Banyak Destinasi Wisata Belum Tereksplorasi Maksimal, Kota Cirebon Bukan Tujuan Utama Wisatawan

kacenews.id-CIREBON-Komisi III DPRD Kota Cirebon menyoroti masih banyak potensi destinasi wisata di Kota Cirebon yang belum tergali dan dikembangkan secara optimal.
Kondisi tersebut dinilai membuat Kota Cirebon belum menjadi tujuan utama wisatawan dari luar daerah.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Cirebon, Syarifudin mengungkapkan, sebagian besar wisatawan datang ke Cirebon bukan karena destinasi wisatanya, melainkan karena tujuan lain seperti kuliner atau kunjungan keluarga. Wisata hanya menjadi pilihan tambahan.
“Misalnya orang tua menjenguk anak yang kuliah di Cirebon, daripada tidak ke mana-mana akhirnya berkunjung ke tempat wisata. Ada juga yang tujuan utamanya kuliner, wisata hanya pelengkap,” kata Syarifudin usai rapat dengar pendapat (RDP) dengan mahasiswa Institut Prima Bangsa Cirebon, Rabu (7/1/2025).
Menurutnya, kondisi tersebut cukup disayangkan mengingat Kota Cirebon memiliki banyak potensi wisata sejarah yang seharusnya bisa menjadi daya tarik utama. Namun, sejumlah lokasi bersejarah dinilai belum dikelola dengan baik.
Ia mencontohkan kawasan Gunung Sari yang memiliki nilai sejarah, termasuk sumur berusia ratusan tahun, namun pengelolaannya disebut tidak berada di bawah kendali pemerintah daerah. Selain itu, terdapat Kampung Nyi Ong Tien di kawasan Perumnas yang juga memiliki situs sumur tua dan dikelola secara swadaya oleh masyarakat.
“Intinya destinasi wisata di Kota Cirebon belum tereksplorasi dengan baik, sehingga wisata yang ditawarkan terkesan monoton dan itu-itu saja,” katanya.
Hal sama disampaikan Anggota Komisi III DPRD Kota Cirebon, Umar Stanis Klau. Ia menilai perlu adanya pembaruan dan pengembangan destinasi wisata agar mampu menarik wisatawan lebih banyak.
“Selama ini wisata Cirebon bukan tujuan utama. Ada yang datang untuk penelitian atau urusan lain. Ini karena potensi wisata belum digarap maksimal,” ujarnya.
Selain itu, Komisi III juga mencatat sejumlah keluhan pengunjung terhadap destinasi wisata yang ada, mulai dari praktik pungutan liar, harga tiket masuk yang dinilai mahal, hingga kondisi lokasi wisata yang kurang tertata dan terkesan kumuh.
RDP tersebut dihadiri mahasiswa dari mata kuliah English for Tourism Institut Prima Bangsa Cirebon.
Dosen pengampu, Cici Situmorang, menyampaikan mahasiswa ingin mengetahui peluang kolaborasi untuk pengembangan pariwisata di Kota Cirebon.
“Jumlah kunjungan wisatawan sebenarnya cukup banyak, tapi mahasiswa ingin tahu pengembangan apa yang bisa dilakukan agar kunjungan itu terus meningkat,” ujarnya.
Ia menyebutkan, wisata sejarah masih menjadi magnet utama Kota Cirebon karena keberadaan lebih dari satu keraton. Namun, pengembangannya perlu melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, masyarakat dan perguruan tinggi.(Fa)





