Pesantren Ekologi SMAN 1 Kadugede Wujudkan Pancawaluya
kacenews.id-KUNINGAN-Memasuki Ramadan 1447 H, SMA Negeri 1 Kadugede Kabupaten Kuningan resmi menggelar Pesantren Ekologi 2026 sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter berbasis nilai lingkungan dan keislaman. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah sejak Senin (23/2/2026) itu menjadi implementasi program Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
Hari pertama pelaksanaan diawali dengan pembukaan secara daring melalui Zoom yang disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Deden Saepul Hidayat. Kegiatan dipusatkan di Masjid At-Tarbiyah SMAN 1 Kadugede dan diikuti para siswa bersama guru pembimbing.
Program yang berlangsung mulai 24 Februari hingga 13 Maret 2026 tersebut mendapat respons positif dari peserta didik. Selama Ramadan, para siswa tidak hanya mengikuti pembelajaran keagamaan, tetapi juga diarahkan untuk memahami keterkaitan ajaran Islam dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, sekolah bekerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Kuningan yang dipimpin Ustaz Ugin Lugina. Dalam tausiyahnya, Ustaz Ugin mengajak para siswa untuk menjalankan rangkaian Pesantren Ekologi beriringan dengan ibadah puasa Ramadan.
Ia menegaskan, puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, dengan tujuan membentuk pribadi yang bertakwa.
Kepala SMAN 1 Kadugede, Rhida Jaya Bhuana, Rabu (25/2/2026), menjelaskan, Pesantren Ekologi merupakan rangkaian kegiatan Pesantren Ramadan yang dirancang untuk menginternalisasikan nilai-nilai inti Gapura Pancawaluya, yakni cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.
“Pesantren Ekologi adalah serangkaian kegiatan Pesantren Ramadan yang dilaksanakan pada bulan Ramadan sebagai upaya menginternalisasikan nilai-nilai inti Gapura Pancawaluya yang meliputi cageur, bageur, bener, pinter, dan singer melalui pembelajaran, pelafalan, dan penghafalan ayat Al-Qur’an. Termasuk mempelajari hadist tentang pelestarian lingkungan, yang diwujudkan dalam aksi nyata menjaga ekologi, melestarikan alam, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama sebagai bentuk rasa syukur serta tanggung jawab kepada Allah SWT,” ujar Rhida.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada penguatan akidah dan ibadah, tetapi juga mengajak siswa melakukan tadabur alam sebagai bagian dari proses pembelajaran.
“Kegiatan tersebut bertujuan, selain mendapat mata pelajaran ilmu tauhid, peserta juga melaksanakan tadabur alam melalui kegiatan kajian, perenungan, penghayatan, serta pelafalan dan penghafalan ayat-ayat Alquran dan hadist. Pelajaran tersebut yang berkaitan dengan pelestarian alam dan lingkungan, disertai kajian ayat kauniyah, pandangan ulama, dan keilmuan, guna menumbuhkan pemahaman yang benar (bener) dan kecakapan berpikir (pinter) dalam memaknai hubungan manusia dengan alam sebagai ciptaan Allah SWT,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan dirancang secara terencana, kontekstual, dan berjenjang, disesuaikan dengan kondisi sekolah dan karakter peserta didik.
“Selain itu, meningkatkan amaliah berbasis ekologi dan sosial sebagai implementasi 7 pembiasaan anak Indonesia hebat, yang dilaksanakan secara terencana, kontekstual, dan berjenjang. Hal itu sesuai dengan situasi, kondisi, serta potensi sekolah, peserta didik, dan lingkungan. Tidak hanya itu, juga mendorong peserta didik untuk mewujudkan hasil tadabur dan pembelajaran keagamaan dalam bentuk aksi ekologi nyata di lingkungan sekolah dan sekitarnya sebagai perwujudan nilai singer, tanggung jawab, dan rasa syukur kepada Allah SWT,” pungkasnya.(Sul)
