar sampah. Mengetahui pula, ada langkah yang lebih cerdas dari sekadar memproduksi asap karbon hitam yang membuat sesak napas.
Berapa banyak sampah yang Anda hasilkan dalam sehari? Biasanya seminggu atau tiga hari, tergantung jumlah orang di rumah.Kalau konteksnya sampah rumahan, sebelum memulai membuang sampah, selimuti dulu bagian dalam tong dengan plastik. Jika sudah penuh diikat dan letakkan di depan rumah, atau TPS terdekat. Dan jika konteksnya Anda memiliki bisnis rumahan, Anda semacam memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Karena sampah Anda rutin keluar setiap hari, dan melakukan kegiatan ekonomi yang menguntungkan diri. Berbeda dengan rumahan yang sewajarnya, kalian yang berbisnis punya tanggungan moral. Bila sampah itu tetap dibakar, Anda sudah berada di tahap manipulatif. Mencapai tujuan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain. Setelah dibungkus, letakkan depan rumah atau TPS terdekat dan selamat, Anda berhasil setingkat lebih cerdas.
Namun, setelah dibungkus sampah itu masih ada, atau tidak ada TPS di sekitar rumah. Anda bisa menghubungi pimpinan terdekat; mulai dari RT, RW hingga kuwu atau lurah. Setelah dihubungi, “Bakar saja biar cepat beres!” ujar mereka. Satu hal yang perlu Anda ketahui, jangan pilih mereka lagi sebagai pemimpin. Untuk apa pemimpin yang kecerdasannya berada di bawah Anda?
Kalau menghubungi perangkat desa belum membantu, boleh meminta bantuan fasilitas dari desa untuk ke kecamatan. Apakah mereka ada tindakan atau tidak, bila tidak ada naik lagi ke kabupaten dengan meminta fasilitas kecamatan. Setelah mengurus hal ini Anda akan menjadi semakin cerdas mengelola administrasi.
Bisa jadi setelah Anda melakukan hal baik ini akan dibangun TPS dekat rumah atau ada petugas kebersihan dari desa yang mengangkat sampah Anda. Biasanya solusi administratif ini adalah langkah yang normal warga lakukan. Jika masih belum efektif juga, boleh divideokan dan diviralkan, barangkali membuat pejabat sekitar mulai sadar dan akan mengurus hal ini. Secepat dana desa turun.
Rata-rata solusi sampah di kota, atau wilayah padat penduduk memang sulit. Sudah diajukan, respon lambat. Asap beracun tetap mengudara sedangkan yang terdampak tetangga sebelah rumah. Permasalahan sampah juga berkutat ke pengelolaan daerah. Lingkungan orang kaya atau perumahan mewah, mereka punya sistem TPS yang berbeda. Bukan berarti penulis menyuruh menjadi orang kaya, hanya saja pengelola mereka biasanya swasta; yang juga mengurus dengan syarat keuangan yang sudah matang.
Solusi paling cerdas dan justru ironi adalah mengalah. Anda tidak bisa menyerahkan masalah sampah ini ke orang lain lagi. Jangan sampai membandingkan diri atau desa terhadap milik orang lain. Itu tak menyelesaikan masalah. Anda yang harus bertanggungjawab urusan sampah Anda. Ironis memang, sudah bayar pajak namun rakyat masih mengambil peran sebagai pembersih lingkungan. Lantas untuk apa dinas lingkungan hidup? Ingat, orang cerdas bukanlah orang yang suka menyalahkan orang lain. Namun, proaktif mengatasi masalah langsung, sebagai aksi turut membantu menjaga Ibu Pertiwi.
Menyadari mengurus sampah ini sangat sulit dilakukan jika sendiri, penulis yakin bahwa orang seperti Anda di desa tidak hanya satu. Coba temukan atau cari mereka, dengan kecerdasan kalian yang miliki bersama, setidaknya masalah ini menjadi lebih ringan. Mulai rapat, diskusi, dan realisasi. Banyak solusi yang bisa ditemukan jika memulai bersama. Diusahakan tetap bekerja secara gotong-royong, akan sangat malas jika tetap menggunakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Alangkah lebih baiknya menggunakan metode Bank Sampah atau bekerja sama dengan pengepul sampah. Dengan ini, tujuan untuk menjaga kecerdasan ditopang dari segi ekonomi dan relasi. Sampah yang Anda kira tidak berguna, kini bisa membuat Anda menemukan pundi-pundi cuan dan rekan kerja sama; siapa sangka?
Di balik kekuatan besar, ada tanggung jawab besar. Di balik kesulitan, pasti ada kemudahan. Dibalik dampak yang efektif, ada usaha panjang di belakangnya. Masalah sampah tidak akan selesai hanya dengan 1-3 bulan. Barangkali bisa puluhan tahun baru ekspektasi yang ada di kepala Anda bisa menjadi nyata. Selain kecerdasan yang brilian, dibutuhkan sesuatu lain semacam keyakinan, kesabaran, dan tekad pantang menyerah. Alih-alih selamanya menjadi cerdas, justru Anda bisa menjadi bijaksana; jauh di atas cerdas, jauh sekali.
Dunia membutuhkan Anda, pengelolaan memerlukan perubahan yang berakar dari individu dan intelektualitas mandiri. Percayalah bahwa Anda bisa mengatasi masalah ini. Cara mudah memang menggiurkan, dan tanpa sadar, seketika melalaikan. Barangkali ini bukan soal cerdas dan bukan. Ini soal kepedulian yang mulai timbul di hati Anda. Renungi sejenak, meski sulit di saat sekarang ini. Jangan biarkan semuanya terjadi sekenanya.***

Related Articles

Back to top button