Finansial

Kisah Perwira Penjaga Sumur Tua: Energi yang Menjaga Negeri

DI Sumur Pengeboran Minyak Randegan

Oleh Jejep Falahul Alam-Kabar Cirebon

DI sumur pengeboran minyak Randegan Desa Bongas Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka Jawa Barat, malam tak benar-benar sunyi. Gemuruh mesin tua yang berdentum pelan seolah menjadi pengingat bahwa di perut bumi masih mengalirkan energi.

Lampu di setiap sudut sumur tetap berkelip di tengah kabut, seolah menjadi lentera kecil yang menolak padam. Di antara pipa baja dan tanah yang bergetar, seorang lelaki berjaket biru berdiri memantau tekanan monitor.

Ia bernama Yayat Hidayat, pengawas lapangan PT Pertamina EP Zona 7, Jatibarang Field. Dirinya sudah hampir dua dekade hidup berdampingan dengan suara mesin dan minyak mentah.

“Kalau semua orang bisa patuh terhadap aturan seperti HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) itu salah satu pekerjaan yang terbaik,” katanya mengawali kisahnya.

Bagi Yayat, keselamatan bukan hanya sekadar aturan dari perusahaan, tapi soal hati dan tanggung jawab yang harus terpatri dalam jiwa.

Terlebih di Sumur Randegan yang merupakan sumber minyak tua, peninggalan masa kolonial Belanda. Kepatuhan terhadap aturan mutlak dilaksanakan. Total dari 59 sumur minyak yang ada, hanya delapan sumur yang dieksplorasi.

Produksi rata-ratanya berkisar antara 1.000–1.500 barel likuid per hari. Kendati kecil perolehannya, tapi bermakna besar bagi ketahanan energi nasional.

Terlepas dari semua itu, namun yang menantang dari sumur tua ini, yakni menjaga keselamatan di tengah keterbatasan fasilitas dan medan yang sangat berat. Situasi itu dipahami betul oleh Yayat, sebab satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.

Karena itu, setiap hari ia memulai tugas dengan Tail Gate Meeting-pertemuan singkat yang mengungkapkan satu hal, keselamatan itu bukan beban, tapi harus dijadikan sebagai budaya yang melekat.

“Jika kami temukan rekan kami terlihat lelah, kami hentikan untuk kerja. Termasuk yang lalai maupun yang keliru kami selalu ingatkan. Lebih baik rugi waktu atau berselisih daripada kehilangan nyawa,” ujar Yayat mengingatkan.

Bagi Yayat maupun para Perwira lainnya – sebutan untuk para pekerja Pertamina, di mana “Perwira” itu singkatan dari Pertamina Wira.

Menyebut bahwa HSSE maupun program PEKA (Pengamatan Keselamatan Kerja) bukanlah hal yang rumit. Tapi melainkan cara mencegah dari hal-hal yang tidak diharapkan di tengah risiko eksplorasi migas.

Diam Jadi Peduli
Budaya keselamatan di lapangan bukan tumbuh begitu saja. Ada proses panjang hingga akhirnya para perwira terbiasa saling menegur.

Sebab dulu, menegur rekan Perwira menurutnya dianggap tak sopan. Namun sekarang, diam justru dianggap sangat berbahaya.

Sikap ini, berkat penerapan PEKA, yang mendorong setiap Perwira untuk saling memperingatkan jika terjadi kelalaian maupun melihat potensi bahaya.

“PEKA itu sederhana, ya kalau lihat bahaya segera lapor. Kalau lihat rekan lalai, harus diingatkan, itu hukumnya wajib,” ujar Yayat menegaskan.

Sehingga, laporan yang dulu dilakukan secara manual, kini melalui aplikasi PEP Fast, untuk memudahkan dan mempercepat proses pelaporan yang terintegrasi.

Sehingga sekecil apa pun informasi, hal itu sebagai langkah guna mencegah kecelakaan. “Satu laporan kecil bisa menyelamatkan banyak nyawa,” ujarnya.

