Masjid Agung Al Imam Saksi Sejarah dan Tempat Ibadah Warga
kacenews.id-MAJALENGKA-Masjid Agung Al Imam Kabupaten Majalengka menjadi salah satu pusat aktivitas keagamaan sekaligus ikon kota yang selalu ramai dikunjungi masyarakat maupun pendatang. Berlokasi di jantung Kota Majalengka, tepat di depan Pendopo dan menghadap Alun-alun, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga tujuan singgah para musafir.
Setiap hari, deretan kendaraan roda empat hingga bus terlihat terparkir di sekitar kawasan masjid. Sebagian memadati Jalan Ahmad Yani, sementara lainnya memanfaatkan ruas Jalan Abdul Halim di depan Gedung DPRD Majalengka ketika area parkir utama telah penuh.
Para pengunjung datang dari berbagai daerah. Ada yang sengaja berhenti untuk menunaikan salat, ada pula yang sekadar beristirahat sambil menikmati suasana alun-alun kota yang menjadi ruang publik favorit masyarakat.
Masjid yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 2.722 meter persegi tersebut dikenal dengan nama Al Imam karena tanahnya berasal dari wakaf KH. Imam Safari. Pada awal berdirinya, bangunan tersebut hanyalah sebuah langgar atau tajug berukuran sekitar 4 x 4 meter.
Imam Masjid Al Imam, Ahmad Suhaeri, menjelaskan masjid pertama kali dibangun pada tahun 1825 oleh KH. Imam Safari atau yang dikenal masyarakat sebagai Mama Imam Safari. “Dulu katanya selain untuk kegiatan salat juga untuk aktifitas pengajian,” ungkap Ahmad Suhaeri.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan masyarakat, bangunan masjid terus mengalami perluasan dengan material yang semakin permanen.
Menurut Ahmad Suhaeri, masjid juga memiliki catatan sejarah sosial pada masa pemberontakan PKI, ketika kegiatan keagamaan di masjid menjadi sangat ramai. “Katanya kalau tidak ikut kegiatan kulih subuh khawatir disebut PKI, makanya aktifitas di masjid cukup ramai,” papar Ahmad Suhaeri.
Area masjid kemudian bertambah luas setelah adanya wakaf lahan sekitar 300 meter persegi dari seorang warga bernama Ipang yang dimanfaatkan untuk pembangunan tempat wudhu dan fasilitas MCK.
Perubahan besar terjadi pada 2016 saat masa kepemimpinan Bupati Majalengka, H. Sutrisno. Masjid dibangun kembali menjadi dua lantai dengan arsitektur lebih megah, dilengkapi kubah utama berukuran besar, satu menara tinggi, serta empat menara tambahan di sisi kanan dan belakang bangunan.
Saat ini, Masjid Al Imam dilengkapi berbagai fasilitas, mulai dari tempat wudhu, aula berukuran 15 x 10 meter untuk kegiatan masyarakat, kantor pengelola, ruang keamanan, hingga ruang istirahat bagi musafir.
Menurut Ahmad Suhaeri, sebelumnya masjid sempat direncanakan memiliki perpustakaan. “Kurang peminat, bukunya juga sedikit,” kata A Suhaeri.
Selain pelaksanaan salat lima waktu, masjid rutin menggelar berbagai kegiatan keagamaan seperti kuliah subuh, pengajian Wanita Majalengka setiap Kamis sore, serta santunan anak yatim.
Selama bulan Ramadan, aktivitas masjid semakin meningkat, di antaranya pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah serta pembagian takjil bagi jemaah berbuka puasa sebanyak 200 hingga 300 paket setiap hari yang berasal dari donatur. “Pemda Majalengka juga suka memanfaatkan masjid ini setiap Jumat pagi ada kuliah subuh,” ungkapnya.
Pengelolaan Masjid Al Imam saat ini ditangani sekitar 20 orang pengurus yang terdiri dari Ketua DKM, Oka Taswara yang juga menjabat Kabag Kesra Setda Majalengka, imam masjid, marbot, muazin, hingga petugas kebersihan.
Operasional masjid didukung dana dari kotak amal yang setiap pekan rata-rata terkumpul sekitar Rp 7 juta serta bantuan anggaran dari APBD Kabupaten Majalengka.(Ta)



