Petani Jagung Pilih Tengkulak, Proses Penjualan Mudah Tanpa Syarat dan Dibayar Tunai
kacenews.id-MAJALENGKA-Sebagian besar petani jagung di Kabupaten Majalengka lebih memilih menjual hasil panennya kepada tengkulak ketimbang ke Perum Bulog. Alasannya, proses penjualan ke tengkulak dinilai lebih mudah, tidak banyak persyaratan, dan pembayaran bisa diterima secara tunai.
Sementara itu, Bulog memberlakukan sejumlah ketentuan bagi petani yang ingin menjual jagungnya. Di antaranya, kadar air jagung maksimal 14 persen, harga pembelian sebesar Rp 6.400 per kilogram diterima di gudang Bulog, serta pembayaran dilakukan melalui rekening dengan waktu tunggu beberapa hari.
Yuyun, petani asal Desa Cicurug, Kecamatan Majalengka, yang baru selesai panen di lahan seluas sekitar 2,5 hektare pada Rabu (29/10/2025), mengaku langsung menjual jagungnya kepada bandar asal Sindangkasih. Begitu jagungnya kering, ia segera memanggil bandar ke lokasi penjemuran untuk menimbang dan membeli hasil panennya.
“Bandar jagung bisa datang kapan saja, dan harga jualnya juga mengikuti harga pasar yang sekarang mencapai Rp 6.400 per kilogram. Bulog juga membeli dengan harga sama, tapi belum tentu cepat datang dan uangnya tidak langsung diterima karena harus lewat rekening dan menunggu beberapa hari,” ungkap Yuyun.
Menurutnya, proses di Bulog juga lebih ketat karena kadar air jagung harus benar-benar kering, sementara kondisi cuaca yang kerap hujan membuat proses penjemuran sulit dilakukan.
“Minggu kemarin sodara menjual jagung ke Bulog, tidak semua diterima karena harus sangat kering. Sekarang setiap hari hujan terus, paling bisa menjemur setengah hari, itu juga belum tentu terik,” tambahnya.
Yuyun mengaku menjual sekitar 19 ton jagung ke bandar yang datang langsung ke sawah. Ia tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk ongkos angkut karena semua ditanggung pembeli.
Hal serupa juga dilakukan oleh Husain dan Ading, petani asal Desa Nunuk. Mereka menjual jagung ke bandar setempat dengan harga Rp6.300 per kilogram, yang menurut mereka sudah cukup menguntungkan.
“Bulog tidak sampai ke desa kami. Lagi pula kami dapat modal dari bandar, mulai bibit hingga pupuk. Sementara kami menjual tetap disesuaikan dengan harga pasar yang berlaku sekarang,” kata Ading.
Sementara itu, Wawan, salah seorang bandar jagung di Kelurahan Sindangkasih, mengakui bahwa ia membeli jagung petani tanpa syarat ketat. Baik jagung pipilan basah maupun kering tetap diterima, dengan harga menyesuaikan kondisi pasar.
“Ini saja jagung yang saya beli sekarang bijinya kurang bagus karena varietasnya kurang baik, kadar airnya juga antara 18 sampai 19 persen. Tapi tetap saya beli dengan harga Rp 6.400 per kilogram,” jelasnya.
Ia menambahkan, jagung dengan kadar air tinggi langsung dikirim ke pabrik pakan ternak di Cirebon karena ia tidak memiliki mesin pengering.
“Kalau Bulog dan pabrik mah punya mesin pengering, kalau saya tidak punya, makanya jagung basah seperti ini langsung dijual ke Cirebon. Kebetulan di gudang juga ada stok, jadi sekalian diangkut,” ungkap Wawan.(Tat)