Maka dari itu, menurut Yayat, keberanian menegur itu bentuk dari cinta dan kasih sayang. Karena di lokasi pengeboran minyak itu, peduli berarti melindungi antar sesama.

Garis Merah

Selain PEKA, setiap Perwira yang wajib menaati Corporate Life Saving Rules (CLSR), sepuluh aturan keselamatan utama dalam operasi migas.

Mulai dari itu penggunaan alat pelindung diri, izin kerja aman, hingga prosedur tanggap darurat, dan lainnya. Semua dijalankan tanpa kompromi.

“CLSR itu garis merah. Sekali dilanggar, risikonya itu dapat mempertaruhkan nyawa,” kata Yayat.

Terlebih, ia punya pengalaman cukup meneganggakan saat satu malam, alarm tekanan mendadak berbunyi. Tim Perwira pun segera berlari berhamburan, menghentikan operasi, dan memeriksa setiap katup maupun sambungan pipa.

“Kejadian itu luar biasa. Kami butuh dua jam untuk memastikan semua berjalan aman. Tapi alhamdulillah kami tidak ada yang panik, tetap tenang, tidak ada pula yang menunda. Semua bergerak cepat. Karena kami sadar, di dunia migas itu, satu detik saja terlambat, itu antara hidup atau mati,” paparnya.

Benteng Keselamatan Bersama

Sementara itu, menurut data Direktorat Teknik dan Lingkungan Migas Kementerian ESDM (2024), terdapat 99 kasus kecelakaan di sektor migas yakni 75 di hulu dan 24 di hilir dan hanya ada 6 kasus yang berujung fatal. Faktor manusia menjadi penyebab tertinggi, mencapai 85,9 persen.

Bagi Yayat sendiri, data itu bukan hanya sekadar angka, tapi sebuah peringatan bersama. “Satu angka di laporan, itu satu keluarga bisa kehilangan cahaya di rumahnya,” katanya lirih.

Karena itu, pengeboran minyak di Randegan, bukan sekadar sumur minyak, melainkan benteng kesadaran, dimana tempat nilai keselamatan hidup dan tumbuh bersama, di antara manusia dan mesin.

Malam Tanpa Tidur

Sebagai pengawas lapangan, Yayat mengaku pernah berjaga hingga dini hari. Tekanan pipa, suhu tangki, alarm sensor, semua itu harus dipantau dan di monitor.

“Kadang di sela sela sibuk bekerja, saya pun merindukan keluarga di rumah, tapi tanggung jawab di sumur jauh lebih besar dari rasa lelah maupun semuanya,”ujarnya.

Kendati demikian, saat waktu istirahat, ia pun menghubungi keluarganya dengan melakukan video call bersama anak dan istrinya. Saat melepas rindu di ponselnya itu, anaknya yang kecil pernah bertanya, “Ayah kerja apa sih, sampai malam terus?” katanya menirukan anak lelaki bungsunya yang masih polos.

Yayat pun terdiam sejenak, lalu dirinya pun menjawab. “Ayah jaga (minyak) energi ini agar terus mengalir untuk kepentingan kemaslahatan bersama,” katanya.

Jawaban itu pun katanya membuat matanya berkaca kaca. Karena ia sadar, pekerjaannya tak selalu terlihat, penuh resiko, tapi hasilnya dapat dirasakan jutaan orang.

“Itu mungkin kisah dan pengalaman yang saya dapat bagikan. Yang pasti, suka dan duka di setiap profesi pasti ada,” pungkasnya.

Tentunya kisah Yayat di atas, hanyalah satu dari ribuan Perwira Pertamina di seluruh penjuru negeri. Mereka bekerja dalam senyap, menjaga aliran energi agar tetap hidup, meski tak banyak yang tahu, tentang pengabdian dan pengorbanannya mempertaruhkan jiwa dan raganya.***

Related Articles

Back to top button