Pondasi Peradaban
Oleh: Angga Putra Mahardika
Mahasiswa KPI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Pustakawan, sebuah profesi yang kurang diminati masyarakat. Apa enaknya jadi pustakawan? Hanya membenarkan letak buku, mencatat buku masuk-keluar, menjaga perpustakaan tetap hening. Bukankah pekerjaan semacam itu membosankan, alangkah lebih baik menjadi pejabat atau direktur perusahaan. Gaji tinggi, dapat status sosial, rasa manusia setengah dewa.
Tetapi, begitulah Pustakawan dipandang, mereka bukan bekerja demi popularitas, juga uang dan emas.
Pustakawan adalah pekerjaan yang tidak populer, sebagaimana membosankannya perpustakaan. Hanya menyajikan buku keluaran lama, yang sudah dibaca oleh kakek kita kala berumur 9 tahun. Kesepiannya mereka? Rendahnya mereka di mata masyarakat? Atau pekerjaan orang putus asa? Jadi apa yang sebenarnya mesti kita ingat dan ketahui tentang pustakawan?
Mari sejenak berhenti dari sosial media, menutup pikiran yang berkecamuk, dan menata ulang akal kita tentang mereka: sebenarnya apa arti menjadi Pustakawan. Apakah hanya idealisme atau profesi tanpa gengsi? Bagaimana kalau penulis bilang bahwa Pustakawan, ternyata adalah semen dan batu atas peradaban yang kita nikmati hari ini. Mulai refleksikan dengan kegiatan kita masing-masing, bangun pagi, sarapan dan pergi bekerja.
Siang sampai sore, kita sibuk menyelesaikan pekerjaan dan pulang ke rumah. Membawa persoalan yang memusingkan yang harus segera dipecahkan. Malam hari, waktu untuk keluarga dan beristirahat, tidak jarang ada yang tetap menatap laptop sampai dini hari.
Kalau kita pikirkan, nyatanya belum ada dampak Pustakawan untuk hidup masyarakat awam. Kecuali kehidupan akademisi, universitas, yang mana membutuhkan buku-buku dan wajar saja mereka membutuhkan pustakawan. Kemudian, apakah tugas seorang pustakawan itu sangat eksklusif? Hanya dalam lingkup pendidikan saja.
Coba kita refleksikan lagi lebih jauh, tidak sekadar bangun pagi, makan siang, dan rehat. Kita visualisasi hingga besok dan waktu yang tidak bisa kita bayangkan. Matahari terbit, Anda berangkat bekerja menjadi sales–misalnya. Target normal Anda satu hari terjual 10 produk, dan Anda dalam 1 hari berhasil menjual 30 produk. Pastilah Anda dipuji atasan, gaji dinaikkan, target meningkat, satu hari 20 produk. Ternyata Anda tetap berhasil menjual di atas target. 40 dalam satu hari.
Bos Anda penasaran, Anda menceritakan apa yang telah terjadi. Bersama sekretaris dan bagian marketing mencatat tindakan dan ucapan Anda dalam menjual.
Beberapa bulan setelah itu, strategi Anda diterapkan ke semua sales dan berhasil. Semua sales mengalami peningkatan penjualan secara bertahap. Sedikit demi sedikit perusahaan Anda semakin terkenal; mulai datang banyak wartawan atau ilmuwan marketing ke kantor, guna menganalisis, kiranya apa yang perusahaan Anda lakukan hingga bisa seperti ini.
Wartawan mencatat, ilmuwan meneliti, ternyata formulanya adalah mendengarkan konsumen dan membangun kedekatan emosional. Langsung beberapa tahun setelahnya, terbit sebuah buku yang revolusioner. Cara Anda berjualan, kini dikenal dunia. Pertanyaannya, dimana pengaruh Pustakawan?
Saat buku Anda mendunia, dibedah pelbagai forum-forum diskusi ekonomi, menjadi bahan kajian riset atau diktat kuliah; inilah waktunya pustakawan bekerja. Mereka mengumpulkan berkas dan dokumen pendukung mengenai apa saja yang menyangkut soal ilmu pengetahuan. Tanpa pustakawan, mungkin saja tidak ada yang tahu bagaimana Anda dapat sukses berjualan. Fungsi tersebut yang paling fundamental dalam profesi ini: penyimpanan dan pengarsipan dokumen.
Tidak sampai di situ saja, bila Anda ingin membuat cara baru dalam berjualan, itu juga bagian dari tugas pustakawan guna mencatat hal-hal yang berkaitan dengan informasi yang sudah di arsip. Menyimpan, mengatur, memberikan layanan saat anak atau saudara Anda ingin mengakses sebuah informasi. Sebab jika informasi penting tidak disebarluaskan, maka yang mendapat manfaat adalah hanya itu-itu saja. Semua orang dapat melihat cara Anda berjualan dan membangun peradaban dari sana.
Bayangkan kalau tidak ada pustakawan, mungkin saja peradaban akan stagnan di tahun 900 SM–zaman Mesopotamia. Anda sudah tahu kebermanfaatan dari profesi ini, dan pekerjaaan ini tidak bisa dipandang sebelah mata–karena mereka merupakan pondasi peradaban.
Sayangnya zaman terus berubah. Dokumen dan berkas yang kita kenal, mulai beralih ke file, ebook, data, dan repositori sebab pengaruh teknologi digital. Kalau pustakawan tidak beradaptasi, ilmu pengetahuan akan tertinggal. Semua dokumen harus dialih bentuk kan ke PDF (portable document file); sehingga kini yang dapat mengakses informasi tidak hanya satu negara, melainkan satu dunia.
Kita bisa mengenal budaya Afrika tanpa usah ke sana. Kita ternyata mengalami kesamaan budaya di beberapa negara seperti Malaysia, Thailand, serta Madagaskar. Semua itu berkat informasi yang mudah diakses; tiada lain tiada bukan karena pekerjaan ini. Andai saja pustakawan malas memindahkan dokumen-berkas, penulis yakin kita akan tertinggal dari negara lain. Pula yang dapat melihat pengetahuan hanya si kaya, pemilik kuasa, atau orang menengah yang menabung mati-matian.
Sekarang kita masih membahas soal kehidupan sehari-hari. Dunia pendidikan yang sedari awal mengandalkan pustakawan justru berkembang pesat. Kita dapat membaca diktat Emile Durkheim tanpa harus ke Harvard. Dapat meneliti Principia Mathematica dengan gratis, tanpa beli tiket pesawat terbang. Tidak jarang vidio-video zaman dulu juga bisa kita putar tanpa harus pitanya terbakar. Semua itu karena mereka, yang rela menghirup udara penuh debu-debu buku. Yang rela berada di ruangan seharian untuk mencocokkan naskah-naskah kuno. Itu semua demi kita, demi manusia, dan demi masa depan.
7 Juli 2025 adalah hari untuk para Pustakawan dirayakan. Mari sejenak kita menutup mata, menundukkan kepala dan bersimpati; pada semua pustakawan yang ada di dunia. Mereka layak dihormati sebagaimana jendral mengatur formasi gerilya. Mereka berhak dihargai seperti dokter yang menyelamatkan ratusan nyawa. Penyebab tentara dan dokter dapat melaksanakan tugas, karena bakti dan usaha Pustakawan yang selalu sabar, tabah, dan mengabdi pada ilmu pengetahuan; walau kadang dunia memandang rendah mereka dan mengabaikannya–seperti hal biasa.***





