KDM Sidak Mendadak di Kuningan, Pastikan Bakal Jaga Gunung Ciremai dan Penjarakan Perusak Alam
kacenews.id-KUNINGAN-Bayangkan siang yang tenang di lereng Gunung Ciremai, tiba-tiba sosok yang paling dihindari oleh para perusak lingkungan, muncul tanpa peringatan, baru-baru ini. Akibatnya, menjadi hari yang mendebarkan bagi para pelaku aktivitas ilegal. Dia adalah Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM).
Tanpa sirine pengawal, tanpa sorot kamera media yang dijadwalkan, pimpinan yang viral di Indonesia tersebut melakukan “Sidak Senyap” yang langsung menghunjam ke jantung persoalan degradasi lingkungan di kaki Gunung Ciremai. Kehadirannya yang bak “hantu” bagi para oknum sehingga memicu rasa was-was bagi pihak-pihak tertentu.
Strategi sidak mendadak memang menjadi ciri khas KDM. Namun, kali ini di kaki Gunung Ciremai, intensitasnya terasa berbeda. Para pekerja di lokasi penggalian benar-benar tak berkutik. Tidak ada waktu untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Mereka mengakui kegagalan mengantisipasi kedatangan sang tokoh. “Kalau sidak, Pak Dedi Mulyadi tidak memberitahu dulu padahal biasanya suka ada yang ngabarin,” tutur seorang penggali dengan wajah pucat.
Komentar jujur tersebut justru menyingkap tabir gelap bahwa selama ini diduga ada pola “bocornya informasi” dalam penertiban lingkungan. Namun, di tangan KDM, pola itu diputus. Kedatangan yang diam-diam ini adalah pesan kuat bahwa pengawasan alam tidak bisa lagi dikompromikan.
KDM mengatakan, status sosial atau kekuatan ekonomi tidak akan menjadi tameng bagi para perusak ekosistem. Pokoknya begini saja. Siapa pun yang merusak kaki Gunung Ciremai baik yang melakukannya, mau disebut orang besar atau orang kecil, ia akan bersikap konsisten tetap melakukan tindakan. “Apa pun aktivitas kegiatan yang mengganggu ekosistem sehingga merusak ketersediaan air bersih dan meningkatkan risiko bencana alam bagi warga di wilayah bawah (downstream), maka saya akan bertindak,” tuturnya.
Pegiat Lingkungan sekaligus Inisiator Gerakan KITA, Ikhsan Marzuki menerangkan, di balik kemegahan puncaknya yang seringkali diselimuti kabut, Gunung Ciremai sedang menyimpan luka ekologis yang mendalam. Sebuah laporan ilmiah yang mengacu pada data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memicu kewaspadaan karena lebih dari separuh kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) kini dalam status terdegradasi. Temuan tersebut memecah narasi “euforia hijau” yang selama ini sering dibanggakan secara sepihak sebab berdasarkan studi mendalam yang dilakukan oleh peneliti kehutanan (Gunawan & Subiandono), kondisi hutan di atap Jawa Barat tersebut mengalami penurunan fungsi penyangga yang signifikan. Hal itu diakibatkan akumulasi kebakaran hutan yang berulang serta masifnya alih fungsi lahan di zona-zona penting. Berdasarkan data Riset BRIN, degradasi di kawasan Ciremai bukan sebatas hilangnya tutupan pohon, melainkan rusaknya sistem penyangga kehidupan yang sangat fundamental. Proses restorasi ekosistem seharusnya tidak berhenti pada aksi simbolis menanam bibit, melainkan upaya panjang untuk memulihkan keanekaragaman hayati dan siklus air yang kian terfragmentasi.
Di lapangan yang sebenarnya terjadi adalah transformasi masif dari hutan lindung menjadi area hortikultura dan pusat wisata buatan. Secara visual terlihat hijau namun secara fungsi hidrologi dan biodiversitas, itu adalah bentuk kerusakan yang terencana. Ia mencontohkan kawasan Palutungan Desa Cisantana Kecamatan Cigugur merupakan bukti nyata. Sebagai sentra sayuran historis, wilayah tersebut kini menghadapi tekanan baru akibat ekspansi bangunan komersial yang menjamur di titik-titik resapan air sehingga mengancam keseimbangan alami yang telah terjaga selama berabad-abad. Dampak dari rapuhnya “benteng alam” ini pun mulai dirasakan secara menyakitkan oleh masyarakat di kaki Gunung Cirmai. Ironi paling pedih terjadi di wilayah Kecamatan Cigugur sendiri karena meskipun secara geografis wilayah tersebut lumbung mata air bagi Kabupaten Kuningan tapi warganya mulai sering tercekik kesulitan akses air bersih. “Ibarat ayam yang mati kelaparan di dalam lumbung padi. Masyarakat yang tinggal tepat di bawah sumber air utama kini justru harus meratapi kekeringan. Ini adalah indikator paling jujur bahwa daya dukung ekologis Gunung Ciremai sedang berada dalam kondisi kritis,” katanya.(Ya)



