Opini

Pergantian Tahun Dalam Dimensi Ruang dan Waktu

Oleh: Drs. D. Rusyono, M.Si.
Anggota Juang Kencana Kabupaten Kuningn

Salah satu aspek yang penting dalam perjalanan tahun adalah waktu yang di dalamnya sekaligus sebagai ruang dan waktu. Ruang menunjukkan sebagai tempat/lokasi sekaligus menunjukkan saat terjadinya suatu peristiwa. Sedangkan waktu lebih disorot secara tersendiri, karena begitu pentingnya bagi manusia dalam menjalani kehidupan, sampai Allah langsung memfirmankan dalam Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut “Demi waktu atau masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi, kecuali yang beramal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabran (QS Al-shr : 1-3)”. Demikian sampai ditegaskan bahwa manusia itu akan merugi apabila tidak bisa memanfaatkan waktu dalam kebaikan, kebenaran dan kesabaran, bahkan waktu bisa menjadi boomerang yang mencelakakan diri sendiri manakala mnusia dipermainkan waktu, sebaliknya manusia akan beruntung apbila bisa memanfaatkan waktu atau memanage waktu bagi sebesar-besar diperuntukkan dalam kebaikan.
Sedangkan ruang secara harfiah adalah ruang/tempat/wadah/kelas/bilik penyekat dan sebagainya di mana suatu peristiwa terjadi, sedangkan waktu adalah seluruh rangkaian proses atau keadaan terjadi (KBBI, 1996), sebagaimana secara konektivitas sebagai dua hal yang tidak dpat dipisahkan ruang sebagai tempat dan waktu adalah saat kejadian (Sunda “titi mangsa”).
Ruang juga merupakan sebagai tempat kejadian/peristiwa, artinya tempat menjalani kehidupan (berkaitan dengan dimensi tempat secara fisik/spatial, sedang waktu adalah menunjukkan kapan setiap rangkaian kehidupan itu terjadi secara temporal. Sebagai contoh seorang pelajar lulus ujian, maka di sekolah/lembaga pendidikan mana tempatnya dan kapan terjadinya, sehingga menjadi jelas dan nyata (Veni Rosfenti, 2020)
Secara temporal, waktu dibagi dalam tiga fase yaitu masa lalu, saat ini dan yang akan datang. Masa lalu adalah sebagai kumpulan peristiwa dan pengalaman yang sudah terjadi/terlewati, dan dapat diakses melalui ingatan/memori, misalnya kodarullah raihan pendidikan tapi tidak sesuai dengan kehendak/cita-cita itu tetap harus disyukuri dan dipahami bukan untuk disesali (Dian. MRE, 1985).
Secara fungsi, masa lalu sebgai sumber pembelajaran untuk membentuk identitas diri dan untuk tolok ukur masa kini, sedangkan masa kini adalah waktu/periode yang sedang berlangsung saat ini atau antara masa lalu dan masa depan, Jadi masa kini adalah yang dapat dirasakan saat ini bukan angan-angan atau spekulasi. Sedangkan masa depan adalah masa yang akan datang, belum terjadi, penuh potensi dan tantangan, bahkan obsesi yang belum pasti, dan juga sebagai pilihan yang disiapkan dari masa kini dan harus prospektif (direncanakan) dengan matang dan rasional serta futurolog atau perhitungan berbagai kemungkinan. Jadi pantas ada sebuah kata bijak bahwa ada dua hari yang membuat manusia tidak bisa berbuat apa-apa yaitu kemarin dan hari esok, artinya hari kemarin sudah berlalu tidak akan kembali dan hari esok atau yang belum tentu bisa diraih, yang muaranya kembali kepada tafakur diri bahwa kita tiada daya dan upaya kecuali hanya kehendak Allah semata.
Selanjutnya ruang dan waktu juga tidak bisa lepas dari kausalitas, yaitu bahwa masa kini sebagai dampak/akibat dari masa lalu, oleh karena itu dalam mengejar masa depan harus dengan semangat tapi tetap hati-hati, karena setiap langkah yang dilakukan akan mengandung dampak/risiko sesuai yang dilakukannya sebagaimana yang biasa disebut dengan sebab- akibat, artinya apapun yang kita ucapkan, lakukan dan tebarkan, maka akan menuai hasil sesuai dengan yang dilakukannya, atau dengan kata lain barang siapa menebar sebab, maka akan menuai akibat dan seterusnya.
