150 Ikan Dewa di Balong Cigugur Berhasil Diselamatkan dari Wabah Penyakit
kacenews.id-KUNINGAN-Upaya penyelamatan ikan langka kancra bodas atau ikan dewa di Balong Cigugur, Kabupaten Kuningan, terus dilakukan setelah kematian massal menyerang populasi ikan tersebut. Dari sekitar 1.000 ekor ikan yang sebelumnya menghuni kolam keramat tersebut, kini hanya sekitar 150 ekor yang berhasil diselamatkan dan sedang menjalani karantina untuk pemulihan kesehatan.
Selama hampir 20 hari terakhir, dua kelompok relawan terlibat langsung dalam proses penyelamatan ikan yang tersisa. Mereka melakukan evakuasi ikan dari kolam utama ke kolam karantina agar mendapatkan penanganan lebih intensif setelah terserang penyakit mematikan.
Kematian massal ikan di Balong Cigugur sempat menjadi perhatian berbagai pihak. Pasalnya, ikan kancra bodas yang hidup di kolam tersebut dikenal sebagai ikan langka sekaligus menjadi daya tarik wisata di kawasan Cigugur. Sebelum upaya penyelamatan dilakukan, berbagai langkah sebenarnya telah dicoba, mulai dari penambahan oksigen ke kolam, pemberian pakan, hingga penggunaan obat-obatan tradisional. Namun, kematian ikan tetap terjadi hingga banyak ikan besar maupun kecil ditemukan mati dan tenggelam di dasar kolam.
Upaya penyelamatan kemudian melibatkan sejumlah pihak, di antaranya kelompok Breeding Fawase asal Dusun Cikopo Desa Cibinuang yang dipimpin Dodo Ahda serta siswa SMK Negeri 1 Kuningan jurusan perikanan bersama guru, Sumadi. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Kepala SMK Negeri 1 Kuningan, Elpasa.
Selain relawan, proses penanganan turut melibatkan sejumlah instansi terkait, yakni Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, personel Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU), serta tenaga ahli dari Bandung.
Sesepuh Breeding Fawase, Dodo Ahda, menjelaskan, langkah utama yang dilakukan dengan memindahkan ikan yang masih hidup ke kolam karantina agar proses perawatan dapat dilakukan secara lebih efektif.
“Kami bersama instansi terkait melakukan evaluasi terhadap ikan dewa yang menimbulkan kematian secara massal. Salah satu langkah yang kami dilakukan adalah, mengkarantinakan ikan yang sakit ke kolam karantina agar dapat melakukan pengobatan dan pemberian makanan lebih efektif,” ungkap Dodo Ahda, Kamis (12/3/2026).
Berdasarkan hasil pengamatan para ahli, kematian ikan secara serentak tersebut dipicu beberapa faktor yang saling berkaitan, di antaranya kualitas air yang menurun, cuaca ekstrem selama musim hujan, serta serangan parasit.
Kondisi tersebut memicu munculnya penyakit yang disebabkan bakteri Aeromonas hydrophila. Diagnosis penyakit tersebut diperoleh setelah dilakukan penelitian dan pemeriksaan sampel ikan oleh Balai Karantina Tumbuhan, Hewan dan Ikan Provinsi Jawa Barat.
“Penyakit Aeromonas hydrophila sendiri dikenal sebagai bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada ikan air tawar. Penyakit ini biasanya muncul ketika kondisi lingkungan air menurun atau ketika ikan mengalami stres akibat perubahan suhu maupun kualitas air. Upaya penyelamatan ikan yang masih hidup, sejumlah relawan turut membantu proses evakuasi dan pengobatan ikan dewa di kolam kramat Cigugur Kuningan yang sudah disterilkan,” tutur Dodo.
Sebelum ikan dipindahkan ke kolam karantina, kolam tersebut lebih dahulu disterilkan melalui proses penggaraman, pengapuran, serta perbaikan kualitas air. Setelah itu, ikan yang tersisa dimasukkan ke kolam karantina untuk menjalani proses pemulihan.
Dalam tahap perawatan, ikan diberi pakan dengan kandungan protein tinggi, vitamin, serta antibiotik guna mempercepat pemulihan kesehatan. Dari proses tersebut, sekitar 150 ekor ikan berhasil diselamatkan, terdiri dari sekitar 100 ekor ikan berukuran kecil dan 50 ekor ikan berukuran besar.
Sementara itu, Guru Perikanan SMK Negeri 1 Kuningan, Sumadi, menyampaikan, kematian massal ikan langka di Balong Cigugur menjadi perhatian serius. Menurutnya, populasi ikan kancra bodas perlu segera ditambah melalui program budidaya menggunakan teknologi perikanan yang lebih terkontrol.
Ia menilai, jika hanya mengandalkan pemijahan alami, risiko kegagalan cukup besar karena telur ikan berpotensi dimakan kembali induknya. “Insya Allah, kami beserta para siswa siap untuk melakukan penambahan populasi agar ikan langka tersebut tetap lestari. Sebab satu-satunya daya tarik Balong Cigugur itu karena dihiasi ikan langka yang dapat menarik perhatian para wisatawan,” tutur Sumadi.(Sul)


