Ramadan Pergi, Apa Lagi yang Mesti Dicari?
Oleh : Drs. D. Rusyono, M.Si.
Anggota DKM Miftahussalam Puri Asri-Kuningan
Ramadan dan Idul Fitri telah pergi
Selesai Menyinari hati
Muhasabah diri sesama insani
Tinggal kita memperbaiki diri
Mengamalkan hasil menempa diri
Dalam kehidupan sehari-hari
Semoga kita masih bertemu di Ramadan nanti
Penggalan syair di atas mudah-mudahan dapat menjadi pengingat, bahwa kita harus selalu mempersiapkan diri dalam setiap situasi apapun yang akan terjadi, karena ketentuan Ilahi tidak akan bisa dipungkiri. Sebut saja pasca Ramadan 1447/2026 kita mau kemana, mau apa, apakah akan tetap stagnan tanpa perubahan atau berubah menjadi lebih baik dan lebih indah laksana kupu2 yang telah berasimilasi lewat kepongpong menjadi indah menawan, itulah hakekat dari ibadah puasa (Ramadan), satu bulan ditempa laksana kawah candradimuka, kemudian lulus dengan menyandang prestasi /predikat berijazahkan takwa (tattaqun),Aamiin Allahumma Aamiin.
Takwa adalah tujuan dari sebuah ibadah, terlebih dalam puasa ramadhan sebagaimana yang diamnatkan dalam Al-Qur’an (QS Albaqarah : 183), kalaupun sedang bukan bulan Ramadan takwa ini harus terus menjadi proses pembiasaan diri atau pembelajaran diri untuk berusaha menggapainya. Bagi Muslim rasanya siapa orangnya yang tidak mau untuk mencapai derajat tersebut walau ujiannya sangat berat tetapi insya Allah tanpa biaya sepeserpun alias gratis, tinggal mau saja berproses insya Allah akan tercapai, ingat rumus Tahu, Mampu dan Mau, maka kemauanlah menjadi yang terberat tetapi menentukan, karena apalah artinya tahu dan mampu yang rata-rata telah dimiliki tanpa diikuti dengan kemauan maka akan sulit untuk terwujud, bahkan akan sia-sia.
Selanjutnya, berbicara pasca Ramadan banyak cara untuk mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya dari mulai puasa syawal 6 hari, membayar yang ditinggalkan karena syar’i, membiasakan puasa sunnah lainnya dan sebagainya yang pada dasarnya intensitas Ramadan dibawa dan diterapkan di luar Ramadan. Paling tidak ada beberapa entri poin hasil pendidikan Ramadan, antara lain : Bertambahnya wawasan keislaman (ilmu agama), bertambahnya kemampuan diri dalam mengendalikan hawa nafsu, meningkatnya kesabaran dan rasa syukur, meningkatnya/mentadaburi Al-Qur’an dari mulai membacanya, mencermatinya sampai mengamalkannya, meningkatnya rasa peduli dan berbagi dengan sesama (dalam bentuk sodakoh) dan yang tidak kalah hebatnya adalah saling memaafkan terlebih memberi maaf.
Menyikapi apa yang mesti dicari pasca Ramadan 1447/2026 pergi, tidak lain dan tidak bukan adalah “mencari ridho Ilahi”. Secara alur pikir meliputi bahwa setiap insani (pribadi muslim) mempunyai kewajiban yang sama yaitu beribadah kepada yang Maha Segalanya yaitu Allah Subhnahu Wa Ta’ala.
