Ekonomi & Bisnis

Sawah di Jatitujuh Terendam Banjir, Petani Rugi Rp 7 Juta Per Hektare

kacenews.id-MAJALENGKA-Para petani di Kecamatan Jatitujuh melakukan tanam ulang setelah sawah mereka terendam banjir hingga berhari–hari, yang mengakibatkan tanaman padi mereka membusuk. Akibat kejadian tersebut petani mengalami kerugian hingga mencapai Rp 7.000.000 per hektare.
Menurut Koordinator PPL Kecamatan Jatitujuh Wahyudin, tanaman padi milik petani tidak bisa dipertahankan dan tidak mungkin bisa tumbuh lagi akibat pembusukan dibagian batang dan akar, sehingga petani terpaksa harus tanam ulang.
Sebagian dilakukan tanam secara total sebagian besar hanya mengganti tanaman yang membusuk. Namun menanami yang busuk atau istilah petani “ngayuman” jumlahnya sangat banyak, hampir setengahnya dari luas areal tanam.
Untuk tanam ulang tersebut, para petani mencari bibit ke berbagai tempat, seperti tetangga desa, tetangga kecamatan, bahkan tetangga kabupaten ke wilayah Indramayu yang jaraknya berdekatan serta bibitnya masih tersedia karena musim tanamnya tidak begitu berbeda.
“Harganya lumayan mahal mencapai Rp 5.000 per ikat, ini saya tahu persis karena saya sendiri mengalami, betapa repotnya mencari benih keliling desa di luar Kecamatan Jatitujuh, belum harus berebut dengan petani lain,” ungkap Wahyudin yang juga petani dan sawahnya ikut terendam banjir.
Benih yang diperoleh sebagian berbeda varietas, namun untuk benih asal Indramayu walaupun berbeda varietas masih terbilang bagus, soal nanti panen tidak serempak karena beda usia.
Menurut Wahyudin, hal itu soal biasa yang dialami petani, yang terpenting bagi petani bisa panen dengan hasil yang maksimal.
Diuraikan Wahyudin, nilai kerugian yang diderita para petani hingga Rp 7.000.000 per hektare, didasarkan perhitungan biaya garap, benih, biaya tanam dan pemupukan serta tanam ulang, mengingat sebagian besar sawah petani yang terendam sudah dilakukan pemupukan pertama.
“Sekarang upah tandur perempuan setengah hari sudah Rp 100,000, belum kopi dan makanan ringan, dalam satu hektare sawah pekerja tandur mencapai 20 orang, upah kerja laki–laki Rp 120.000 setengah hari diberikan rokok dan kopi serta makanan ringan, belum pupuk, benih yang harus dicari dengan harga mahal Rp 5.000 per ikat. Jumlah kerugian sekarang semoga saja terbayar oleh hasil panen dan semoga tanamannya tidak diserang hama,” papar Wahyudin.
Opik, salah seorang petani di Desa Panyingkiran menyebutkan, air di sawahnya sudah mulai turun namun beum bisa ditanam ulang. Hujan yang terus terjadi membuat sawahnya terus terendam. “Cai mah geus turun tapi mun huja deui komo badag nya kakeueum deui,” ungkapnya.
Menurut Wahyidin, sudah dua tahun terakhir pemerintah provinsi ataupun pusat belum pernah memberikan lagi Asuransi Usaha Tani padi (AUTP) yang asuransinya dibayarkan pemerintah. Biasanya setiap kecamatan diberikan kuota AUTP yang audit kerusakannya dilakukan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang pegawainya ada ditiap kabupaten.
AUTP sendiri sebuah program pemerintah untuk melindungi petani dari kerugian akibat gagal panen. Pada tahun kemarin petani sempat alami kerugian akibat serangan tikus namun tidak ada program tersebut akhirnya kerugian ditelan sendiri oleh para petani.
Padahal bagi petani klaim asuransi sebesar Rp 6.000.000 per hectare cukup berarti, dan akan mengobati hati petani yang alami kerugian karena gagal panen. “Biasanya kalau ada AUTP informasinya langsung disebar ke PPL seperti kami, sekarang sudah dua tahun todak ada asuransi bagi petani, mudah – mudahan kedepan bisa ada lagi sebagai perlindungan bagi para petani,” kata Wahyudin.(Ta)

Related Articles

Back to top button