Petani Majalengka Desak Pemda Lakukan Tata Gilir Air yang Benar
kacenews.id-MAJALENGKA-Sejumlah petani di Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka meminta keseriusan pemerintah untuk menata saluran air agar jika musim penghujan sawah mereka tidak kebajiran dan ketika musim kemarau sawah bisa tetap teraliri air, dengan begitu petani bisa sejahtera.
Petani berharap, urusan pengelolaan air untuk petani jangan dijadikan rencana jangka panjang melainkan harus dijadikan jangka pendek agar manfaatnya benar benar dirasakan oleh petani guna kemakmuran petani.
“Nu dibutuhkeun ku petani keseriusan pemerintah dalam menata saluran air sehingga seluruh DAS bisa bermanfaat untuk petani, baik di musim hujan maupun musim kemarau, jangan jadikan urusan pengelolaan air untuk petani jadi rencana jangka panjang karena sejak dulu selalu jangka panjang. Iraha bade jangka pendekna, selama penataan saluran air dijadikan rencana jangka panjang maka selama itu pula petani tidak akan sejahtera, ketika hujan sawahnya kebanjiran, ketika memasuki kemarau sawahnya kekeringan,” ungkap Hidayat petani di Desa Panyingkiran.
Menurutnya, pengalaman yang baru terjadi beberapa pekan kemarin ratusan hektare sawah petani di Kecamatan Jatitujuh terendam banjir hingga berhari – hari dan terpaksa harus tanam ulang akibat tanamannya busuk, itu menunjukan sistim pengelolaan dan penataan saluran air yang buruk.
Akibatnya petani menderita kerugian yang cukup besar, dan kerugian tersebut sepenuhnya ditanggung oleh petani.
Setelah menata saluran air dengan serius, pupuk harus dipermudah, distribusinya harus lancar, jangan sampai distribusi lambat yang berdampak pada lambatnya pemupukan. Kondisi ini sering terjadi hingga akhirnya pertumbuhan padipun lambat.
“Teknologi pertanian berupa alsintan, bagi sebagian besar petani bisa menjadi nomor tiga, yang penting penataan saluran air yang baik dan pupuk selalu tersedia dengan cukup,” katanya.
Aef petani muda lainnya mencontohkan, dia sudah beberapa tahun menggunakan teknologi tandur dengan mesin ternyata hasil kurang bagus dan dianggap lebih bagus tandur dengan cara manual, karena hasil teknologi tandur yang kurang bagus maka tidak banyak petani yang meniru dirinya.
“Coba kalau saja mesin tandur itu hasilnya bagus, pasti banyak petani yang beralih.” Aef yang berusaha memanfaatkan mesin tandur yang rusak kemudian dia perbaiki dan dia gunakan sendiri sejak beberapa tahun terakhir.
Aef termasuk petani muda dengan semangat modernisasi pertanian, walaupun alsintannya didapat dari rongsok (mesin rusak) lalu diperbaiki secara otodidak. Hasilnya hingga saat ini belum memuaskan. Tapi semangat Aef tidak pernah pudar dalam modernisasi pertanian.
Hidayat dan Aef mengatakan, jika saja komponen petani, kelompok tani, POPT, penyuluh pertanian, pedagang pupuk dan obat-obatan pertanian, pihak ketiga, aparat pemerintah baik aparat penegak hukum maupun aparat desa bisa selaras meningkatkan kualitas hidup petani maka yakin petani akan maju.
Sementara itu sejumlah Penyuluh Pertanian mengatakan, banjir yang merendam ratusan hektare sawah petani salah satunya dampak dari penataan saluran air di kawasan BIJB yang kurang baik. Air dari Kawasan BIJB masuk ke saluran air di wilayah Kecamatan Kertajati dan muaranya ke Cibuaya di wilayah Jatitujuh.
“Jadi ketika hujan air sari BIJB masuk ke saluran di Kertajati, dampaknya di Kertakati banyak sawah yang terendam namun tidak berlangsung lama, air tersebut mengalir dan muaranya ke Jatitujuh, jadi wajar jika sawah di wilayah Jatitujuh terkena banjir berhari – hari. Upaya yang harus dilakukan pernaiki drainase di Kawasan BIJB, itu sebetulnya sudah dari dulu dirapatkan dan sudah dikaji oleh PUTR,” ungkap salah seorang Penyuluh Pertanian.(Ta)





