Dipicu Melemahnya Daya Beli Masyarakat dan Cuaca Buruk, Omzet Pedagang Pasar Sindangkasih Turun
kacenews.id-MAJALENGKA-Sejumlah pedagang di Pasar Sindangkasih, Kabupaten Majalengka, mengeluhkan turunnya omzet penjualan dalam beberapa waktu terakhir. Lesunya aktivitas jual beli ini diduga dipicu melemahnya daya beli masyarakat akibat melonjaknya harga sejumlah komoditas serta fluktuasi harga yang dipengaruhi cuaca buruk.
Dede, pedagang sayuran di Pasar Sindangkasih, mengungkapkan omzet dagangannya turun hingga sekitar setengah dari kondisi normal. Menurutnya, harga yang tidak stabil, terutama pada komoditas cabai, mentimun, wortel, dan kentang, yang sebagian besar dipasok dari petani lokal Majalengka menjadi penyebab utama menurunnya minat beli masyarakat.
“Cengek domba ayeuna Rp 100.000 sakilo, biasana seep kana 3 kilo ayeuna mah ukur 1,5 kilo, nusanesna ge ngirangan, sayuran mah ngaraja,” ungkap Dede.
Kondisi serupa juga dirasakan pedagang ayam ras dan telur. Mereka mengaku penjualan semakin lesu sehingga harus berjualan hingga siang hari. Padahal, pada hari-hari biasa mereka sudah bisa menutup lapak sekitar pukul 09.00 WIB atau paling lambat pukul 11.00 WIB.
Bahkan, pedagang daging sapi dan daging kambing terpaksa bertahan berjualan hingga menjelang sore hari, sekitar pukul 14.30 WIB, dengan harapan masih ada pembeli yang datang ke pasar.
Pegawai Pasar Sindangkasih, Ikhsad, membenarkan banyaknya keluhan dari para pedagang terkait turunnya omzet. Menurutnya, kondisi tersebut diduga kuat disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat seiring fluktuasi harga hampir seluruh komoditas di pasar.
“Sepinya pembeli tidak hanya dirasakan pedagang daging dan telur serta sayuran, namun juga pegadang ikan asin, malah ada beberapa pedagang emprakan yang biasanya berjualan kini tidak pernah terlihat lagi karena berhenti berdagang. Ini tidak hanya satu dua orang namun diperkirakan ada beberapa pedagang, ada juga yang berhenti kemudian berjualan lagi begitu seterusnya,” ungkapnya.
Ikhsad menambahkan, saat ini sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Cabai rawit merah atau cengek domba, misalnya, mencapai harga Rp 100.000 per kilogram, cabai merah beauty Rp 80.000 per kilogram, sementara harga bawang merah sudah cukup lama bertahan di angka Rp 60.000 per kilogram.
“Informasinya mahalnya harga bawang merah dipicu oleh cuaca buruk, tanaman bawang kebanjiran sehingga suplai ke pasar pun berkurang. Ini yang menyebabkan melonjaknya harga bawang merah,” ungkap Ikhsad.
Selain itu, bawang merah yang masuk ke pasar saat ini sebagian besar berukuran kecil. Jika tersedia bawang berukuran besar, harganya pun relatif lebih tinggi.
Sementara itu, Ikhsad menyebut harga ayam ras menjelang akhir tahun mengalami kenaikan hingga mendekati momen Lebaran, yakni sekitar Rp 45.000 per kilogram. Harga telur pun mencapai Rp 30.000 per kilogram. Padahal, pada kondisi normal, harga ayam ras berkisar Rp38.000 hingga Rp39.000 per kilogram, sedangkan telur sekitar Rp 26.000 per kilogram.
“Ini dipicu juga oleh akhir tahun, Natal dan Tahun Baru. Harga baru akan turun kembali setelah usai tahun baru di tanggal 4 atau 5 Januari, mudah-mudahan nanti bisa normal kembali, omzet pedagang juga bisa naik lagi, daya beli masyarakat naik lagi,” katanya.(Ta)



