Berstatus KLB, Perlu Langkah Cepat Tekan Penyebaran Campak di Kota Cirebon
kacenews.id-CIREBON-Kota Cirebon berada dalam status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak sejak 20 Februari 2026. Kondisi ini tidak hanya menjadi persoalan data kesehatan, tetapi juga memunculkan kecemasan di kalangan orang tua yang khawatir terhadap keselamatan anak-anak mereka.
Anggota Komisi III DPRD Kota Cirebon, Rinna Suryanti, mengemukakan situasi ini membutuhkan respons cepat serta kerja sama dari seluruh elemen, baik pemerintah maupun masyarakat. Ia menilai, penanganan campak harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak bisa berjalan secara parsial.
“Langkah cepat dan terkoordinasi dari seluruh pihak sangat diperlukan untuk menekan penyebaran penyakit menular ini. Jangan sampai kasus terus bertambah karena keterlambatan penanganan,” katanya.
Selain itu ia menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat, khususnya terkait imunisasi dan deteksi dini gejala campak. Menurutnya, pemahaman yang baik akan membantu masyarakat mengambil langkah cepat ketika muncul gejala, sehingga risiko penularan dapat ditekan.
Rinna juga menekankan bahwa masyarakat memiliki peran besar dalam memutus rantai penyebaran penyakit.Sehingga warga diajak untuk kembali membiasakan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.
“Mulai dari hal kecil seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, hingga memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap, itu semua adalah bentuk perlindungan bagi keluarga kita,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, jumlah kasus positif campak di Kota Cirebon terus meningkat pesat sejak akhir 2025 sampai dengan saat ini. Terbaru, dua anak berusia di bawah dua tahun dilaporkan meninggal dunia akibat campak.
Dokter Spesialis Anak RSD Gunung Jati Cirebon, Suci Saptyuni mengungkapkan, kedua anak tersebut meninggal tidak hanya karena campak saja, tapi juga karena faktor penyakit pemberat lain, yakni kelainan jantung dan juga gizi buruk.
“Kedua anak tersebut memang ada faktor pemberatnya, di samping tidak dilakukan imunisasi yang lengkap terutama campak,” katanya.
Selain dua anak tersebut, RSD Gunung Jati juga menerima pasien dalam kondisi gawat sebanyak empt pasien. Beberapa pasien bahkan harus dirawat inap lantaran bergejala demam tinggi, dehidrasi, dan juga komplikasi.
Dalam beberapa kasus, RSD Gunung Jati mendapati adanya komplikasi dari radang paru, sakit telinga, bahkan sampai dengan infeksi berat, dan juga bisa menyebabkan radang otak.
Suci menyampaikan organisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah mengeluarkan beberapa rekomendasi terkait kondisi ini. Kemudian upaya yang paling utama adalah mengejar imunisasi.(Cimot)





