Longsor di Argasunya, Wali Kota Cirebon: Segera Normalisasi Sungai dan Perkuat Pondasi Jembatan Lebakngok
Longsor Argasunya Bukan Bencana Biasa: Penyebab Utama Longsor
Hujan deras yang berlangsung terus-menerus meningkatkan debit sungai dan menggerus tebing serta pondasi Jembatan Lebakngok.
Akses Vital Terancam
Jembatan Lebakngok merupakan jalur utama penghubung warga RW 11 Bendakerep dan RW 08 Kopiluhur, termasuk akses anak-anak menuju sekolah. Saat ini kendaraan roda empat belum bisa melintas.
Faktor Geologi Memperparah Risiko
Struktur tanah batulempung yang mudah tererosi membuat kawasan Argasunya rawan longsor, terutama saat arus sungai tinggi.
Langkah Teknis Penanganan
Pemkot Cirebon bersama Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung akan melakukan normalisasi alur sungai, pembangunan tanggul darurat, serta penguatan pilar jembatan dengan teknik riprap (penataan batu).
Ancaman Longsor Susulan
Sebelum normalisasi dan penguatan struktur selesai, potensi longsor susulan masih terbuka, terutama jika terjadi hujan ekstrem kembali dalam waktu dekat.
kacenews.id-CIREBON-Longsor yang terjadi di RW 11 Lebakngok, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Senin dini hari (16/2/2026) sekitar pukul 03.00 WIB, bukan sekadar bencana biasa. Hujan lebat membuat arus sungai yang bermuara ke Kali Benda melonjak drastis dan menghantam tebing serta pondasi Jembatan Lebakngok hingga terkikis.
Jembatan di wilayah Bendakerep itu merupakan akses vital penghubung RW 11 Bendakerep dan RW 08 Kopiluhur. Setiap hari, jalur tersebut dilintasi warga hingga anak-anak menuju SDN Lebakngok. Kini, kendaraan roda empat tak bisa lagi melintas. Roda dua pun harus ekstra hati-hati saat hujan turun.
Sehari setelah Wakil Wali Kota Siti Farida Rosmawati meninjau lokasi pada Senin (23/2/2026), giliran Wali Kota Effendi Edo datang bersama jajaran Forkopimda, Selasa (24/2/2026). Keduanya sama-sama menegaskan percepatan perbaikan.
Wakil Wali Kota Siti Farida Rosmawati saat di lokasi meminta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, menyiapkan perencanaan teknis dan penganggaran agar proses rehabilitasi tidak berlarut-larut.
Ia juga menekankan bahwa perbaikan jembatan menjadi prioritas karena menyangkut mobilitas dan keselamatan warga, terutama anak-anak yang setiap hari melintasi akses tersebut menuju sekolah.
“Kami mengupayakan agar pembangunan kembali jembatan ini bisa dilakukan secepat mungkin. Karena berkaitan dengan aliran sungai, kami berkoordinasi dengan BBWS untuk menentukan langkah teknis yang aman,” tutur Siti Farida.
Sementara itu, Wali Kota Cirebon, Effendi Edo sependapat dengan apa yang disampaikan wakilnya. Ia menegaskan, Pemkot Cirebon menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung untuk penanganan teknis, mengingat lokasi berada di aliran sungai yang menjadi kewenangan BBWSCC.
Wali Kota Effendi Edo menargetkan dalam beberapa minggu ke depan jalur bisa kembali normal. Dalam kunjungannya, Wali Kota Effendi Edo bersama jajaran Forkopimda, perangkat daerah dan BBWS Cimanuk Cisanggarung.
Mereka melakukan pemetaan lapangan guna menyusun strategi penanganan darurat yang efektif. Langkah kolaboratif ini dianggap krusial mengingat kondisi kerusakan yang memerlukan penanganan teknis khusus agar hasil perbaikan nantinya bersifat jangka panjang.
Ia menekankan bahwa sinergi antarlembaga menjadi kunci agar normalisasi jalur tersebut bisa dilakukan secepat mungkin, mengingat jembatan tersebut merupakan urat nadi bagi warga sekitar. “Kegiatan hari ini saya bersama Kapolres dan Kepala BBWS meninjau jembatan di Lebakngok yang memang sudah terkikis air. Insya Allah nanti Pemerintah Kota dengan dukungan Kapolres dan BBWS mulai bekerja hari Jumat besok. Target kami dalam beberapa minggu ke depan, jalan ini sudah bisa normal kembali,” ujar Effendi Edo, Selasa (24/2/2026).
Meski perbaikan segera dimulai, Wali Kota mengakui adanya hambatan bagi kendaraan roda empat untuk sementara waktu. Hal ini disebabkan oleh kondisi tanah dan struktur jalan yang belum stabil sepenuhnya. Namun, ia memastikan bahwa rekayasa teknis sedang disiapkan agar akses bagi kendaraan besar, termasuk truk pengangkut kebutuhan warga, bisa kembali melintas setelah penguatan struktur dilakukan.
“Untuk saat ini kendaraan roda dua masih bisa lewat, tapi roda empat sementara belum bisa. Kami sudah bicara dengan Kepala BBWS untuk menguatkan jalan yang rusak. Nanti akan dibuatkan pemecah arus sekitar 50 meter dari jembatan untuk mengurangi tekanan air ke dinding jalan. Kami memohon masyarakat bersabar, insya Allah jika sudah normal, kendaraan roda empat bisa masuk lagi,” tambahnya.
Pemerintah Kota Cirebon berharap melalui pengerjaan yang dimulai pekan ini, kekhawatiran masyarakat akan putusnya akses jalan dapat segera teratasi. Koordinasi intensif akan terus dilakukan hingga pengerjaan selesai sepenuhnya pada bulan Maret atau April mendatang, sehingga seluruh moda transportasi dapat kembali melintasi wilayah Lebakngok dengan aman dan nyaman.
Di sisi teknis, Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro, menjelaskan bahwa langkah pertama yang akan diambil adalah normalisasi alur sungai. Menurutnya, kondisi arus yang pecah-pecah saat ini menjadi penyebab utama hantaman air langsung ke tebing sungai dan kaki jembatan.
Karenanya, perlu meluruskan alur sungai sebelum menyentuh perbaikan struktur atas. “Kami luruskan dulu alurnya dan buat tanggul darurat. Tujuannya agar jika terjadi banjir lagi, air sudah terarah dan tidak lagi menghantam tebing sungai sebelah kanan. Kami akan turunkan alat berat hari Jumat nanti, kemungkinan lewat jalur sungai karena medan di sini cukup sulit,” jelas Dwi.
Dwi juga menyoroti kondisi geologi di wilayah tersebut yang didominasi oleh tanah batulempung. Karakteristik tanah jenis ini memang dikenal gampang tererosi oleh arus air, sehingga memerlukan perlindungan ekstra pada pilar-pilar jembatan.
Ia merencanakan penggunaan teknik riprap atau penataan batu alam untuk membentengi kaki jembatan agar lebih efisien namun tetap kokoh. “Normalisasi sungai ini kita targetkan selesai dalam dua bulan ke depan agar arus stabil. Setelah itu, baru kita perkuat pilar-pilar jembatannya. Jembatan ini sebenarnya masih cukup kuat, namun kita lakukan pencegahan dengan menata batu yang ada untuk melindungi kaki pilarnya. Ini langkah paling efisien untuk melindungi infrastruktur yang ada,” jelasnya.(Cimot/Jak)





