Ayumajakuning

Gunung Ciremai Harus Dijaga dan Dimuliakan

kacenews.id-KUNINGAN-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan mengingatkan pentingnya pelestarian Gunung Ciremai sebagai kawasan yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekologi tinggi bagi masyarakat Sunda.
Peringatan tersebut disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kuningan, Rio Anto Permana Saputra, dalam refleksi kebudayaan yang menyoroti kondisi terkini kawasan Gunung Ciremai, Senin (29/12/2025).
Rio Anto menjelaskan, Gunung Ciremai sejak masa kerajaan Sunda diperlakukan sebagai wilayah yang dimuliakan dan dijaga melalui tatanan nilai serta kearifan lokal.
Menurutnya, sejumlah tokoh sejarah seperti Prabu Wiragati, Prabu Demunawan, Darma Siksa, hingga Sunan Gunung Jati dan Pangeran Kuningan, menempatkan Gunung Ciremai sebagai amanah yang harus dijaga, bukan untuk dieksploitasi.
Ia menyebutkan, pada masa lalu pemanfaatan sumber daya alam di kawasan Gunung Ciremai dilakukan dengan pembatasan ketat. Kayu jati hutan raksasa hanya digunakan untuk kepentingan peribadatan dan perahu kerajaan, sementara anggrek kuning emas yang langka hanya boleh dipetik oleh kalangan tertentu sebagai simbol penghormatan terhadap alam.
“Kita harus membangunkan kembali kesadaran kolektif. Gunung Ciremai adalah warisan yang dipelihara dengan kehormatan sejak zaman leluhur,” tuturnya.
Rio Anto juga menguraikan, perubahan besar terhadap kondisi hutan Gunung Ciremai mulai terjadi sejak masa kolonial. Penebangan kayu berskala besar oleh bangsa Portugis dan Belanda untuk kepentingan ekspor telah mengubah bentang alam hutan hujan menjadi kawasan perkebunan.
Menurutnya, tekanan terhadap kawasan Gunung Ciremai masih terus terjadi hingga saat ini, sehingga diperlukan kesadaran bersama untuk menjaga keseimbangan alam agar tidak menimbulkan dampak lanjutan berupa bencana alam.
“Jika dahulu alam dirusak oleh penjajah, apakah sekarang bangsa kita sendiri akan bertindak lebih rakus dari mereka? Pertanyaan ini menjadi tamparan bagi kita semua,” ucapnya.
Ia menambahkan, hilangnya flora dan fauna di kawasan Gunung Ciremai tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga menghilangkan jejak sejarah dan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Beberapa spesies yang memiliki nilai simbolik dalam sejarah dan tradisi lokal, seperti Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Surili Jawa, serta tanaman obat tradisional seperti temu putih dan temu ireng, disebutnya semakin sulit dijumpai.
Rio Anto juga menyinggung praktik masyarakat pada masa pemerintahan Darma Siksa yang melakukan ritual penyajian hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur atas sumber air dan hasil alam dari Gunung Ciremai. Tradisi tersebut mencerminkan pandangan bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem dan memiliki kewajiban menjaga keseimbangannya.
“Jangan menunggu hingga puncak Gunung Ciremai meledak atau akar-akarnya tercabut hanya untuk membuat kita sadar. Kesadaran penuh adalah kunci untuk menghentikan pola pikir eksploitatif yang lebih penjajah dari penjajah. Pilihan ada di tangan kita, membiarkan warisan Prabu Wiragati menjadi dongeng pengantar tidur tentang sebuah gunung yang pernah gagah. Atau bangkit menjaganya agar tetap menjadi sumber kehidupan bagi anak cucu nanti,” ujarnya.(Ya)

Related Articles

Back to top button