Merujuk kepada sebuah pesan moral/religi, dan tentu kita sepakat bahwa hari esok harus lebih baik dari hari ini, dan hari ini harus lebih baik dari kemarin, karena kalau sama saja sudah merugi apalagi kalau lebih jelek itu namanya celaka.
Selanjutnya supaya pergantian tahun 2025 ke 2026 membawa keberkahan yang lebih baik, maka dalam implementasinya ada baiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Pertama awali dengan tekad, rencana dan kemauan di samping tahu dan mampu, bahwa tahun depan (2026) menjadi tahun untuk hijrah yang bersifat peningkatan dalam kebaikan, artinya harus lebih baik dari yang sudah. Kemudian niatkan dengan kuat yang disandingkan dengan hati, lakukan ikhtiar yang disertai do’a sebagai senandung harapan dengan lembut kepada Allah SWT, lalu lakukan segala apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, disertai dengan penyerahan diri secara totalitas dan ikhlas. Juga jangan lupa selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Gofur atas segala nikmat yang tiada terukur dibarengi dengan bertadabur kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta bersalawat kepada Nabi Muhammad Rasululah Saw, sehingga insyaallah nikmat akan terus semakin subur, hidup teratur tidak takabur dan kelak mendapat syafaat dari Nabi Muhammad di yaumil kiamat.
Kemudian berbuat baik jangan ditunda bahkan harus seperti berlomba (fastabikul khairat), selalu menjadi yang bermanfaat (khairunnas anfauhum linnas), serta selalu beramar ma’ruf nahyi munkar, serta tanamkan sifat sabar dalam ketaatan terlebih ketika mendapat ujian/musibah dari Allah Swt. Lalu semuanya lakukan dengan konsisten, istikomah dan berkesinambungan, bahkan sebuah pepatah bijak bahwa dalam kebaikan lebih baik sedikit tetapi sering dripada besar tetapi jarang, dan pergi ke bukit hanya mendapat ranting, daripada mendapat besar kesasar pulang, lebih baik sedikit tapi sering daripada besar tetapi jarang.
Satu hal lagi untuk melengkapi motivasi diri adalah dengan mengamalkan salah satu nasihat Nabi Muhammad Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas yang dikenal dengan “Jaga 5 Perkara Sebelum 5 Perkara”, yaitu ; 1.Muda sebelum tua (jangan menyia-nyiakan umur), 2.Sehat sebelum sakit (jangan mentang-mentang sedang sehat), 3.Kaya sebelum miskin (banyak-banyaklah berinfak/bersedekah), 4.Lapang sebelum sempit (jangan menyia-nyiakan waktu, gunakan waktu untuk ibadah dan kebaikan), dan 5.Hidup sebelum mati (mempersiapkan bekal yang memadai untuk pulang selama-lamanya), dan ingatlah selalu akan kematian, karena sebaik-baik nasihat adalah mengingat kematian. Jadi untuk urusan beribadah atau berbuat baik lainnya jangan sampai ditunda-tunda, karena menyesal tiada guna.
Akhirnya sebuah keberhasilan akan kembali kepada upaya orangnya sebagaimana diatas faktor pengetahuan, kemampuan dan kemauan akan sangat menentukan, maka biarlah 2025 berlalu dengan berbagai warna dan dinamika, yang kurang sebagai koreksi diri dan apabila masih bisa diperbiki klakukan perbaikan, kalau tidak dan akan madharat lebih baik tinggalkan dan buang saja. Yang terpenting mari persiapkan diri untuk menyambut dan mengisi tahun 2026 dengan segala harapan dan hati yang berprasangka baik, sehingga akan melahirkan berbagai kebaikan dan kemanfaatan yang diridhoi oleh Allah Swt. Awali kebaikan dari diri sendiri, dari hal kecil dan dari saat ini. sehingga pada gilirannya secara bertahap menjadi besar dan terbiasa baik secara sosial kemasyarakatan hingga bangsa dan negara. Semoga di tahun 2026 akan lebih baik dalam segalanya, Aamiin ! ***

Related Articles

Back to top button