CirebonRaya

Liput Unras di PG Rajawali, Jurnalis Alami Intimidasi

kacenews.id-CIREBON-Sejumlah jurnalis mengalami pelarangan saat hendak meliput aksi unjuk rasa buruh petani di kawasan PT PG Rajawali, Kota Cirebon, Kamis (8/1/2026). Pelarangan tersebut disertai adu mulut hingga dugaan intimidasi oleh pihak keamanan yang mengaku sebagai aparat.

Peristiwa bermula ketika awak media mengetahui adanya pembatasan peliputan di dalam area pabrik. Untuk menghindari konflik, jurnalis kemudian mengambil gambar dari luar area perusahaan.

Namun, sejumlah petugas keamanan mendatangi dan mempertanyakan maksud serta tujuan peliputan. “Kami sudah menjelaskan secara baik-baik bahwa kami menjalankan tugas jurnalistik untuk meliput aksi buruh,” ujar Muslimin, salah satu jurnalis di lokasi.

Meski berada di area luar dan telah memberikan penjelasan, awak media tetap dilarang melakukan peliputan. Situasi kemudian memanas hingga terjadi adu argumen antara jurnalis dan pihak keamanan.

Upaya mediasi sempat dilakukan dengan melibatkan pihak PG Rajawali. Namun, mediasi tersebut gagal lantaran salah satu pihak keamanan tetap bersikeras dan menunjukkan sikap agresif. “Gesturnya seperti menantang adu fisik. Ada kesan intimidatif,” kata Muslimin.

Untuk menghindari bentrokan, sejumlah jurnalis lainnya segera melerai dan memutuskan menarik diri dari lokasi. Langkah tersebut diambil demi menjaga keselamatan dan mencegah eskalasi konflik.

Setelah awak media meninggalkan area gerbang pabrik, situasi berangsur kondusif. Tidak ada kontak fisik yang terjadi dalam insiden tersebut.

Sementara itu, dalam aksi unjuk rasa petani tebu kepada pihak PG Rajawali II berisikan tuntutan untuk menagih utang terkait tebu yang sudah dikirim oleh para petani kepada PG Jati Tujuh. Para petani tebu yang datang berasal dari wilayah Majalengka dan Indramayu.

Penanggung Jawab Aksi, Didi Tarmadi mengatakan, tuntutan para petani tak hanya menagih utang saja, melainkan juga menuntut nasib tebu yang sudah ditebang atau yang terbakar di area masing-masing petani.

“Petani juga menuntut kepastian dan kejelasan terkait kompensasi bagi tebu yang belum ditebang maupun yang sudah tapi belum keangkut,” ujarnya.

Ia pun meminta kepada PG Rajawali jika kemitraan dengan para petani dilanjutkan ke depannya maka harus jelas untuk pembayaran dan hak-hak petani lainnya.(Cimot)

Related Articles

Back to top button