Segera Tanam Padi MT II, Penyuluh Lapangan Segera Koordinasi dengan Kelompok Tani
kacenews.id-MAJALENGKA-Seiring adanya pemberitahuan BMKG bahwa musim kemarau diperkirakan akan terjadi lebih awal, para petani di Kabupaten Majalengka disarankan segera melakukan tanam padi MT II.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka, Gatot Sulaeman mengungkapkan, pihaknya sudah mengintruksikan semua Penyuluh Lapangan Pertanian untuk segera berkoorsinasi dengan kelompok tani dan para petani agar segera tanam MT II.
Untuk sebagian wilayah yang panennya sudah selesai telah melakukan tanam, bahkan sebagian sudah melakukan pemupukan pertama, sebagian lagi masih masih menggarap lahan selepas panen rendeng.
“Semua petugas lapangan telah berkoordinasi, apalagi untuk daerah–daerah sawah tadah hujan yang bisa melakukan dua kali tanam, karena mereka mengandalkan curah hujan untuk pengairannya,” ungkap Gatot.
Menurutnya, sementara ini belum seluruhnya panen, ada sebagian wilayah yang baru akan menjalani musim panen, karena mereka pada MT I terlambat tanam akibat curah hujan yang tidak merata, terutama wilayah Jatitujuh, Ligung dan sebagian Kertajati yang tidak mendapat pasokan air irigasi.
Disinggung soal produksi gabah, Gatot menyebutkan, hasil panen Januari sampai dengan Maret mencapai 204.261 ton dari total lahan panen luas 31.253 hektare.
Stasiun Klimatologi Jawa Barat, merilis Prediksi Musim Kemarau 2026 untuk wilayah Jawa Barat, berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan model prediksi iklim periode normal 1991–2020, musim kemarau tahun ini diprakirakan datang lebih cepat dari normal dengan sifat hujan didominasi Bawah Normal di sebagian besar wilayah.
Awal musim kemarau diprediksi terjadi bertahap mulai Maret hingga Juni 2026, dengan sebagian besar wilayah memasuki musim kemarau pada Mei 2026.
Awal musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada Maret 2026: 1 ZOM (2,4%) meliputi wilayah Bekasi bagian utara, Kota Bekasi bagian utara, dan Karawang bagian barat laut.
Selanjutnya pada April 2026: 4 ZOM (9,8%), diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Bekasi, Karawang, Purwakarta bagian timur laut, Subang bagian utara, Indramayu, serta sebagian wilayah Cirebon. Sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026: 23 ZOM (56,1%), meliputi sebagian wilayah Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, serta wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Ciamis, dan Banjar.
Kemudian pada Juni 2026: 12 ZOM (29,3%), musim kemarau diperkirakan meluas ke sebagian besar wilayah Bogor, Sukabumi bagian utara, Cianjur bagian barat laut, Bandung Raya, Garut bagian tenggara, Tasikmalaya bagian selatan, dan Pangandaran bagian barat. Selain itu terdapat 1 ZOM bertipe satu musim (2,4%).
Secara umum, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami sifat hujan Bawah Normal, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan durasi kemarau berkisar 13–15 dasarian dan diprediksi memiliki durasi lebih panjang dari normal.
Dengan sifat hujan yang didominasi bawah normal dan durasi kemarau yang cenderung lebih panjang, potensi dampak yang perlu diwaspadai antara lain, klekeringan meteorologis, penurunan ketersediaan air bersih, gangguan irigasi pertanian, peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi potensi kekeringan, penurunan ketersediaan air, gangguan irigasi pertanian, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan, melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih optimal dan penyesuaian kalender tanam.(Ta)



