Jalan Mulus Menjadi Wisata Kekinian
Oleh: Sukanda Subrata
Penulis Lepas Cirebon
Masyarakat Cirebon terutama Wilayah Timur Cirebon iri kepada wilayah Cirebon Barat yang memiliki banyak obyek wisata, baik wisata alam, wisata religius maupun wisata kuliner. Sementara di wilayah timur jumlah obyek wisata alam bisa dihitung dengan jari, di antaranya Setu Patok, Setu Sedong, Taman Kura-kura Belawa dan Bukit Maneungteung yang jumlah pengunjungnya memprihatinkan.
Sedikitnya ada tiga hal yang menyebabkan keberadaan obyek wisata tersebut bias- biasa saja.Pertama, akses ke obyek wisata masih buruk, kedua manajemennya masih amatir, ketiga anggaran dari pemerintah daerah yang kurang jelas, dan minim peran serta masyarakat sekitar.
Mengunjungi obyek wisata bagaimana merasa terhibur ketika kondisi sudah capek terlebih dahulu karena melewati jalan yang buruk.Meskipun pengunjung bisa menikmati wisata tersebut, mereka kapok dan tidak mau datang kembali.Begitu tiba di obyek wisata, banyak tidak manusiawi karena hanya menguntungkan pihak pengelola, misalnya pengunjung dilarang membawa makanan dari luar, parkir mahal, jika kendaraan hilang pengeloa tidak bertanggungjawab, kadang pengunjung diganggu oleh para pengemis dan sebagainya.Pengelola tidak memaklumi bahwa pengunjung belum tentu orang yang banyak uang, namun terpaksa karena alasan solidaritas.Belum lagi harga kuliner dan souvenirya serba mahal, termasuk parkir dan toilet.Hal-hal kecil seperti ini jangan dianggap sepele oleh pengelola obyek wisata karena bisa membuat pengunjung kecewa.
Mengelola obyek wisata harus memiliki nilai-nilai kemanusiaan, jadi tidak melulu mengeruk keuntungan finansial.Pengelola wisata harus melakukan inovasi tata kelola agar tidak membosankan pengunjung dan pengunjung bisa datang kembali.
Ketika ongkos wisata dianggap mahal apalagi kurang memuaskan pengunjung ,maka masyarakat akan mencari alternatif lain yang lebih murah dan menyenangkan.Masyarakat tinggal browser dan menemukan apa yang diinginkan. Namun kini masyarakat sudah menemukan obyek wisata baru yakni obyek wisata alam buatan yaitu wisata Jalan baru.
Benar, jalan yang lebar dengan aspal atau cor mulus apalagi berkelok – kelok menjadi pilihan bagi masyarakat untuk berwisata baru. Kini setidaknya di Wilayah Timur Cirebon ada jalan desa yang menjadi wisata baru, yakni Jalan Raya Tonjong, Kecamatan Pasaleman menuju arah Cibendung Jawa Tengah dan JUT (Jalan Usaha Tani) Pandesan, Desa Pabuaran Wetan, Kecamatana Pabuaran.
Setiap Minggu pagi hingga sore, kedua jalan tersebut ramai dikunjungi warga untuk sekedar swafoto, ngobrol-ngobrol menghirup udara segar bersama keluarga dan kolega.Para pelaku UMKM pun jeli memandang peluang tersebut dan segera membuka stand dadakan, diikuti tukang parkir.
Apalagi jalan baru Tonjong Paselaman yang suasananya masih asri karena melewati daerah perbukitan dan hutan produksi kayu putih berselang dengan tumpang sari tanaman palawija jagung menjadikan tempat yang menyenangkan bagi para pengujung. Jalan baru Tonjong melintasi Bukit Kalban dan Bukit Teletubis berubah menjadi pasar rakyat yang lumayan ramai.Di tempat ini secara praktis terjadi transaksional ekonomi penjual , pembeli dan jasa yang membuka peluang usaha serta mengurangi angka pengangguran. Aktivitas positif ini seharusnya menjadi masukan bagi pemerintah daerah untuk membuat kebijakan yang pro rakyat. Fasilitas yang sudah ada harus dikucuri anggaran pemeliharaan serta mengoptimalkan potensi alam sekitarnya.Komoditas pertanian sekitar harus terserap dengan adanya wisata jalan baru ini.
Sekiranya akses menuju obyek wisata Wilayah Timur Cirebon ini mulus ,tanpa diundangpun warga akan berdatangan untuk menikmatinya. Kita maklum bahwa masyarakat Cirebon tergolong orang yang haus akan hiburan, salah satunya berwisata. Ini merupakan modal dasar bagi pemerintah daerah untuk mendongkrak potensi PAD.***





