Menyambut Kehadiran Ramadan
Oleh: Imam Nur Suharno
Penulis Buku 51 Materi Pilihan Kultum Ramadan
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 183).
Tidak terasa bulan Ramadhan akan kembali hadir. Kaum Muslimin sangat semangat dalam menyambut kehadiran bulan Ramadhan dengan penuh suka cita dan penuh bahagia.
Terkait kehadiran Ramadhan, dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ketika bulan Ramadhan datang, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa, dibuka lebar pintu-pintu surga, ditutup rapat pintu-pintu neraka, dibelenggu tangan-tangan setan, di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang untuk mendapatkan kebaikannya maka sungguh ia terhalang dari kebaikan bulan puasa.” (H.R. Ahmad).
Hadis di atas memberikan pelajaran kepada kita kaum muslimin agar bergembira dengan hadirnya bulan suci Ramadhan. Tidak ada alasan untuk tidak bergembira. Bagaimana mungkin seorang muslim tidak gembira, jika dibukakan untuknya pintu surga, ditutup pintu neraka, dan setan dibelenggu.
Hanya orang yang imannya lemah yang tidak bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sungguh merugi orang yang apabila tiba Ramadhan namun terhalang mendapatkan kebaikan di dalamnya. Beberapa upaya menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita.
Pertama, memperbanyak doa. Tidak ada yang dapat memberikan jaminan kita akan sampai di bulan Ramadhan kecuali Allah, maka teruslah berdoa. Allahumma balighna ramadhaan (Ya Allah, sampaikan kami pada bulan Ramadhan).
Kedua, puasa sunah di bulan Sya’ban sebagai sarana latihan. Sebagaimana dikisahkan oleh Aisyah RA, “Rasulullah banyak berpuasa (pada Sya’ban) sehingga kita mengatakan, “Beliau tidak pernah berbuka dan aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah banyak berpuasa (di luar Ramadhan) melebihi Sya’ban.” (Muttafaq ‘alaih).
Ketika Rasulullah ditanya oleh Usamah bin Zaid mengapa beliau banyak berpuasa di bulan Sya’ban, Rasul menjawab, “Karena bulan itu banyak dilalaikan manusia, padahal pada bulan tersebut akan diangkat amalan-amalan seorang hamba kepada Allah. Dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan sedang berpuasa.” (H.R. Abu Dawud dan An-Nasa’i).
Ketiga, banyak membaca Alquran. Membiasakan membaca Alquran di bulan Sya’ban dapat mengantarkan kepada kebersihan jiwa, sehingga saat memasuki Ramadhan jiwa seseorang dalam keadaan bersih yang pada akhirnya akan mengantarkan untuk meraih ketakwaan.
Keempat, mengetahui keutamaan Ramadhan. Dengan mengetahui keutamaan Ramadhan seseorang termotivasi untuk memaksimalkan bulan Ramadhan dengan berbagai amal ibadah yang pahalanya dilipatgandakan (H.R. Bukhari dan Muslim).
Kemudian, DR Akram Ridha dalam bukunya Buyutana fi Ramadhan memberikan tips praktis dalam mempersiapkan menyambut bulan suci Ramadhan bersama keluarga.
Pertama, memberikan arahan kepada keluarga untuk memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, seperti puasa sunnah Senin, Kamis, maupun puasa sunnah Ayyamul Bit (puasa tiga hari dipertangahan bulan, tanggal 13, 14, 15 bulan hijriyah).
Kedua, memperbanyak membaca Alquran setiap hari bersama keluarga. Membaca Alquran menghidupkan jiwa. Seseorang yang terbiasa membaca Alquran di bulan Syakban, akan semakin termotivasi membacanya di bulan Ramadhan, sebab ia tahu di antara amalan mulia yang hendaknya dikerjakan di bulan Ramadhan adalah memperbanyak membaca Alquran.
Ketiga, menelaah buku-buku terkait ibadah puasa. Hal ini dapat dilakukan oleh sang ayah yang berperan sebagai guru keluarga. Pembiasaan menelaan buku bersama keluarga ini dapat mengantarkan keharmonisan dan keakraban dalam keluarga.
Keempat, membersihkan dan menghias rumah seindah mungkin untuk menyambut datangnya Ramadhan. Juga dapat ditambah dengan kalimat-kalimat motivasi yang ditempel di dinding rumah, seperti kalimat “Ahlan wasahlan ya Ramadhan”, “Puasa yes, ngerumpi no”.
Kelima, melakukan kunjungan (silaturrahim) kepada keluarga, tetangga, teman, terutama kepada kedua orang tua untuk saling memaafkan dan mendoakan.
Semoga Allah membimbing kita kaum Muslimin agar dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisaban sehingga dapat terampuni dosa-dosa kita dan meraih derajat ketakwaan. Amin.***




