Pesan Pesantren Gedongan untuk Santri di Tengah Tekanan Zaman, Ahmad Hisyam: Gagal Boleh, Nyerah Jangan
kacenews.id-CIREBON-PERINGATAN Haul ke-95 Almaghfurlah KH Muhammad Said di Pondok Pesantren Gedongan tidak hanya menjadi ajang mengenang jasa ulama besar, tetapi juga dimaknai sebagai ruang refleksi dan penguatan karakter santri. Hal itu tampak dalam seminar bertajuk “Gagal Boleh, Nyerah Jangan: Membangun Resiliensi ala Santri” yang digelar Selasa (3/2/2026).
Ratusan santri, kiai dan nyai, akademisi, serta tokoh masyarakat tampak antusias mengikuti kegiatan yang dinilai relevan dengan tantangan generasi muda hari ini, mulai dari tekanan akademik, persoalan ekonomi, hingga krisis kepercayaan diri.
Ketua Panitia Haul ke-95, Ahmad Hisyam, menegaskan, pesantren sejatinya merupakan ruang pembentukan daya tahan mental. Keberagaman latar belakang santri justru menjadi modal penting dalam membangun karakter tangguh.
“Santri belajar hidup mandiri sejak awal. Mereka ditempa oleh perbedaan, keterbatasan, dan disiplin. Dari situ tumbuh kemampuan bertahan dan bangkit ketika gagal,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kegagalan bukanlah aib dalam tradisi pesantren, melainkan bagian dari proses panjang menuju kedewasaan dan keberhasilan hidup.
Seminar menghadirkan Hajah Lihayati, sebagai keynote speaker. Ia merupakan doktor perempuan pertama dari Pondok Pesantren Gedongan, sekaligus sosok inspiratif yang merepresentasikan ketekunan dan konsistensi santri dalam dunia pendidikan.
Dalam pemaparannya, Lihayati membagikan kisah hidupnya secara terbuka, mulai dari pengalaman jatuh bangun dalam pendidikan formal, perjalanan panjang sebagai santri, hingga perjuangan menyelesaikan pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral.
“Kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh nilai akademik. Ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk bertahan justru lebih menentukan. Gagal itu boleh, menyerah jangan,” tuturnya disambut tepuk tangan peserta.
Sesi diskusi dipandu Ning Bayu Fitria Bilqis, dengan menghadirkan dua narasumber utama. Gus Ramzi Ahmad, Direktur Ma’had Al-Sighor sekaligus pegiat literasi digital nasional, menegaskan bahwa kehidupan pesantren secara alami melatih santri menghadapi kegagalan.
“Santri itu bukan tidak pernah jatuh, tetapi terbiasa jatuh dan bangkit. Yang membedakan adalah daya tahannya. Siapa yang mampu bertahan paling lama, dialah yang akan sampai,” tegas Gus Ramzi.
Sementara itu, Ning Muharini Aulia, psikolog klinis, menjelaskan resiliensi sebagai kemampuan untuk tetap berfungsi dan berkembang di tengah tekanan, bukan kondisi tanpa masalah.
“Resiliensi seperti daya lenting. Kita boleh lelah, boleh jatuh, tapi punya kemampuan untuk bangkit dan melanjutkan hidup dengan versi diri yang lebih kuat,” jelasnya.
Melalui seminar ini, Pondok Pesantren Gedongan menegaskan komitmennya dalam mencetak santri yang tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga tangguh secara mental dan sosial. Nilai ketekunan, keikhlasan, dan keberanian menghadapi kegagalan menjadi bekal penting santri untuk terjun ke tengah masyarakat.
Rangkaian Haul ke-95 KH Muhammad Said akan terus berlanjut dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial, seperti bahtsul masail, selawat bersama, serta aksi sosial kemasyarakatan. Seminar “Gagal Boleh, Nyerah Jangan” menjadi penegas bahwa pesantren tetap relevan sebagai ruang pembentukan karakter generasi muda di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.(Mail)




