Ngaret: Pola, Struktur dan Mental
Oleh: Angga Putra Mahardika
Penulis Buku
Luffy adalah karakter dalam seri animasi One Piece buatan Jepang yang terbit tahun 1999. Luffy memiliki kekuatan untuk melebarkan tubuhnya, seakan karet. Dengan kekuatan itu Luffy bertekad ingin menjadi raja bajak laut. Membebaskan perbudakan. Dalam serinya, Luffy memulai perjalanan di umur 17 tahun.
Kenapa esai ini dibuka dengan perkenalan tokoh animasi? Tidak ada sangkut mengenainya dengan topik yang akan dibahas. Secara ironi, Luffy itu “ngaret” banget. Dalam konteks cerita, ngaret-nya Luffy itu untuk kebaikan. Sedangkan, ngaret versi Indonesia adalah memperlebar waktu dari yang seharusnya. Penulis mulai resah tentang ngaret ini, karena kebiasaan ini mulai mengkhawatirkan sejak umur 17. Luffy dan anak muda Indonesia memiliki kesamaan—bisa ngaret—hanya beda tujuan dan penggunaan.
Itu tadi sedikit intermezzo mengenai ngaret. Dan sepertinya tidak usah dijelaskan terlalu panjang lebar (seperti karet). Kita semua pasti pernah ngaret, setidaknya satu kali. Ada enak dan tidaknya. Namun esai ini akan membahas ngaret lebih dalam.
Tidak hanya bersikap reaktif, apalagi sekadar mengeluh. Paragraf-paragraf di bawah ini akan memberikan pembaca alam bawah sadar dari “ngaret”. Semoga dengan adanya esai ini, ngaret dapat diberantas. Begitu kata petugas pengaman waktu.
Ngaret adalah event, sebuah kejadian. Terlambat datang sekolah; terlambat pulang; terlambat mulai rapat; makanan terlambat datang. Asal usul katanya adalah telat atau terlambat, lawan kata dari tepat dan cepat. Satu kali telat, bukan masalah. Itu bisa diperbaiki dengan menganalisis penyebabnya. Terlambat datang sekolah, yang perlu diperbaiki jam tidurnya. Terlambat mengerjakan tugas, yang perlu dibenahi prioritasnya. Terlambat menyadari perasaan, bisa diubah dengan rasa peka. Semua penyakit ada obatnya, termasuk ngaret.
Tetapi, ketika ngaret ini terjadi berkali-kali di hal yang sama. Terlambat 10 kali. Selalu begadang tiap malam. Main game lebih rajin dari masuk kuliah. Sepertinya ini bukan event lagi. Ini sudah jadi pola, runutan event yang frekuensinya konsisten.
Coba diperhatikan lagi, apakah ada kegiatan yang sering dilakukan berulang kali selain ngaret. Contoh, pola makan, pola tidur, pola bekerja atau berkarya. Pola lebih dari event, dan ada masalah yang lebih dalam dari sekadar itu. Memang belum terlihat jelas. Dari pola buruk itu ada sedikit kemungkinan. Kurang integritas, kurang bertanggung jawab. Tapi masih kategori “mungkin”, akan jelas semakin dikorek lukanya. Sebuah event tidak bisa mencerminkan kondisi kita secara nyata. Tapi pola, ia punya kans yang lebih besar untuk membuktikan, siapa diri kita sebenarnya.
Untuk membuktikan diri sejati, kita mengalir lebih dalam: struktur. Kalau pola adalah serangkaian event, struktur adalah serangkaian pola. Masih menggunakan contoh yang sama, bila kebiasaan terlambat berlaku juga ke hal lain. Seperti terlambat tidur, makan, mengerjakan tugas dan melakukan kewajiban lain. Artinya ini bukan sekadar kebiasaan, ini adalah sistem.
Manusia punya sistem hidup yang mendorong masa depannya, apakah suram atau cerah. Jika sistemnya ketat dan tidak menoleransi hal buruk; Tandanya masa depan akan cerah. Dilihat dari pola hidupnya yang disiplin, bahkan dalam event.
Mahasiswa UIN SSC percaya acara mahasiswa dapat dipastikan ngaret 30 menit dari rundown (timeline acara). Mau itu skala jurusan, fakultas, kampus: pasti ngaret 30 menit. Apakah ini pola? Bukan, ini struktur. Ada semacam pemahaman bahwa 30 menit adalah batas wajar untuk terlambat. Terserah pembaca mau menilai hal ini buruk atau benar, terlalu banyak hakim di dunia.
