Harga Gabah Tembus Rp 850 Ribu/Kuintal, Petani Sambut Optimistis Panen Tahun Ini
kacenews.id-MAJALENGKA-Harga gabah kering giling di sejumlah wilayah Kabupaten Majalengka mulai mengalami kenaikan seiring masuknya musim panen. Saat ini harga gabah berada di kisaran Rp 820.000 hingga Rp 850.000 per kuintal, naik dari sebelumnya sekitar Rp 800.000 per kuintal.
Kenaikan juga terjadi pada harga beras di tingkat penggilingan, dari Rp 13.300 menjadi Rp 13.500 per kilogram.
Beberapa wilayah yang mulai memasuki masa panen antara lain Desa Jatipamor dan Pasirmuncang di Kecamatan Panyingkiran, sebagian Desa Pakubeureum di Kecamatan Kertajati, serta sejumlah area di Kecamatan Majalengka.
Petani di Desa Jatipamor bahkan telah memulai panen sejak sepekan lalu dengan kondisi tanaman padi yang relatif baik karena nyaris tidak terserang hama.
Mereka menyambut panen tahun ini dengan optimistis, terlebih harga gabah justru mengalami kenaikan.
“Alhamdulillah panen sae mudah-mudahan pangaosna oge sae,” ungkap Dadang, petani Desa Jatipamor.
Hal serupa disampaikan petani di Desa Pakubeureum dan Kertawinangun.
Mereka menyebut hasil panen rendeng tahun ini cukup baik dan tidak terdampak banjir seperti tahun sebelumnya. Meski sempat ada serangan wereng menjelang panen, kondisi tersebut dapat segera dikendalikan.
“Sekarang sudah panen sebagian, hasilnya ya bagus.” ungkap Ajis, petani Pakubeureum yang tengah panen di Blok Leuweungbata.
Ajis berharap masih bisa menikmati harga gabah yang tinggi untuk menjadi bekal kebutuhan menjelang Lebaran. Di wilayahnya, petani biasanya langsung menjual gabah di sawah atau setelah dikeringkan untuk modal tanam kedua, terlebih proses penjemuran cukup menyulitkan karena masih musim hujan.
Koordinator PPL Kecamatan Kertajati, Suharto, membenarkan, musim panen mulai berlangsung pada pekan ini. Hingga akhir Februari, luas areal sawah yang dipanen diperkirakan mencapai sekitar 69 hektare, sementara puncak panen diprediksi terjadi pada Maret mendatang.
Menurut Suharto, tantangan utama musim panen saat ini adalah cuaca yang kurang bersahabat sehingga menyulitkan proses penjemuran gabah. Jika terlalu lama tidak terkena matahari, kualitas gabah berpotensi menurun.
“Kalau hujan terus gabah bisa hitam atau tumbuh tunas, harapannya cuaca bisa bagus agar gabah bisa terkena matahari sehingga kualitas gabah bagus dan nilai jual juga bagus,” ungkap Suharto.
Terkait hama, ia menyebut menjelang panen terdapat sedikit ancaman wereng di beberapa wilayah. Namun pihaknya telah bersiaga melalui kerja sama dengan perusahaan pestisida serta dukungan dari Dinas Pertanian.
“Ancaman wereng ada sedikit tapi kami kerjasamakan dengan perusahaan pestisidan, kedua dari Dinas, ada stimulus racun/ pestida sekarang yang dilakukan adalah edukasi kepada para petani,” ungkap Suharto.
Suharto menambahkan, dari sisi harga gabah saat ini tidak menjadi persoalan karena sudah berada di atas harga pembelian pemerintah (HPP), bahkan lebih tinggi, sehingga PPL belum perlu berkoordinasi dengan Bulog untuk penyerapan gabah petani.(Tat)





