Dianggap Sirkulasi Air Tertutup, LPM Cigugur Desak Sumur Kolam Cigugur Dibongkar
kacenews.id-KUNINGAN-Upaya penyelamatan atas kematian lebih dari 300 ekor ikan di Balong Cigugur dinilai tidak akan efektif jika sumber air bersih berupa sumur yang dibeton di dasar kolam tidak segera dibongkar dan dikembalikan ke kondisi semula.
Desakan tersebut disampaikan Ketua LPM Kelurahan Cigugur, Aang, dalam pertemuan bersama Bupati Kuningan, H. Dian Rachmat Yanuar dan para pemangku kepentingan yang digelar di Saung Balong Cigugur, Rabu (4/2/2025).
“Masyarakat Kelurahan Cigugur meminta agar sumber air yang ditutup sebagai tempat berlindung juga tempat persembunyian ikan di sumur air tersebut segera dibongkar, jika tidak maka kematian ikan akan terus bertambah karena sirkulasi air di Balong Cigugur kini tidak sehat lagi,” ungkap Aang didampingi Wakil Ketua LPM, Yudi.
Pertemuan tersebut dihadiri langsung Bupati Kuningan beserta jajaran, serta melibatkan sejumlah lembaga dan dinas terkait. Berbagai masukan disampaikan, baik dari unsur masyarakat, pakar lingkungan, maupun ahli perikanan. Hadir pula tenaga ahli dari Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Provinsi Jawa Barat, Hedi, serta pakar perikanan Dodo asal Blok Cikopo Cibinuang, Kuningan.
Aang menjelaskan, kematian ikan di Balong Cigugur disebabkan kondisi air yang tercemar sehingga kualitasnya tidak lagi sehat. Penyakit ikan akibat bakteri dan serangan cacing jangkar disebutnya hanya sebagai dampak lanjutan, bukan penyebab utama.
“Sumur yang airnya berlimpah itu sebagai tempat berlindung ribuan ikan. Selain itu, sejak 30 tahun silam Balong Cigugur penuh dengan kotoran dan belum pernah dikuras. Lebih parah lagi, kondisi kolam kini bukan terjadi pendangkalan, melainkan sengaja didangkalkan serta dipenuhi batu-batuan cukup tajam. Pintu air pembuangan juga digembok permanen sehingga sirkulasi air tidaknormal yang dapat menyebabkan kualitas tidak sehat,” papar Aang.
Ia menambahkan, sebelumnya volume air Balong Cigugur dan jumlah ikan relatif stabil. Namun kini, banyak ikan jenis nilem dan beunteur dimasukkan sebagai bagian dari terapi, di samping jenis ikan lain yang sengaja ditanam. Kondisi tersebut dinilai tidak sesuai dengan kapasitas kolam.
“Otomatis dengan banyaknya ikan yangditanam dari luar akan berebut oksigen, sehingga kualitas air juga tidak sehat lagi, ditambah setelah terkontaminasi atas pencemaran tersebut,” tambahnya.
Sementara itu, pakar dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Provinsi Jawa Barat, Hedi, menjelaskan bahwa secara teori kematian ikan terjadi akibat tiga unsur utama, yakni kondisi lingkungan yang tidak sehat, menurunnya daya tahan tubuh ikan, serta keberadaan penyakit atau bakteri di dalam kolam.
“Air tawar bisa dinomalkan dengan air laut, air laut bisa dinormalkan dengan air tawar. Paling tidak untuk mengantisipasi kematian ikan di Balong Cigugur harus bisa ditaburi garam krosok sebanyak lima ton untuk ukuran kolam sebesar itu. Bisa juga dengan sistim karantina, ikan yang bisa diselamatkan bisa dipisah atau dikarantina namun memerlukan lahan luas diluar lokasi kolam Cigugur,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Kuningan, H. Dian Rachmat Yanuar, memerintahkan seluruh pihak terkait untuk segera melakukan langkah penyelamatan dan pencegahan agar kematian ikan tidak terus bertambah. Ia juga menegaskan perlunya penataan ulang kawasan wisata Balong Cigugur.
“Kami minta lembaga maupun SKPD terkait untuk segera melakukan pembenahan secara cepat dan tepat agar kematian ikan di Kolam Cigugur dapat teratasi dengan baik,” pintanya.(Sul)