Kalau ada struktur yang membenarkan 30 menit. Besar kemungkinan ada struktur yang membolehkan hal lain. Semisal mark-up, berbisnis dengan rakyat, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kenapa satu struktur membuat struktur lain berdatangan, karena toleransi. Mungkin struktur ini bisa dibebankan kepada seseorang, bisa juga kepada institusi. Karena institusi dan manusia, akan saling mempengaruhi satu sama lain. Tinggal dinilai saja, mana yang lebih dominan. Sebentar lagi kita akan masuk ke lapisan terdalam dari ngaret. Ternyata ada sesuatu di bawah hal-hal yang kita anggap remeh.
Memasuki lapisan terakhir mental model. Ibarat robot, ini adalah core value yang menggerakkan ratusan kabel dan gerigi. Sebuah programming dalam komputer. Semen dan batu untuk rumah. Mental model tidak bisa disederhanakan seperti niat. Mental model bisa jadi nilai yang kita terapkan secara aktif atau pasif.Bicara mental model, artinya menggunakan data struktur. Tidak bisa kita menentukan mental model hanya dari event atau pola. Mental model hanya bisa diketahui bila strukturnya sudah ditemukan. Mari kita memperdalam struktur 30 menit keterlambatan dalam sub judul sebelumnya.
Dengan struktur seperti itu ada satu tarikan nafas: tidak menghargai waktu, baik waktu diri sendiri atau orang lain (lalai). Lalai artinya tidak memanfaatkan dengan baik apa yang dimiliki. Tidak sadar seberapa berharganya sebuah harta.Padahal waktu adalah satu-satunya hal yang kita punya. Tanpa waktu, semuanya berhenti, tidak berjalan. Hal ini malah jadi pertanyaan, “Kok bisa orang melalaikan waktu?” ini yang jadi paradoks. Kalau waktu saja bisa lalai, apakah tidak diterapkan ke hal lain? Besar kemungkinan iya.
Lalai terhadap kesehatan akhirnya makan berantakan dan sering begadang. Lalai pada pasangan menjadikan kita tidak menghargai keberadaan mereka. Lucunya, kita menyadari kelalaian ini di momen dampak buruknya telah sampai. Saat itu baru menyesal. “Kenapa telat?” “Kenapa gak sadar?”. Bagi sebagian orang mungkin ini hal yang sangat simpel dan sederhana. Dan itulah yang terjadi, core value kita itu sederhana, namun efeknya dapat menggerakkan seluruh hidup—bahkan peradaban. Mungkin ini sama saja dengan himbauan disiplin, menghargai waktu, jangan berbohong, harus jujur.
Ada satu yang berbeda, pendekatan. Fakta-fakta yang disusun secara kronologis dengan sebab-akibat yang runut lebih kuat dari slogan organisasi semata. Dan itu kenyataannya, tidak lebih dan kurang. Secara garis besar pembahasan, ngaret disebabkan lalai.
Kembali ke premis awal, yaitu One Piece dan Luffy. Keresahan ini penulis dapat dari dunia kampus, mahasiswa calon penerus bangsa. Jika di umur 17-21 masih memiliki mental model lalai; lantas bagaimana nasib negara ini.Ada semacam sanggahan untuk hal ini: “Yang penting kan kinerjanya bagus.” Kalau hanya dinilai dari kinerja, bukannya koruptor juga awalnya begitu. Mereka pura-pura lugu dan polos, berbohong bahwa akan memajukan Indonesia. Kenyataannya kita semua tahu. Kinerja tidak bisa dianggap variabel absolut.Begitu juga dengan mental model, dinilai baik dibuktikan dari struktur. Struktur cemerlang terlihat dari pola. Pola cerdas terpantul dari setiap tindakan (event) yang diputuskan.
Anak muda tidak cukup hanya punya satu dari keempatnya, tapi keseluruhan. Itu yang akan membuat anak muda menjadi berjaya. Mungkin bisa disederhanakan atau disamakan dengan slogan “kebiasaan” yang begitu sering dilantangkan.
Tujuan pembedahan ngaret yang awalnya dibuka dengan One Piece. Namun di ujungnya seperti lorong gelap yang tidak kita sadari; bahwa kita berada di dalamnya. Turut membentuk diri secara sengaja maupun tidak.Dan sekali lagi, itu kebenarannya. Untuk memulai semuanya, terimalah realita. Menerima anak muda masih punya kekurangan, stok gagal yang banyak. Tapi dibalik kekurangan, ada sesuatu yang bisa kita selidiki dan manfaatkan untuk menambal itu sendiri. Sungguh paradoks hidup.***





