Bukber BKL Kampung Lawas Cirebon: Silaturahmi Sesepuh dan Pengusaha Muda, Kajian Geopolitik Islam Warnai Acara

kecenews.id- CIREBON – Suasana penuh kehangatan dan nuansa keilmuan mewarnai kegiatan Buka Bersama dan Tarawih Komunitas BKL (Batur Kampung Lawas) yang digelar pada Jumat, 6 Maret 2026 di Kampung Lawas Coffee Shop & Resto, Kota Cirebon. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi para tokoh masyarakat dan pengusaha, tetapi juga diisi dengan kajian keislaman yang mengangkat tema Geopolitik Islam dan dinamika kekuatan dunia.
Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting Cirebon, di antaranya PYM Sultan Kacirebonan IX, Pangeran Raja Abdul Gani Natadiningrat Dekarangga, S.E., para sesepuh Cirebon yang tergabung dalam komunitas BKL, serta sejumlah tokoh muda dan pengusaha.
Salah satu figur muda yang hadir adalah Arif Bagus Pranoto, Kepala Bidang Pendidikan, Kesehatan, Riset dan Olahraga HIPMI Kota Cirebon. Kehadirannya menjadi simbol upaya generasi pengusaha muda untuk menjalin hubungan yang erat dengan para sesepuh dan tokoh masyarakat Cirebon.
Arif Bagus dikenal sebagai pengusaha muda yang aktif dalam berbagai program pengembangan sumber daya manusia. Dalam kapasitasnya di HIPMI Kota Cirebon, ia bertanggung jawab merancang, mengembangkan, serta mengoordinasikan berbagai program strategis yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan masyarakat, pengembangan riset, serta aktivitas olahraga bagi generasi muda.
Perannya juga mencakup membangun kolaborasi antara dunia usaha, institusi pendidikan, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan guna melahirkan inisiatif yang inovatif dan berdampak bagi kemajuan masyarakat.
Kehadiran Arif Bagus dalam kegiatan ini merupakan bentuk respon positif atas undangan Gandhi Purwanto, owner Coffee Shop & Resto Kampung Lawas Cirebon, yang juga dikenal sebagai penggerak komunitas silaturahmi BKL (Batur Kampung Lawas). Komunitas ini menjadi ruang pertemuan para sesepuh Cirebon dengan generasi muda dalam suasana kekeluargaan dan kebersamaan.
Kajian Geopolitik Islam
Salah satu sesi penting dalam kegiatan ini adalah kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Sholihin Rifai, S.E., M.M. yang mengangkat tema “Geopolitik Islam: Dunia Selalu Punya Superpower.”
Dalam kajiannya, Ustadz Sholihin menjelaskan bahwa dalam dinamika sejarah dunia, selalu ada kekuatan besar atau superpower yang mempengaruhi arah politik global.
“Hari ini kita sering mendengar istilah seperti superpower, proxy war, deterrence, strategic alliance, hingga hybrid warfare. Seolah-olah semua itu konsep modern. Padahal jika kita melihat sejarah, pada masa Nabi Muhammad ﷺ dunia juga berada dalam struktur kekuatan global,” jelasnya.
Menurutnya, pada masa itu dunia dikuasai oleh dua kekuatan besar, yakni Kekaisaran Bizantium (Byzantine Empire) dan Kekaisaran Persia Sasanian (Sasanian Empire). Kedua kekuatan ini terlibat perang besar yang berlangsung puluhan tahun.
Sementara itu, Madinah pada masa Nabi Muhammad ﷺ hanyalah sebuah negara kecil dengan kapasitas militer terbatas dan berada di tengah berbagai ancaman.
“Dalam ilmu geopolitik modern, kondisi ini disebut asymmetric power structure, yaitu ketika satu kekuatan kecil harus hidup di tengah dominasi kekuatan besar,” ungkapnya.
Strategic Patience
Ustadz Sholihin juga menjelaskan bahwa strategi yang digunakan Rasulullah ﷺ dalam menghadapi situasi geopolitik tersebut tidak selalu berupa konfrontasi militer.
Salah satu konsep penting yang diajarkan Nabi adalah strategic patience, yaitu kesabaran strategis.
Ia mengutip firman Allah:
كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ
Kuffū aydiyakum wa aqīmūṣ-ṣalāh
“Tahanlah tangan kalian dan dirikanlah shalat.” (QS. An-Nisa: 77)
Ayat ini, menurutnya, menunjukkan bahwa pada fase tertentu umat Islam diperintahkan untuk menahan diri dan memperkuat fondasi spiritual serta sosial sebelum memasuki fase konfrontasi.
Ketika akhirnya izin perang turun, hal tersebut bukan sekadar keputusan militer, tetapi juga legitimasi moral bagi umat Islam.
Pelajaran Strategis
Dalam penutup kajiannya, Ustadz Sholihin menekankan bahwa kemenangan dalam sejarah tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan militer atau jumlah pasukan.
“Dalam strategi perang modern kita mengenal istilah military hardware, force projection, dan numbers superiority. Namun dalam sejarah Nabi ﷺ kita belajar bahwa faktor penentu kemenangan juga meliputi kepemimpinan, disiplin, dan moral pasukan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar umat Islam belajar membaca konflik global dengan pendekatan ilmu dan manhaj, bukan semata-mata dengan emosi.
“Dalam sejarah Nabi ﷺ kita melihat bahwa sikap politik umat Islam tidak selalu sama. Kadang maju, kadang bertahan, kadang berdamai, bahkan kadang bersikap netral. Semua itu bagian dari hikmah politik syar’i,” tegasnya.
Rangkaian Acara
Kegiatan Bukber BKL berlangsung dengan susunan acara yang tertata rapi. Acara dimulai pukul 17.00 WIB dengan kajian Islam, kemudian dilanjutkan buka puasa bersama dengan menu takjil.
Setelah itu para peserta melaksanakan shalat Magrib berjamaah, dilanjutkan dengan santap hidangan berbuka puasa. Acara kemudian berlanjut dengan shalat Isya dan Tarawih berjamaah, sebelum ditutup dengan ramah tamah serta menikmati alunan musik hingga pukul 22.00 WIB.
Pertemuan ini menjadi momentum penting yang mempertemukan nilai tradisi para sesepuh Cirebon dengan semangat inovasi generasi muda, sekaligus memperkuat jaringan silaturahmi antara tokoh masyarakat, ulama, dan kalangan pengusaha dalam membangun masa depan Cirebon yang lebih baik.***





