Menunggu Buka Puasa Sambil Menyusuri Jejak Sejarah di Bukit Maneungteung
MENUNGGU waktu berbuka puasa tak selalu harus di pusat keramaian atau di depan layar gawai. Di Desa Waledasem, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon, warga justru memilih cara yang lebih bermakna: ngabuburit sambil mengenang sejarah perjuangan bangsa di Bukit Maneungteung.
Bukit yang juga dikenal sebagai Bukit Azimut ini berdiri di perbatasan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan. Dari puncaknya, hamparan perbukitan terlihat tenang, seolah menjadi saksi bisu perjalanan panjang para pejuang di masa lalu.
Di atas bukit itu berdiri sebuah monumen perjuangan. Patung seorang pejuang tampak kokoh dengan pose seakan meneriakkan kata “Merdeka”. Monumen tersebut menjadi pengingat bahwa tempat ini pernah menjadi bagian dari sejarah perlawanan rakyat dalam mengusir penjajah.
Tak hanya menghadirkan panorama alam, Bukit Maneungteung juga menyimpan cerita masa lampau. Konon, di kawasan ini masih terdapat berbagai benda purbakala yang belum tergali secara maksimal. Hal itu membuat bukit ini bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga ruang edukasi yang menyimpan potensi penelitian sejarah.
Kini, setiap bulan Ramadan, kawasan ini semakin ramai dikunjungi warga yang datang untuk ngabuburit. Mereka memanfaatkan waktu menjelang magrib dengan berjalan santai, menikmati pemandangan, sekaligus belajar tentang jejak perjuangan para pahlawan.
Salah seorang pengunjung, Firmansyah, mengaku sengaja datang ke Bukit Maneungteung untuk menunggu waktu berbuka puasa.
“Ngabuburit di sini terasa berbeda. Selain menikmati suasana, kita juga bisa melihat langsung nilai sejarah perjuangan para pahlawan,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Kuwu Desa Waledasem, Yanto, mengatakan meningkatnya jumlah pengunjung tidak lepas dari peran promosi yang dilakukan para pegiat media sosial. Menurutnya, perkembangan teknologi bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif, termasuk mengenalkan potensi wisata desa.
“Promosi melalui media sosial cukup membantu mengenalkan Bukit Maneungteung kepada masyarakat luas,” ungkapnya.
Meski semakin ramai dikunjungi, Yanto mengingatkan masyarakat dan para pengunjung agar tetap menjaga kebersihan serta kelestarian kawasan tersebut. Baginya, tempat ini bukan hanya lokasi wisata, tetapi juga situs yang menyimpan nilai sejarah penting.
“Mari kita jaga bersama tempat bersejarah ini agar tetap lestari dan tidak punah,” ajaknya.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi mempromosikan dan menjaga kawasan Bukit Maneungteung. Dengan kolaborasi masyarakat, ia berharap tempat ini tetap menjadi ruang wisata, edukasi, sekaligus pengingat akan perjuangan masa lalu.
Di Bukit Maneungteung, ngabuburit bukan sekadar menunggu azan magrib. Di sana, setiap langkah seakan membawa pengunjung menyusuri cerita lama—tentang perjuangan, pengorbanan, dan semangat merdeka yang tak boleh dilupakan.(Pra)





