Anggota Komisi III DPRD Kota Cirebon Dorong Pemkot Beri Penghargaan Mayor Tan Tjin Kie
kacenews.id-CIREBON-Mayor Tan Tjin Kie (1853–1919) adalah seorang pengusaha kaya, filantropis, dan birokrat Tionghoa berpengaruh di Cirebon era Hindia Belanda yang memimpin keluarga Tan.
Dikenal sebagai Raja Gula dengan beberapa pabrik (Leuweunggajah, Kalitanjung), ia mendanai fasilitas umum seperti sekolah dan rumah sakit. Pemakamannya pada 1919 tercatat sebagai yang termahal di Jawa.
Atas hal itu, Anggota Komisi III DPRD Kota Cirebon Fraksi PDI Perjuangan Umar Stanis Klau (USK) mendesak Pemerintah Kota Cirebon memberikan penghargaan kepada Tan Tjin Kie dengan membangun kembali makamnya di Dukuh Semar, Kota Cirebon
“Kalau itu direalisasikan bisa menjadi objek wisata budaya dan sejarah. Tentunya, karena Tan Tjin Kie sudah sangat dermawan dalam membangun Cirebon salah satunya RSD Gunung Jati,” tegas USK.
USK menjelaskan, Tan Tjin Kie lahir dari keluarga peranakan kaya di Cirebon, ia menjadi tokoh utama komunitas Tionghoa.
“Apalagi, beliau menjabat sebagai mayor-tituler Tionghoa, penghubung antara komunitas Tionghoa dan pemerintah kolonial,” jelasnya
Tak hanya itu, lanjut USK, Tan Tjin Kie dikenal toleran dan dermawan, ia membangun rumah sakit (sekarang RSD Gunung Jati), vihara, dan mendukung sekolah.
“Sosok yang sangat dermawan, tentunya ia juga memiliki ribuan hektare tanah dan rumah mewah. Ia wafat pada 13 Februari 1919, dimakamkan 40 hari kemudian dengan prosesi megah yang melibatkan arak-arakan budaya yang dipadati oleh kalangan masyarakat semua,” paparnya
Kemudian, kata USK, pada tahun 1912 sempat terjadi konflik kecil Tionghoa dan Arab di Cirebon. Dan atas tangan dinginnya, beliau menjadi juru damai.
“Berakhir damai tanpa berkepanjangan dan tanpa pertumpahan darah,” ujarnya.
Menurut USK, jasa Tan Tjin Kie sudah waktunya diajarkan pada generasi muda di sekolah.
“Ini sifatnya sudah mendesak. Jangan sampai generasi muda hanya tahu jejak digital. Bahaya tidak tahu jejak leluhur, bisa berbahaya karena setiap sudut dan gang semua adalah jejak leluhur Cirebon,” pungkasnya.(Cimot)





