Penguatan Sistem Surveilans Antarkan Dinkes Kuningan Raih Dua Penghargaan Tingkat Nasional
kacenews.id-KUNINGAN-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kuningan meraih dua penghargaan tingkat nasional dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) atas capaian pemetaan risiko Penyakit Infeksi Emerging (PIE) tahun 2025. Prestasi tersebut diraih kurang dari satu tahun setelah dilakukan penataan organisasi dan rotasi pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan.
Perubahan struktur birokrasi dilakukan pasca pelantikan Bupati Kuningan, H. Dian Rachmat Yanuar dan Wakil Bupati, Tuti Andriani pada 20 Februari 2025. Penataan jabatan mencakup berbagai jenjang di satuan kerja perangkat daerah (SKPD) sebagai bagian dari upaya memperkuat kinerja pemerintahan dalam mendukung visi pembangunan “Kuningan Melesat”.
Salah satu rotasi penting berlangsung pada 13 Juni 2025 di kawasan wisata Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, ketika Bupati Dian menunjuk H. Edi Martono sebagai Kepala Dinas Kesehatan. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia serta pernah memimpin RSUD Linggajati.
Sejak menjabat, Edi Martono melakukan penataan sistem kerja internal, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta mendorong langkah kerja yang lebih terukur dan sistematis di lingkungan Dinkes Kuningan.
Upaya tersebut membuahkan hasil melalui dua penghargaan nasional dari Kemenkes RI. Penghargaan pertama diberikan atas kelengkapan dokumen rekomendasi Pemetaan Risiko Penyakit Infeksi Emerging dengan capaian 100 persen, sementara penghargaan kedua diraih sebagai kabupaten/kota dengan capaian pemetaan risiko PIE terbaik tahun 2025.
“Alhamdulillah. Kita berhasil meraih dua penghargaan nasional sekaligus dari Kemenkes RI. Ini buah dari kerja sama seluruh pegawai dalam upaya meningkat kinerja dengan Visi Kuningan Melesat,” ujar Kepala Dinkes Kuningan, H. Edi Martono, Kamis (26/2/2026).
Ia menjelaskan, Penyakit Infeksi Emerging merupakan kelompok penyakit yang dapat muncul secara tiba-tiba dengan tingkat penularan tinggi, seperti Covid-19, Middle East Respiratory Syndrome (MERS), polio, hingga difteri.
Menurutnya, tanpa deteksi dini, penyakit-penyakit tersebut berpotensi berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB) bahkan pandemi. Karena itu, kesiapsiagaan dan pemetaan risiko menjadi langkah strategis dalam sistem kesehatan daerah.
Melalui penguatan sistem kewaspadaan dini, Dinkes Kuningan kini memiliki basis data yang lebih komprehensif untuk mengidentifikasi potensi risiko kesehatan di setiap wilayah. Data tersebut mencakup tingkat kerentanan daerah, faktor penyebab dominan, hingga kesiapan fasilitas kesehatan dalam merespons potensi wabah.
“Data dan analisis merupakan dasar dalam penyusun kebijakan, perencanaan intervensi da penguatan sistem surveilans. Maka dengan data yang akurat, setiap kebijakan yang diambil Pemerintah Kabupaten Kuningan akan lebih tepat sasaran dan efektif dalam melindungi masyarakat,” ucapnya.
Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar turut mengapresiasi capaian tersebut. Ia menilai penghargaan nasional itu menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat sistem surveilans kesehatan serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit infeksi emerging.
“Keberhasilan tersebut mencerminkan sinergi seluruh tenaga kesehatan dalam melakukan identifikasi, pemetaan serta penyusunan rekomendasi risiko secara komprehensif dan terukur sehingga mampu memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat,” tuturnya.(Ya)



