Serangan Tikus Menggila, Picu Gagal Panen Cabai di Kertajati
kacenews.id-MAJALENGKA-Petani cabai di Desa Sukamulya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, mengalami gagal panen akibat serangan hama tikus yang diperparah curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem. Kondisi tersebut menyebabkan pembuahan tidak optimal, sehingga bunga rontok dan buah membusuk sejak masih kuncup. Ironisnya, kegagalan panen terjadi saat harga cabai di pasaran tengah melambung.
Para petani justru menanggung kerugian hingga puluhan juta rupiah. Upaya penyelamatan tanaman dinilai sulit karena serangan tikus terus berulang, sementara penggunaan obat-obatan tidak mampu memperbaiki sistem pembuahan. Edi Candra, petani cabai tanjung yang menanam di lahan sekitar 300 bata, serta Yatna dengan lahan 100 bata, mengaku tidak dapat memanen hasil tanamannya.
Buah cabai rusak akibat gigitan tikus, dengan ciri ujung buah memutih dan mengering. Sebagian lainnya membusuk dan berulat karena hujan yang berlangsung terus-menerus. Selain itu, bunga cabai yang masih kuncup maupun mulai mekar banyak yang berjatuhan sehingga tidak menjadi buah.
Menurut petani, kondisi tersebut sulit diatasi meski telah disemprot obat daun dan pupuk perangsang buah seperti Gandasil D dan B. “Waktu berbuah, ujungnya digigit tikus sehingga perkembangan buah rusak. Ujungnya kering memutih dan terpaksa dibuang karena mengganggu buah lain,” kata Yatna.
Ia mengaku mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah. Edi Candra menambahkan, petani cabai di Sukamulya rutin menanam cabai setiap tahun. Namun, tahun ini menjadi yang terberat karena gagal panen.
Jenis cabai yang ditanam meliputi cabai tanjung dan cabai rawit, yang biasanya dibeli oleh bandar setempat. “Biasanya setiap hari di depan rumah warga bertumpuk karung cabai untuk ditimbang dan diambil bandar. Sekarang cabainya habis oleh tikus. Saat harga mahal, kami tidak bisa menikmatinya,” ujar Edi.
Sementara itu, Dasep, bandar cabai di Sukamulya, mengatakan harga cabai di tingkat petani saat ini tinggi. Cabai tanjung dijual Rp25.000 hingga Rp40.000 per kilogram, tergantung kualitas.
Di tingkat pengecer, cabai hijau masih Rp12.000 per kilogram, sedangkan cabai merah kualitas super dapat mencapai Rp40.000 per kilogram. “Namun cabai kualitas super kini sulit diperoleh karena banyak petani gagal panen,” kata Dasep.
Untuk menekan kerugian lebih besar, petani yang terdampak gagal panen berencana mengganti tanaman cabai dengan paria. Komoditas tersebut dinilai lebih tahan dan jarang mengalami gagal panen, dengan harga yang relatif stabil.(Tat)





