Ayumajakuning

Jalan Provinsi Lumpuh Cikijing Dikepung Banjir

Sungai Cilutung dan Cisarongge meluap akibat hujan deras dengan intensitas tinggi. Ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa, merendam permukiman dan jalan utama Talaga–Cikijing.

Banjir menyisakan lumpur tebal, merusak perabot warga dan fasilitas sekolah. Pendangkalan sungai jadi pemicu banjir berulang, normalisasi dinilai belum menjadi solusi permanen.

kacenews.id-MAJALENGKA-Ratusan rumah warga serta bangunan sekolah MTs PUI Kasturi di Blok Mekarsari dan Gumuruh, Desa Kasturi dan Banjaransari, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka, terendam banjir setinggi 30 hingga 50 sentimeter, Selasa (6/1/2026) malam.
Banjir juga menggenangi ruas Jalan Talaga–Cikijing sepanjang ratusan meter dengan ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.

Peristiwa tersebut dipicu luapan Sungai Cilutung dan Sungai Cisarongge yang tidak mampu menampung debit air hujan berintensitas tinggi. Warga setempat, Beni Ibrahim, mengatakan banjir mulai terjadi sekitar pukul 16.25 WIB setelah hujan deras mengguyur kawasan sekitar Gunung Sirah. Luapan dua sungai tersebut kemudian merendam permukiman warga dalam waktu singkat.

“Di beberapa lokasi, air mencapai pinggang orang dewasa. Banjir memang cepat surut, tapi menyisakan lumpur tebal dan merendam perabotan rumah tangga,” ujar Beni.
Warga lainnya, Angguh, menyebut banjir kerap terjadi setiap musim hujan, terutama saat curah hujan tinggi. Meski sebelumnya sempat berkurang usai pengerukan sedimentasi sungai, banjir kembali terjadi akibat pendangkalan.

“Hujan hanya sekitar tiga jam, tapi intensitasnya tinggi. Lumpur yang masuk ke sekolah MTs cukup tebal, ditambah sampah plastik. Kondisinya cukup parah karena posisi sekolah berada di bawah jalan provinsi dan dekat sungai,” kata Angguh, relawan kebersihan Scout Rescue Kwarcab Majalengka, Rabu (7/1/2026).

Kapolsek Cikijing AKP Asep Rusmawan menyampaikan, luapan Sungai Cilutung merendam sejumlah wilayah di Desa Kasturi dan Banjaransari. Genangan air bahkan menutup jalur utama Cikijing–Talaga sehingga arus lalu lintas sempat tersendat.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka Agus Tamim membenarkan banjir terjadi akibat luapan sungai yang kembali mengalami pendangkalan. Menurutnya, normalisasi sungai pernah dilakukan melalui pengerukan sepanjang 3,5 kilometer dari Desa Kancana hingga Desa Panyingkiran, yang sempat menekan kejadian banjir selama beberapa tahun.

“Kemungkinan sekarang terjadi endapan dan pendangkalan dasar sungai lagi, sehingga banjir kembali terjadi,” jelas Agus.
Ia menegaskan, pengerukan sedimentasi bukan solusi permanen. Penanganan jangka panjang perlu dilakukan, di antaranya dengan memperbesar penampang sungai, membebaskan sempadan sungai sesuai lebar awal 26 meter, menjaga vegetasi di hulu, serta mencegah pembuangan sampah ke sungai.(Tat)

Related Articles

Back to top button