Ragam

Tolak Bala di Kelenteng Hok Tek Tjeng Sin, Sambut Tahun Kuda Api dengan Doa dan Harapan

kacenews.id-MAJALENGKA-AROMA hio yang mengepul pelan memenuhi ruang utama Kelenteng Hok Tek Tjeng Sin, Minggu (8/3/2026) pagi. Di depan altar yang dipenuhi aneka bunga berwarna-warni, umat Kong Hu Tju berdiri khusyuk, memanjatkan doa sembari menggenggam hio. Hari itu, mereka datang dari berbagai daerah untuk menjalani ritual tolak bala—sebuah tradisi memohon keselamatan sekaligus membersihkan energi negatif di awal tahun Kuda Api (2577 Kongzili).

Tak sedikit dari mereka yang telah tiba sejak sehari sebelumnya. Sebagian bahkan memilih bermalam di kelenteng agar dapat mengikuti rangkaian ibadah dengan lebih khidmat.

Iwan, bersama Leni dan Lita, datang dari Bekasi bersama anggota keluarganya. Mereka sudah terbiasa melakukan sembahyang di kelenteng tersebut setiap tahunnya.

“Kami datang sejak kemarin. Saya bersama keluarga menginap di sini supaya bisa ikut ibadah malam, lalu pagi harinya mengikuti ritual tolak bala,” ujar Iwan. Ia mengaku sudah beberapa kali datang ke Kelenteng Hok Tek Tjeng Sin, termasuk pada malam Jumat Kliwon bersama rekan-rekannya.

Bagi Iwan dan banyak umat lainnya, tahun Kuda Api dipercaya membawa energi yang kuat dan dinamis. Tahun ini diyakini membuka peluang keberuntungan, namun juga menyimpan potensi konflik jika energi negatif tidak diseimbangkan.

“Dalam tradisi Tionghoa, ritual tolak bala ini dianjurkan untuk membuang energi negatif, supaya terhindar dari berbagai cobaan dan kesialan,” katanya.

Ritual ini tidak hanya dipenuhi doa, tetapi juga simbol-simbol persembahan yang sarat makna. Di meja altar tersusun bunga berbagai warna, tahu putih, telur ayam kampung, daging kaleng, manisan, hingga aneka biji-bijian seperti kacang tanah, kedelai, jagung, beras, dan kacang hijau.

Pengurus kelenteng, Ika, Ahong, dan Herlin menjelaskan bahwa setiap jenis persembahan memiliki filosofi tersendiri. Biji-bijian, misalnya, melambangkan harapan akan kehidupan yang terus tumbuh dan rezeki yang berlimpah.

“Biji-bijian ini jumlahnya beragam dan dimasukkan ke dalam mangkuk sesuai jumlah umat yang melakukan ibadah. Setelah sembahyang selesai, biji-bijian tersebut kemudian ditaburkan,” kata Ika.

Persiapan ritual telah dilakukan sejak sehari sebelumnya. Ika Wartika bersama Hogie Subarhu Putra menata satu per satu perlengkapan persembahan: bunga dalam mangkuk, jagung, telur ayam, tahu putih, hingga aneka kue.

Selain itu, mereka juga menuliskan nama-nama umat yang akan didoakan di atas kertas khusus berwarna kuning dan merah. Nama-nama tersebut dimasukkan ke dalam amplop yang kemudian diletakkan di depan altar.

“Setiap nama ditulis dan saat ibadah berlangsung akan disebutkan satu per satu,” ujar Ika, sambil menyiapkan hio bagi umat yang datang bersembahyang.

Satu per satu umat maju ke depan altar. Mereka menundukkan kepala, memanjatkan doa keselamatan dan harapan akan rezeki yang lebih baik di tahun yang baru.

Ketika ritual selesai, para umat tidak langsung beranjak pergi. Mereka terlebih dahulu berpamitan di depan altar—sebuah gestur sederhana yang sarat rasa hormat dan syukur sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Bagi mereka, perjalanan ke kelenteng bukan sekadar menjalankan tradisi. Lebih dari itu, ada ketenangan yang mereka bawa pulang—harapan bahwa di tengah dinamika tahun Kuda Api, keselamatan dan keberkahan akan selalu menyertai langkah mereka.(Tat)

Related Articles

Back to top button