Ridho berbeda dengan ikhlas, secara harpiah adalah merupakan dua sikap hati yang berdekatan kesamaannya tetapi berbeda fokusnya, Ridho adalah sikap tenang dan senang atas keputusan Allah (takdir/kadha dan kodar) yang diterima baik dalam hal suka maupun duka, sedangkan ikhlas adalah titik berat pada sikap diri atau memurnikan/meluruskan niat untuk beramal hanya karena Allah dalam memberikan bantuan/sodakah/infak yang diberikan kepada orang/pihak lain yang membutuhkan dan tanpa pamrih. Oleh karena itu, kalau kita sudah ridho maka Allahpun akan ridho, malah kata kuncinya tidak sulit yakni melalui/perantaraan keridhoan orang tua, maka Allah akan meridhoi, maka sepanjang berada dalam kebaikan tentu orang tuapun meridhoi demikian pula Allah akan meridhoi-Nya. Sedangkan dalam ikhlas terkandung arti bahwa kalau kita sudah mengikhlaskan suatu kebaikan, maka Allah akan senang dan meridhoi-Nya juga. Sementara menurut KBBI pun antara ikhlas dan ridho adalah “sama-sama sikap/tindakan yang terfokus pada sikap dan perilaku/tindakan, ridho lebih terfokus pada penerimaan hati secara tenang dan rela, sedangkan ikhlas merupakan sikap mental pada sebelum, saat dan setelahnya tetap lurus dan tulus untuk beramal (KBBI, 2023). Yang jelas baik ridho maupun ikhlas sama-sama merupakan konteks dampak dari kebaikan yang sama-sama diganjar dengan pahala dari Allah SWT, serta sebaliknya apabila tidak ridho dan tidak ikhlas maka akan berdampak dosa, karena Allah menjadi tidak ridho bahkan bisa murka.
Kiranya tidaklah berlebihan apabila dalam menyikapi pasca ramadhan/Idul Fitri, kita lakukan hal-hal sebagai berikut ; pertama istiqomah (konsisten) dalam beribadah walau sedikit tapi berkesinambungan Allah akan menyukai dan ujungnya lagi-lagi meridhoi, contoh salat tepat waktu dan (laki-laki berjamaah di masjid), lalu mempelajari Al-qur’an. Kemudian menghidupkan ibadah-ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, seperti puasa syawal 6 hari, Senin-kamis, ayyaumul bidh. Ditambah dengan amlan sosial seperti bersedekah, berinfak, membantu kepada yang membutuhkan sebagai bentuk syukur. Mengevaluasi diri (muhasabah) atas kelebihan dan kekurangan dan berusaha untuk memperbaikinya/meningkatkannya, serta hal tidak kalah pentingnya adalah menjaga lingkungan sosial, yakni dengan cara terus memelihara dan mendukung bersama potensi lingkungan untuk tetap berada dalam ketaatan.
Jadi dengan demikian Ramadan sebagai titik awal perbaikan diri, bukan sekedar rutinitas tahunan yang berakhir seiring dengan datangnya syawal, padahal syawal sendiri berasal dari kata (syala) yang berarti meningkat/peningkatan, dan biasa dihiasi dengan tradisi yang baik seperti halal bihalal, lebaran dan makan-makan bersama
Terkait di atas, maka kuatkan niat, kalau niatnya karena Allah, niat yang kuat maka akan kuat pula keberhasilannya, karena niat itu seperti BBM, bikin kita tidak cepat mogok di jalan untuk sampai kepada tujuan dengan lancar dan selamat.
Sebagai simpulan segala sikap dan perilaku akan kembali ke niat yang dikomandani oleh hati, dan niat akan selalu bersanding dengan hati, maka hatipun harus bersih/steril dari hal-hal yang tidak baik. Hati juga ibarat Ketua satgas yang berat kerjanya, sedangkan otak adalah koordinator lapangannya, maka akan meneruskan seluruh niat di hati tadi kepada seluru anggota tubuh untuk mengoperasionalkannya, dan yang akhirnya membuahkan hasil sesuai dengan kandungan yang ada di hati beserta pupuknya, sebagaimana kausalitas kalaulah upaya/penyebabnya baik, maka hasilnyapun/akibatnya akan baik pula, serta sebaliknya kalau awalnya jelek maka akhirnyapun akan jelek.
Semoga kita dapat menyikapi pasca Ramadan dengan menanam yang baik-baik, sehingga kelak memanennyapun akan menghasilkan yang baik pula, fidunya walakhirah, Aamiin !***




